
Di dunia ini tak ada yang abadi, semua akan musnah. Cepat atau lambat Allah akan mengambil apa yang dimiliki hamba-Nya. Kesombongan akan berakhir, kekayaan, jabatan tidak akan kekal. Apa yang dibanggakan, semua hanya titipan yang sewaktu-waktu akan diambil tanpa pemberitahuan.
Entah, itu adalah musibah atau berkah yang diterima Aidin. Sebelum mentari terbit. Ia sudah mendapat kabar baik dari Richard. Bahwa Amera tak bisa berkutik lagi. Itu semua karena kerja kerasnya semalam penuh bersama tim yang lain. Sebagai sekretaris, pria yang kini berumur hampir tiga puluh tahun sukses membuat Aidin bebas dari belenggu wanita itu.
Atas undangan Aidin, Richard datang ke rumah Delia.
"Saya sudah ada di depan, Tuan. Tapi tidak diperbolehkan masuk."
Aidin yang masih duduk di atas sajadah itu segera berdiri dan membuka gorden. Benar saja, ia bisa melihat Richard berdiri di depan gerbang.
"Ada apa, Mas?" Zahra melepas mukenanya, menghampiri sang suami yang nampak sibuk berbicara dengan benda pipihnya.
"Richard datang, aku mau turun sebentar."
"Aku ikut!" Zahra memakai hijabnya, tidak mungkin ai turun dengan rambutnya yang terurai panjang.
"Nanti kalau kita di rumah jangan pakai ini lagi ya, aku ingin melihatmu terbuka."
Zahra hanya mengangguk tanda setuju.
Di lantai dasar itu sudah sangat ramai. Pelayan berlalu lalang menjalankan aktivitasnya. Salah satu dari mereka menghampiri Zahra dan Aidin yang baru saja turun dari tangga.
"Tuan dan Nona mau sarapan apa?" tanyanya dengan ramah.
Sebab, di rumah itu sudah terbiasa harus bertanya sebelum memasak. Delia dan James lebih banyak menghabiskan waktunya di luar, sedangkan hanya ada Cherly, dan di pun sering makan di luar.
"Terserah Bibi saja," jawab Aidin tanpa berpikir. Kebiasaan barunya tidak akan protes dengan kerja keras orang lain.
"Baik, Tuan."
Aidin dan Zahra melanjutkan langkahnya menuju depan. Membuka pintu utama dan menyuruh pengawal membuka gerbang.
Tanpa banyak tanya, Brown langsung berlari dan membuka hingga mobil Richard bisa masuk.
"Kamu gak benci sama Brown, Mas?" tanya Zahra ragu. Teringat betul saat pengawal setia Delia itu membuat suaminya babak belur dan tak sadarkan diri. Bahkan, kala itu seperti seseorang yang meluapkan emosi dan tak mempunyai belas kasihan sedikitpun.
"Kenapa harus benci, dia hanya menjalankan tugas?" Mengusap pundak kecil Zahra sembari menarik hijabnya saat rambut wanitanya sedikit terlihat.
__ADS_1
"Kita bicara di dalam." Richard mengikuti langkah Aidin. Tak jauh beda dengan bosnya, dulu pria yang menjadi sekretaris itu juga sering datang ke rumah itu, siang malam berjuang hanya untuk memastikan keberadaan Zahra.
Richard dan Aidin duduk saling berhadapan, sedangkan Zahra duduk di samping sang suami. Ia yang tak terlalu paham dengan urusan mereka, hanya menjadi pendengar setia. Sedikitpun tak ingin menyahut apalagi ikut campur.
"Sebelum Amera menyerahkan anak itu pada Tuan, ternyata dia sempat ingin menjualnya, namun aksinya gagal karena ada yang melaporkannya."
Hati Zahra bak diremas-remas. Sebagai seorang ibu ia merasa miris dengan sikap Amera.
Meninggalkannya saja tak tega, apalagi menjualnya, itu perbuatan yang lebih sadis dari apapun.
"Kalau tidak mengharapkan seorang anak, kenapa harus melakukan perbuatan itu?" ucap Zahra lirih, lupa dengan kehadiran dua pria dewasa yang ada di dekatnya.
