Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Zada Kamila


__ADS_3

Samar-samar kembali dalam memori Aidin. Rintihan Zahra dan tangisannya, bahkan air mata yang terus membanjiri pipinya, menjadi tanda rasa sakit yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. 


Satu tahun yang lalu di tempat yang berbeda, namun dalam keadaan yang sama, Aidin dilanda ketakutan. Ya, rasa takut luar biasa saat ia melihat darah yang terus mengalir darah dari bawah sana.


Pertanda jika istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati. 


Jika dulu ia hanya bisa memberi semangat lewat genggaman tangan erat, kini Aidin terus berbisik di telinga Zahra. Bisa lebih leluasa mencium wanita itu tanpa rasa ragu. 


"Bagaimana kalau aku tidak selamat?" 


Seketika sekujur tubuh Aidin membeku dengan kepala menggeleng. Ucapan Zahra seolah-olah adalah tusukan baginya, yang itu artinya ia akan mati lebih dulu sebelum wanita itu menghembuskan napas terakhir. 


"Kamu tidak boleh bicara apapun, Sayang." Mengusap kening Zahra yang dipenuhi peluh. 


Menenangkan, walaupun ia sendiri sangat gelisah yang tak berujung.


Ada dokter Alfa yang mulai memakai sarung tangan. Itu artinya siap untuk menangani pasien. Mereka mulai serius saat salah satu suster mengatakan sudah pembukaan sepuluh. 


Detik-detik yang menegangkan bagi Aidin sekaligus Zahra. Mereka bahagia juga takut akan hal buruk menimpa. 


Terus berdoa yang terbaik untuk ibu dan bayinya. 


Di luar ruangan


Adinata pun sama, sebagai seorang ayah ia cemas dengan keadaan Zahra. Ia hanya bisa berdoa dan menunggu kabar baik dari dalam. 


Richard datang dan menanyakan kondisi Zahra lalu menunggu bersama mereka. 


"Jangan bilang pada siapapun," pesan Adinata pada sang sekretaris. 


Berbeda dengan Adinata dan Sesi yang duduk di kursi besi. Richard berdiri dengan punggung yang bersandar di dinding, sesekali memegang ponselnya yang berdering. Ternyata itu pesan dari Rima yang juga menanyakan kabar Zahra. 


"Ternyata bayimu besar banget, Din," ucap Dokter Alfa. 


Itu tidak berpengaruh apa-apa bagi Aidin, karena saat ini tidak ada yang penting selain nafas Zahra yang masih berhembus. 


"Buka mata kamu, Sayang." Aidin kembali mengingatkan Zahra yang dari tadi memejamkan matanya. 


"Aku gak kuat, Mas," ucapnya merengek. 


Berbeda saat melahirkan Zea, kali ini benar kata dokter Alfa, bayi itu seperti nyangkut di dalam, bahkan beberapa kali mengejan tak berhasil juga membuat Zahra pasrah.


"Bagaimana kalau di operasi?" saran Aidin.


Dokter Alfa berdecak kesal, Aidin itu memang tidak pintar dalam hal seperti ini. Otaknya minim dan tak bisa diajak kompromi, hanya merepotkan tim Medis saja. 


"Kamu diam saja, karena omonganmu tidak dibutuhkan," cetus dokter Alfa lagi. 

__ADS_1


"Ayo, Za! Kamu pasti bisa." 


Zahra membuka mata. 


Ada tiga wanita yang terus melintas dan mendorongnya untuk lebih kuat. Seolah-olah ada di sisinya saat ini, yaitu Delia, Sesi dan Bu Lilian. Mereka yang sudah sukses melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. 


Zahra menautkan jemarinya di jemari Aidin kuat-kuat. Mengerahkan seluruh tenaganya mengikuti instruksi dari dokter Alfa. 


Setelah berapa kali, akhirnya suara tangis bayi itu menggema memenuhi ruangan. 


Aidin langsung mencium setiap jengkal wajah Zahra tanpa sisa. Mengurai rasa bahagia bercampur sedih melihat istrinya tak berdaya. 


"Bayi Anda perempuan, Tuan." Suster meletakkan bayi mungil itu di dada Sang ibu. 


Selama USG, Zahra memang melarang dokter Alfa untuk mengatakan jenis kelamin anaknya, dan ini adalah kejutan bagi mereka. 


"Selamat putri papa." Mencium kening bayi nya yang masih sibuk mencari makanannya. 


