Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Persalinan


__ADS_3

Aidin sudah rapi dan menunggu di depan kamar Pak Herman. Entah kenapa, sejak menemukan dompet Zahra hatinya diselimuti rasa cemas yang tak kunjung reda. seolah-olah ada yang mendorongnya untuk segera datang ke rumah sakit. Padahal, tidak ada hubungannya antara pengobatan Pak Herman dan pertemuannya semalam, namun seakan itu semrawut menjadi satu memenuhi otaknya. 


Ceklek 


Pintu terbuka lebar. Pak Herman dan Bu Lilian keluar. Mereka pun sudah nampak rapi.


"Tumben sudah siap," cetus bu Lilian menyerahkan tas yang menggantung di tangannya pada sang sopir yang baru datang. 


Aidin mengelus tengkuk lehernya, ia sendiri tak tahu dengan hatinya yang ingin segera tiba di rumah sakit. 


Tak ada pembicaraan, bu Lilian bisa menangkap kegelisahan di wajah putranya. 


"Kamu gak papa?" Menepuk lengan kekar Aidin. 


Pria itu hanya menggeleng tanpa suara, tidak mungkin ia bercerita tentang hatinya saat ini. 


Apa sebaiknya aku cerita ke mama kalau Zahra ada di sini. 


Aidin sedikit ragu, namun ia tak bisa diam saja dengan kenyataan ini. 


"Ma, Pa, sebenarnya Zahra ada di kota ini," ungkap Aidin dengan lugas. 


Senyum mengembang di sudut bibir bu Lilian dan pak Herman. Fakta itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. 


"Kamu tahu dari mana?" Mata pak Herman berkaca-kaca, kini rasa takutnya lenyap begitu saja. Berganti dengan kebahagiaan. 


"Dia baru keluar dari hotel semalam, dan aku menemukan dompetnya." 


"Alhamdulillah mama bahagia banget, setidaknya Allah sudah memberikan petunjuk padamu, Nak."


Sebagai orang tua bu Lilian ikut bahagia melihat putranya bahagia. Akhirnya perjuangannya selama ini membuahkan hasil. 


Tak terasa mobil berhenti di depan rumah sakit. Bertepatan dengan itu, sebuah mobil ambulans pun berhenti di samping mobil Aidin.


Aidin membuka kaca tanpa ingin turun. Matanya terus melihat beberapa tim medis yang berdatangan. "Ada apa, Din?" Bu Lilian mencondongkan kepalanya ke arah luar. 


"Mungkin ada kecelakan, Ma." Membuka pintu lalu turun, begitu juga dengan pak Herman dan bu Lilian yang mengikuti dari belakang. 


"Sakiit…" Suara rintihan terdengar begitu jelas menyayat hati. 

__ADS_1


Dokter dari dalam berbondong-bondong menyambut kedatangan pasien. Kemudian sebuah mobil mewah datang, tampak seorang pria berlari menghampiri ambulans itu. 


Wajahnya yang tak asing membuat Aidin melongo. Ia mengingat-ingat nama orang itu. Entahlah, itu tak penting yang terpenting saat ini siapa yang ada di atas brankar itu. Aidin mencoba membelah kerumunan yang ada di samping ambulans, namun tak berhasil. Bahkan ia hanya bisa melihat kaki yang menjulur.


Laki-laki itu kan yang ada di dompet Zahra.


"Ayo, Din!" ajak bu Lilian membuyarkan lamunan Aidin. 


Aidin masuk dan menemui dokter Gilbert untuk membicarakan persiapan operasi yang akan dijalani pak Herman.


"Jadi bagaimana, Dok? Apa papa bisa segera operasi?" tanya Aidin memastikan. 


"Operasi akan dilakukan besok pagi, sekarang mari saya antar ke ruangan."


Mengantar Aidin dan keluarganya ke ruangan yang sudah sudah disiapkan jauh hari sebelum mereka datang.  


Setibanya di sebuah lorong, Aidin menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal itu masuk ke sebuah lift.


"Mama Delia," lirihnya. Bu Lilian ikut menoleh ke arah mata Aidin memandang. Benar, itu adalah besannya, ibunya Zahra. 


"Jangan-jangan __" Aidin menghentikan ucapannya lalu tersenyum kecil. 


"Mama akan selalu berdoa untukmu." 


