
"Kamu mau apa ke sini?" tanya Kirana malu-malu.
Iqbal tersenyum lalu meletakkan kotak kecil di atas meja.
Kirana hanya melirik sekilas, tak ingin tergiur dengan apapun yang dibawa pria itu, termasuk kue yang sudah di bawa ke belakang oleh bu Nuri.
"Aku rasa kamu sudah tahu," ucap Iqbal basa-basi.
Iqbal membukanya dan lebih mendekatkan lagi pada Kirana. Ia berharap akan mendapat respon positif dari gadis tersebut.
"Apa itu?" Kirana pura-pura tidak tahu, tak mau besar kepala dulu, takut itu adalah jebakan Iqbal. Sebagai gadis sederhana tak mau muluk mendapatkan pria tampan dan kaya. Ia hanya ingin yang setia dan tidak membandingkannya dengan wanita lain, itu sudah cukup.
"Ini artinya aku melamarmu."
Deg deg deg
Jantung Kirana berdegup dengan kencang. Ini pertama kalinya ada seorang pria yang melamarnya. Sebab, selama ini ia membatasi setiap pria yang ingin dekat dengannya, bahkan ia menolak mereka secara langsung jika hanya ingin bermain-main.
Keringat dingin bercucuran. Kirana semakin gugup dan tak berani menatap wajah Iqbal. Tak menyangka pertemuan pertamanya yang menjengkelkan itu menjadi jembatan dan membawa pada hubungan yang serius.
"Tapi aku bukan perempuan yang cantik dan kaya, aku hanya pelayan." Kirana kembali menjelaskan tentang dirinya yang jauh dari kata mewah dan glamor.
Ia hanya gadis biasa yang setiap harinya mengais rejeki dari tempat orang.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Apa bedanya dengan mereka yang bermewah mewahan tapi memakai uang orang tuanya. Sama saja."
Kirana mencoba untuk tenang. Pilihan ada di tangannya, karena bu Nuri sepenuhnya percaya, apapun keputusan yang diambil, sang ibu pun tidak pernah memberatkannya.
Perkenalan mereka sudah lumayan lama, meskipun Kirana cuek, Iqbal sudah mencari tahu tentang gadis itu melalui sahabat-sahabatnya.
Bagaimana ini, mungkin Zahra bisa memberi solusi.
"Aku ke kamar sebentar, nanti balik lagi."
Setelah mendapat anggukan, Kirana meninggalkan Iqbal. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Zahra yang mungkin bisa memberikan pendapat.
"Assalamualaikum, Ki," sapa Zahra lembut, "tumben kamu menelponku?" imbuhnya.
Kirana menjawab salam dengan suara lirih. Ia masih ragu untuk bertanya, tapi harus pada siapa lagi kalau bukan Zahra.
"Mas Iqbal ada di rumahku, Ra," tutur Kirana pelan, takut Iqbal bisa mendengar percakapannya dengan Zahra.
Zahra langsung memberitahu Aidin tentang itu.
"Mau apa dia ke rumahmu? Apa ada masalah yang penting?" Zahra mengalihkan ponselnya ke mode loudspeaker hingga sang suami bisa mendengar percakapannya.
__ADS_1
"Dia mau melamarku. Menurutmu bagaimana?" tanya Kirana serius, ia benar-benar membutuhkan bantuan orang lain.
"Aku tidak bisa menjawab, karena ini masalah hati. Orang yang kamu cintai belum tentu aku merasakan hal yang sama pada dia. Tapi, kalau menurutku, Mas Iqbal itu baik. Dia tidak neko-neko."
"Kamu tahu dari mana?" sergah Kirana.
"Mas Iqbal pernah menjagaku saat hamil."
Kirana tak mempermasalahkan itu, namun ada seseorang yang merasa tersentil dengan ucapan Zahra.
Aidin yang dari tadi mengusap perut Zahra menghentikan aktivitasnya. Hatinya nyeri bak terhimpit batu. Ia yang mati-matian mencari pun tak menemukan, namun Zahra mengatakan dengan jelas bahwa pria itu yang menjaganya.
"Sekarang ikuti kata hatimu."
Kirana memutus sambungannya. Kini ia yakin bahwa apa yang dikatakan Zahra benar. Mengikuti kata hati akan lebih baik. Ia keluar dan kembali duduk di tempat semula.
"Bagaimana? Apa kamu mau menerima lamaranku?"