Menatap intens bayinya yang mirip sekali dengan Zahra dan Zea. 


Zahra terdiam, ia mengatur nafasnya yang terengah-engah. 


Usai mengadzani putrinya, Aidin menghampiri Zahra. Menciumnya lagi seperti yang ia lakukan setiap hari. "Aku akan menelpon mama dulu." 


Zahra mengangguk. Melepas tangan Aidin dan menatap punggung pria itu berlalu. 


"Apa Zahra sudah melahirkan, Din?" tanya Adinata antusias. 


Aidin mengangguk. "Anakku perempuan, Yah," ungkapnya diiringi dengan air mata bahagia. Kemudian memeluk Sesi dan  Richard. 


"Kamu telepon mama dan mama Delia, jangan katakan Zahra melahirkan, suruh saja mereka datang ke rumah sakit," pinta Aidin. 


Cepat-cepat Richard menghubungi seluruh keluarga seperti yang diinginkan Aidin. 


"Memangnya Zahra kenapa? Apa dia mau melahirkan?" Begitulah semua orang bertanya. 


"Richard tidak bilang apa-apa, dia cuma menyuruh kita ke rumah sakit," dan itu jawaban mereka yang menerima telepon dari sang sekretaris. 


Bertepatan saat Bu Lilian turun dari mobil, mobil Delia pun tiba. Mereka bertemu di depan rumah sakit. 


"Apa Aidin bilang sesuatu pada Ibu?" tanya Delia cemas. 


Bu Lilian menggeleng, meraih tangan besannya lalu masuk ke rumah sakit. 


Tanpa bertanya, mereka langsung menuju ruangan yang disebut Richard lewat telepon genggam. 


Nampak Aidin dan Adinata saling berbincang, sedangkan Richard sibuk berbicara dengan ponselnya. 

__ADS_1


Aidin berhambur memeluk bu Lilian dan Delia bergantian. Tangisnya pecah membuat mereka semakin khawatir. 


"Gak ada papa, kan?" tanya Delia yang mulai takut melihat tangisan Aidin. 


"Cucu mama sudah lahir. Dia perempuan," ungkap Aidin setelah melepas pelukannya. 


"Alhamdulillah," ucap bu Lilian dan Delia serempak. Kini rasa cemas itu berubah menjadi rasa bahagia campur haru. 


"Kamu bisa saja bikin mama takut." Delia mendorong tubuh kekar Aidin hingga terhempas. 


Pintu terbuka lebar. Suster membawa bayi cantik itu pada keluarganya. 


Siapa cepat dia dapat, ternyata bu Lilian yang berhasil mengambil alih cucunya. 


Terpancar kebahagiaan di wajah seluruh keluarga, hadirnya bayi itu memberi warna baru bagi mereka.


"Zea di mana?" Delia celingukan mencari cucunya. 


"Dia di rumah ayah sama Rima," tutur Aidin. 


"Jadi kamu dan Zahra __" Delia memotong ucapannya, menunjuk Aidin dan mantan suaminya bergantian. 


"Jadi, tadi aku ke rumah ayah untuk pamit, tapi ayah menyuruh kami menginap waktu aku ke kamar akan tidur, tiba-tiba saja air ketuban Zahra pecah, dan kita langsung ke sini."


Delia manggut-manggut mengerti. Tak masalah yang penting semua baik-baik saja. 


"Namanya siapa?" tanya Sesi menyahut. 


Aidin tercengang, saking bahagianya sampai lupa memberi nama untuk bayinya. 


"Bentar, Bu. Aku ke dalam dulu." 


Aidin masuk ke ruangan. Ia menghampiri Zahra yang masih berbaring lemah di atas brankar. 


"Ada apa, Mas?" tanya Zahra lirih. Menahan sakit di bagian bawah sana. 


Aidin mendekatkan bibirnya di telinga sang istri lalu keduanya saling mengulas senyum. 


"Itu nama yang bagus, aku suka." 


"Maaf ya, aku tinggal di luar sebentar." 


Zahra mengangguk pelan. 


Aidin kembali menghampiri keluarganya untuk memberitahu nama putrinya.


"Siapa namanya? Cepetan, mama udah gak sabar," tanya Bu Lilian mendesak. 

__ADS_1


"Namanya, Zada Kamila." Aidin menatap sang putri yang nampak terlelap. Begitu teduh dan menyejukkan mata. 


__ADS_2