
Enam hari dirawat akhirnya Zahra sudah dibawa pulang. Selain bosan berada di rumah sakit, ia juga ingin melihat persiapan pesta untuk kedua putrinya. Tidak ingin meninggalkan momen terpenting dalam hidupnya. Kebahagiaan terus mengalir seolah-olah tak bertepi.
Ia hanya bisa duduk manis di sofa dan sesekali protes jika ada sesuatu yang tak disukai. Aidin menemaninya sambil menggendong Zada, sedangkan yang lainnya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Aku gak nyangka akan berada pada titik seperti ini. Dimana kita menyiapkan pesta untuk anak-anak kita." Zahra menggenggam tangan Aidin. Menyalurkan rasa cinta yang kian mendalam.
Pria itu tak menjawab, namun dalam hati menyimpan sejuta ungkapan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Besok acaranya jam berapa?" tanya Zahra menatap wajah Aidin yang sedikit sayu.
"Jam sembilan, kalau kesiangan takutnya anak-anak ngantuk."
Zahra meraih dagu Aidin. Menatap lekat mata pria itu.
"Sepertinya kamu capek banget, Mas. Kenapa gak tidur?" Zahra mulai khawatir. Semenjak Zada lahir, Zahra memang melihat Aidin jarang beristirahat, bahkan pria itu selalu saja mengurus dua anaknya dan menolak bantuan dari orang lain.
"Aku akan tidur setelah kamu dan anak-anak sudah tidur," jawab Aidin diiringi dengan senyuman.
"Apa aku sangat berarti dalam hidupmu, Mas?" Zahra menyandarkan kepalanya di pundak Aidin.
Aidin bukan orang yang suka menggombal atau mengucap janji manis. Ia hanya bisa menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman.
"Kita tidur yuk!" ajak Aidin menggandeng tangan Zahra. Menuntunnya dengan pelan menuju kamar. Meninggalkan mereka yang masih sibuk dengan tugasnya.
Aidin menutup pintu setelah menidurkan Zada di box. Sementara Zea untuk saat tidur di kamar sebelah bersama dengan adik-adiknya.
"Aku ke kamar mandi dulu, kamu tidur duluan saja." Membantu Zahra berbaring lalu menyelimutinya.
Setelah menjalankan kewajibannya, Aidin menghampiri Zahra yang sudah terlelap dan mencium keningnya.
"Tidak ada yang berarti di dunia ini selain kamu. Aku bersyukur diberi kesempatan untuk bisa menjagamu, jangan pernah tanyakan cinta padaku, karena aku tidak tahu sedalam apa mencintaimu. Apa yang aku lakukan memang tidak sebanding dengan kesalahanku, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga membuatmu dan anak-anak bahagia. Kalian adalah bidadari ku."
Aidin ikut berbaring di samping Zahra setelah memastikan Zea sudah benar-benar tertidur.
Hampir lima belas menit setelah Aidin berbisik, Zahra membuka matanya. Ia tersenyum mengingat ucapan Aidin beberapa waktu lalu.
Aku tahu, dan kamu sudah membuktikan ucapanmu itu. Terima kasih atas segalanya yang kamu berikan.
Keduanya terlelap dengan posisi Aidin memeluk Zahra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, rumah sudah sangat ramai dipenuhi keluarga dan tamu undangan.
__ADS_1
Zahra dan Aidin masih tenang di kamar menemani Zada dan Zea yang sedang sesi pemotretan.
"Zea, lihat papa sini, Nak!"
Aidin yang duduk di tepi ranjang terus bertepuk tangan mencari perhatian putrinya. Memancing bocah itu untuk mengambil gaya yang elegan.
"Kayaknya gordennya di buka aja deh, Kak," saran Ihsan.
Ternyata fotografer yang dipilih Aidin adalah adik iparnya sendiri. Laki-laki yang baru lulus itu memang sudah jago soal potret memotret, dan setelah ini akan mempromosikannya untuk mengisi luang.
"Zea, lihat," ucap Ihsan lantang.