Aidin berlari mengejar Delia yang tadi nampak buru-buru. Tak mau kehilangan jejak dan berharap akan menemukan titik terang di pagi yang mendung ini. 


"Bagaimana keadaan Zahra, Nif?" 


Delia panik saat bertemu dengan Hanif. 


"Sebenarnya sakitnya sejak semalam, Ma. Tapi dia tidak mau di bawa ke rumah sakit, Zahra bilang itu biasa," kata Hanif menirukan ucapan Zahra. 


"Anak itu memang bandel, gak bisa dibilangin." Kesal dengan Zahra yang selalu cuek dengan nasehatnya. 


"Ma." 


Suara berat menyapa dari belakang membuat mata Delia terbelalak. Tak hanya wanita itu, Hanif pun ikut terkejut dengan kehadiran seseorang yang ingin dijauhkan dari Zahra. 


Bukankah itu suara Aidin. Menoleh cepat ke arah sumber suara.

__ADS_1


Keduanya saling tatap, Aidin terus melangkah pelan mendekati Delia. 


"Ngapain kau di sini?" Delia menatap seluruh keluarganya bergantian lalu berdiri di depan pintu masuk dengan kedua tangan merentang ke kiri dan kanan. 


"Aku ingin menemani Zahra melahirkan, Ma. Izinkan aku masuk, aku ingin melihat keadaannya," ucap Aidin terbata. Ia tahu untuk dekat dengan Zahra tidak akan mudah, setidaknya berusaha. 


Delia menggeleng. "Aku tidak akan mengizinkan kamu masuk, sampai nangis darah pun kau tidak akan bisa melihat Zahra lagi. Apalagi dekat dengan dia." 


Air mata menetes begitu saja membasahi pipi kokoh Aidin. Tubuhnya terlalu lemah menerima kenyataan itu hingga ia jatuh ke lantai. Berlutut di depan Delia dengan kepala menunduk menatap kaki sang ibu mertua. 


"Mama boleh menghukum ku sepuasnya, tapi izinkan aku menemani Zahra melahirkan, Ma. Aku ingin berada di sisi nya," Aidin memelas. Apapun akan ia lakukan demi bisa bertemu dengan Zahra termasuk merendahkan diri seperti saat ini. 


"Sekali tidak tetap tidak, sekarang pergi atau pengawal akan memukulmu sampai babak belur."


Bukan saatnya untuk menyerah. Aidin bangkit mengusap kedua pipinya, kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Setibanya di lorong, ia menarik dokter cantik yang hendak ke ruangan Zahra. 


"Apa dokter yang akan menangani persalinan nyonya Zahra?" tanya Aidin tanpa basa-basi. 


Dokter itu menatap penampilan Aidin dari atas hingga bawah lalu mengangguk. "Iya, Tuan. Memangnya kenapa?"


"Saya suaminya nyonya Zahra. Mama saya melarang masuk, apa boleh saya memakai baju seperti, Dokter?" Menangkupkan kedua tangannya. "Saya hanya ingin menemani dia."


Wanita itu tersentuh dengan perjuangan Aidin. Apalagi dia juga sempat melihat pria itu meminta dengan bersungguh-sungguh.


"Baik, saya akan atur semuanya." Menggiring Aidin menuju ruang ganti. Memberikan baju khas dokter pada Aidin. "Pakai ini, pasti tidak ada yang akan mengenali Tuan, termasuk mama Anda sendiri."


Aidin memakai baju serba putih dengan kacamata juga pembungkus kepala dan masker. Benar saja, tidak ada yang mencurigainya, bahkan saat melintasi Delia, wanita itu sedikit pun tak menatapnya. 


Akhirnya aku bisa masuk juga. 


Hampir saja ia melepas masker yang dipakai, seorang dokter memanggilnya. 


"Jangan dibuka, saya tidak mau terkena masalah karena ini," bisiknya. 


"Sakit, Dok." Suara rintihan itu terdengar memilukan. Aidin bergegas mengikuti dokter ke ruangan Zahra. 


Sekujur tubuhnya bergetar hebat melihat seseorang yang ia rindukan itu berbaring dan terus mengeluh kesakitan. Kakinya mengayun pelan mendekati brankar. 


Seketika itu juga tangan Zahra mengulur mencengkeram erat jemari Aidin yang berdiri di sampingnya. Mengurai rasa sakit yang selama beberapa jam menyelimutinya. 

__ADS_1


__ADS_2