Ehem
Deheman Aidin membuyarkan otak Zahra yang hampir melayang, ia menundukkan kepalanya malu dengan ucapannya sendiri.
"Sepertinya bibi butuh bantuan." Meninggalkan Aidin tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Mungkin ke belakang dan bergabung dengan pelayan akan membuatnya sedikit menghilangkan rasa malu.
Aidin mengelus ceruk lehernya, kemudian melanjutkan pembicaraannya.
"Sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena saya sudah mengambil semua bukti yang Tuan minta, dan saya juga menemukan bukti kejahatan tentang investasi bodong yang sudah berjalan hampir lima bulan."
"Dia akan mendapatkan hukuman yang berat dengan pasal berlapis karena beberapa kejahatan yang dilakukan," imbuh Richard.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih menyayangiku dan menunjukkan jalan yang lebih lurus.
Aidin tak henti-hentinya mengucap hamdalah mengingat betapa buruknya dulu.
Di dapur
"Nona membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan yang ada di belakang seraya mengaduk kopi yang baru dituang air panas.
Zahra yang masih mengintip terkejut bukan main. Mengelus dadanya, mengatur nafasnya yang masih memburu.
"Gak kok, Bi." Sambil menggeleng. Matanya tak sengaja menangkap beberapa bahan yang akan dimasak.
"Apa setiap hari Bibi memasak sebanyak ini?" Zahra memastikan. Apakah bahan-bahan yang ada di meja itu akan diolah atau hanya di keluarkan dari lemari pendingin.
__ADS_1
"Iya, Nona. Meskipun Nyonya jarang di rumah, setiap hari kami," menunjuk semua rekannya yang sibuk dengan aktivitas masing-masing, "memasak banyak."
Zahra manggut-manggut mengerti. Delia memang hanya tinggal bersama James dan Cherly, tapi pelayan yang bekerja di rumah itu puluhan orang, dan pasti makanan itu untuk mereka.
Delia keluar dari kamarnya. Menatap Aidin sejenak lalu ke dapur menghampiri Zahra yang nampak sibuk dengan para pelayan.
"Masak apa, Nak?" Seperti biasa, Delia duduk di ruang makan, menikmati teh hangat yang sudah disajikan.
"Kalau pagi mas Aidin sukanya nasi goreng, Ma. Karena di sini ada bumbu rawon, aku mau buatin dia nasi goreng rawon," jelasnya sembari mengikat hijabnya ke belakang.
"Kayaknya enak tuh, Mama juga mau."
Zahra mengangkat jempolnya. Tak hanya untuk dua orang, ia membuat beberapa porsi, barangkali ada yang mau lagi selain mama Delia dan Aidin.
"Zea belum bangun?" Delia menatap pintu kamar cucunya yang masih tertutup rapat.
"Biasanya kalau pagi seperti ini sudah, mungkin mbak Lela nya yang masih sibuk." Zahra mulai menyalakan kompor.
Delia meninggalkan ruang makan. Berjalan menuju kamar Zea.
Membuka pintu tanpa mengetuk. Matanya langsung mengarah pada boks bayi yang baru dibeli beberapa hari yang lalu. Sengaja untuk persiapan jika Zea menginap.
"Cucu oma sudah bangun," sapanya.
Mbak Lela yang masih merapikan baju itu segera menghampiri Delia yang sedikit kesusahan mengangkat tubuh mungil Zea.
"Maklum Mbak, sudah lama gak pegang bayi." Sedikit kaku saat Zea menendang nya.
Matanya yang bening itu menatap Delia dengan lekat. Setelah itu membenamkan wajahnya di bagian dada yang membuat sang oma kegelian.
"Zea, ini bukan mama, Sayang. Tapi oma."
Delia benar-benar tak tahan dengan tingkah lucu cucunya. Ia membawa bocah itu keluar dari kamarnya. Berteriak memanggil Zahra yang ada di dapur.
Tak hanya Zahra, beberapa orang ikut mendekat. Sungguh, bayi itu menciptakan gelak tawa bagi semua orang yang melihatnya, termasuk Aidin dan Richard.
"Mama di sini, Sayang," sapa Aidin berdiri di belakang Zahra.
__ADS_1
Mendengar suara yang familiar membuat bocah itu segera menoleh dan mengulurkan tangannya ke arah Zahra.