Mata Zea yang dari tadi fokus pada Aidin beralih pada Ihsan. Meskipun baru berumur satu tahun, sepertinya ia sudah memiliki bakat menjadi seorang model.
"Satu kali lagi, Sayang. Ayo lihat om." Ihsan pindah posisi, dan lagi-lagi langsung diikuti Zea.
"Oke, sekarang gantian dedek Zada ya."
Tak sesulit saat mengambil gambar Zea, mengambil gambar Zada lebih mudah, karena bayi itu belum terlalu bergerak, bahkan cenderung diam sambil menikmati mimpinya.
Setelah beberapa kali potret, Ihsan menunjukkan hasilnya pada Aidin dan Zahra.
"Bagus sekali, Dek. Kakak gak nyangka kamu sehebat ini," puji Zahra bangga dengan prestasi sang adik.
Kini Zahra dan Aidin pun ikut foto bersama. Mereka mengambil banyak gaya seperti perintah Ihsan.
Pintu diketuk dari luar. Ihsan yang membuka, sementara Aidin membantu Zahra duduk.
Ternyata Bu Lilian dan Delia yang datang.
"Acara sudah mau dimulai, tapi kenapa mereka masih ada di sini?"
Bu Lilian menggendong Zea. Zada ada di gendongan Delia.
Mereka membawa cucunya keluar dan memamerkannya di depan tamu yang sudah hadir.
Tidak ada yang tak memuji kecantikan kedua putri Zahra dan Aidin, bahkan wajahnya yang cantik membuat hampir semua orang terpesona.
"Sini, Za!" Salah satu tamu memanggil Zahra yang baru keluar dari kamar.
Zahra mendekat, menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Berterima kasih karena sudah sudi menghadiri undangannya.
"Bagaimana cara buatnya? Kok cantik banget." Wanita itu berbisik di telinga Zahra yang membuat sang empu malu setengah mati.
__ADS_1
Zahra tersenyum kikuk. Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat konyol.
Itu rahasia pabrik, Bu. Begitulah hati Aidin menjawab.
Menarik tangan sang suami. Mengedipkan mata memberi kode pada pria itu.
Ayo dong Mas, ajak aku pergi. Zahra memasang wajah memelas.
Aidin yang paham akan hal itu langsung pamit pada yang lain. Memberi alasan pada mereka untuk menemui tamu yang lainnya.
Aidin dan Zahra kini bergabung dengan Delia. Mungkin dengan begitu ia tidak mendapatkan pertanyaan aneh-aneh yang menyudutkannya.
"Richard ke mana, Din?" tanya Pak Herman yang baru datang.
Aidin celingukan. Sejak pagi ia memang belum melihat batang hidung pria itu, dan bahkan juga belum menghubunginya.
"Mungkin saja belum datang, Pa." Mata Aidin terus mengabsen setiap tamu yang datang. Sambil mencari-cari sang sekretaris.
Di ujung jalan
Sebuah mobil berhenti menghampiri Cherly yang terlihat kacau. Seorang pria tampan turun menghampiri gadis itu.
"Kak Richard," seru Cherly melepas high heels yang membalut kakinya.
Richard berlari kecil. Memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
"Ngapain kamu di sini? Bukankah tadi malam sudah menginap di rumah Tuan Aidin?" Richard mengambil sepatu milik gadis itu dan menggiringnya menuju mobil.
Setelah mendapat telepon dari Cherly yang mengatakan ada di jalan, ia langsung menyusulnya.
Tidak ada jawaban, Cherly membius bibirnya dan langsung masuk setelah pintu mobil terbuka.
Ada-ada saja.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Meskipun sedikit terlambat, Richard tetap mengutamakan keselamatan gadis yang nampak merengut itu. Entah apa penyebabnya, ia pun tak ingin bertanya lagi.
"Lain kali kalau mau pergi bilang dulu, aku kan bisa mengantarmu," tawar Richard.
"Kakak suka sama kak Rima?" tanya Cherly mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya kenapa kalau aku suka sama dia?" tanya Richard balik.
Seketika Cherly menggeleng. Kini ia sudah yakin bahwa Richard menyetujui perjodohan itu.
__ADS_1