Mendengar pertanyaan itu lagi membuat bu Nuri mengintip di balik lemari. Ia penasaran dengan jawaban Kirana.
"Aku terima," jawab Kirana dengan lugas. Mengusir keraguan yang tadi memenuhi dadanya, berharap ini adalah keputusan yang terbaik untuk kedepannya nanti.
Tidak hanya Iqbal yang bahagia karena jawaban itu. Bu Nuri pun meneteskan air mata. Setelah sekian lama berharap penuh Kirana mendapatkan jodoh akhirnya saat itu pun tiba. Doanya terkabul.
"Itu artinya mulai detik ini kamu resmi menjadi tunanganku." Iqbal memperjelas lagi ucapan Kirana.
"Apa kamu ingin memakai cincin dariku?" tanya Iqbal. "Maaf, sebenarnya ini hanya simbol, besok aku akan membawa orang tuaku ke sini."
"Nanti aku bisa memakainya sendiri." Kirana meremas ujung bajunya. Sungguh, Iqbal membuatnya tersipu dengan sikapnya.
Di sisi lain
Zahra memeluk tubuh Aidin yang memunggunginya. Tiba-tiba saja pria itu terdiam setelah Zahra menerima telepon dari Kirana.
"Kamu kenapa?" Zahra mencium punggung sang suami. Menautkan jemarinya di jemari pria itu.
Aidin membalikkan badan hingga keduanya saling tatap.
"Ternyata mama Delia benar, kalau aku ini memang tidak berguna dan tidak pantas untukmu."
Dada Zahra terasa sesak mendengar itu. Ia meraba ucapan apa yang membuat Aidin merendah.
"Lalu siapa yang pantas untukku?" Zahra balik tanya. "Katakan, Mas! Siapa?" Ia semakin mendesak Aidin untuk menjawab pertanyaannya.
"Itu artinya kamu menentang jodoh dari Allah," imbuhnya.
__ADS_1
Aidin tersenyum kemudian mengecup kening Zahra.
"Aku tidak menentang. Aku hanya merasa tak berguna karena tidak bisa menjagamu saat hamil Zea."
"Itu karena mama yang melarang. Jadi jangan dibahas lagi. Sekarang jagalah aku dan Zea siang malam, kalau perlu jangan tidur," cetus Zahra kesal.
Awwww
Disaat keduanya tenggelam dalam candaan, tiba-tiba saja Zahra merasakan sakit di bagian perut. Ia mencengkeram lengan Aidin yang ada di sampingnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Aidin panik melihat Zahra yang terus meringis.
"Perutku sakit, Mas," keluhnya menggigit bibir bawah.
Aidin mengangkat tubuh Zahra dan membawanya keluar. Memanggil pak Agus untuk menyiapkan mobil.
"Bapak jaga rumah, aku akan ke rumah sakit," ucapnya setelah mendudukkan Zahra di jok depan.
Hampir lima belas menit membelah jalanan, Zahra sedikit tenang. Rasa sakit yang tadi menyeruak mendadak hilang dengan sendirinya.
"Pelan-pelan, Mas!" Zahra mengusap perutnya.
Kok gak sakit lagi?
Zahra bingung. Ia meminta Aidin untuk tidak panik lagi.
"Aku gak mau terjadi apa-apa dengan bayi kita." Aidin melajukan dengan mobilnya dengan kecepatan rendah seperti permintaan sang istri.
"Tapi sekarang gak sakit lagi, Mas," ungkapnya.
"Beneran?" tanya Aidin memastikan.
Zahra mengangguk yang mana membuat Aidin lega.
"Tapi tetap saja harus periksa." Aidin terus melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.
Meskipun Zahra tak merasakan sakit ia khawatir terjadi sesuatu dengan bayinya.
"Gak usah, kita jalan-jalan saja. Aku pingin makan bakso sambil minum es kelapa muda, segar tu."
Aidin berbalik arah, karena ia tahu tempat yang indah untuk memenuhi keinginan sang istri.
Hampir tiga puluh menit, Aidin sudah tiba ditempat tujuan. Baru saja turun, mata Zahra sudah di manjakan pemandangan yang begitu indah.
Aidin memakaikan jaket untuk Zahra sebelum mereka duduk di tepi pantai. Aidin memesan bakso dan es kelapa muda seperti keinginan sang istri.
__ADS_1
Layaknya pasangan yang lain, mereka terlihat sangat mesra.