Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Negatif


__ADS_3

Sudah hampir tiga kali dering ponsel terabaikan membuat Zahra penasaran dan bertanya, "Telepon dari siapa, Mas? Kenapa gak diangkat?"


Aidin menundukkan kepala. Rasa takut menyelimuti mengalahkan dinginnya angin malam yang menembus tulang. Apa yang akan ia lakukan jika hasilnya positif, sedangkan tak ingin Zahra tersakiti lagi karena ulahnya. 


"Apa aku boleh melihatnya?"


Aidin menyerahkan ponsel miliknya pada sang istri yang berbaring. Tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Zahra tahu tentang kehadiran Fathan, yang sudah jelas anak dari selingkuhannya. 


Dokter Fikri, siapa dia? 


Hanya bertanya dalam hati. Lalu mengembalikan benda pipih itu pada sang pemilik. 


"Angkat, Mas! Berisik, kasihan Zea." 


Bukan mengangkat Aidin justru menolak panggilan itu. Berdiri, kemudian membungkuk. Mendekatkan wajahnya di wajah Zahra. 


"Sudah terlalu banyak luka yang aku berikan padamu. Dan aku sudah berjanji  tidak ingin menyakitimu lagi. Aku sadar apa yang dikatakan mama Delia itu benar, aku tidak pantas menjadi suamimu." 


"Kenapa harus mengungkit itu lagi, aku hanya ingin tahu apa tujuan dokter Fikri menelponmu?" Zahra mengalihkan pembicaraan, sedikitpun tak ingin mengungkit masa lalu yang menyakitkan itu. 


"Dokter Fikri__" Berhenti sejenak. Harus yakin akan jujur meskipun pahit. 


"Dokter Fikri akan memberitahu hasil tes DNA antara aku dan Fathan, anak Amera."


Zahra mengerutkan alisnya. Bak ditusuk sembilu, perih memenuhi dadanya saat ini. Pernyataan itu sangat pahit, disaat dirinya melahirkan seorang bayi, kenapa harus ada bayi lagi yang lahir dari rahim orang lain, terlebih wanita pujaan suaminya. 


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku." 


Air mata Aidin tumpah membasahi pipi kokohnya. Penyesalannya memang tak bertepi, tapi kini sekecil apapun harus terbuka. Tidak ingin menyembunyikan hasil penghiantan yang pernah dilakukan. 


Zahra mengusap tangan Aidin dengan lembut kemudian mencium kening pria itu.


"Biarkan aku yang bicara dengan dokter Fikri. Apapun hasilnya, aku akan terima." 


Terbuat dari apakah hati wanita yang saat ini ada di hadapannya. Hingga terlihat sangat santai menghadapi perkara besar seperti ini. 


Aidin memberikan ponselnya lagi pada Zahra setelah menghubungi Dokter Fikri. 


"Assalamualaikum, Dok. Ini aku Zahra istri mas Aidin," sapa Zahra mengawali pembicaraan. Mengalihkan ke video call untuk bisa melihat gerangan yang ada di balik telepon. 

__ADS_1


"Ternyata tidak hanya ada dokter Fikri, namun juga Darren." 


Pria itu hanya bisa tersenyum melihat adik iparnya. Ingin sekali segera bertemu lagi dan berkumpul seperti dulu, namun masih ada beberapa kendala yang harus diselesaikan secepatnya. 


Zahra mendaratkan jarinya di bibir. Menyuruh mereka untuk diam kemudian mengusap rambut tebal sang suami yang masih membenamkan wajahnya. 


"Aku mau lihat hasil tes DNA nya mas Aidin dan Fathan, Dok."


Terlihat dengan jelas Dokter Fikri merobek amplop yang ada di tangannya. Lalu membuka lebar-lebar ke arah layar ponsel hingga tulisan nya terlihat jelas dan gamblang. 


Zahra membaca baris demi baris, hingga tulisan yang menjadi bukti satu-satunya terpampang. Membaca berulang kali kemudian tersenyum tipis. 


Aidin harap-harap cemas, takut hasilnya akan mengecewakan Zahra untuk yang kesekian kali. 


"Apa hasilnya?" Aidin hanya berani menatap Zahra dan tak ingin melihat tulisan itu sendiri. Jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban.


"Hasilnya negatif, Mas. Dia bukan anakmu."


Zahra menghadapkan layar ponsel itu di depan Aidin. Meminta pria itu untuk membacanya sendiri. 


Tapi tetap saja hasil itu tak menyurutkan penyesalan Aidin, wajahnya tetap redup seperti gumpalan awan hitam. 


Ponsel belum dimatikan hingga Darren bisa mendengar ucapan sang adik yang penuh penyesalan. Sebagai seorang kakak ikut bersalah karena selama ini bukan mendukung malah selalu menyalahkan. 


"Zea bangun, Mas! Tolong bawa ke sini." Tak ada cara lain, Zahra mengalihkan pembicaraan supaya Aidin melupakan semuanya. 


Darren yang ada di seberang sana tersenyum mendengar nama yang disebut Zahra. Sebab, sebelumnya bu Lilian sudah memberi kabar padanya tentang bayi Zahra yang diberi nama Zea Almaira Adijaya. 


"Mana keponakanku yang cantik jelita?"


Zahra menggeser layar ponselnya ke arah putrinya yang ada di gendongan Aidin. Terus mengulas senyum saat kakak ipar dan suaminya itu saling membandingkan antara kecantikan Zea dan Shireen. Melerai pun percuma, karena mereka tak mungkin ada yang mau mengalah.


Meskipun tak berada jauh, tetap saja Aidin yang menang, karena faktanya bayinya memang jauh lebih cantik dan menggemaskan. 


Darren dan Fikri tersenyum, mereka seolah jatuh cinta dengan bayi mungil yang terlelap itu. 


Meskipun dalam kandungan bernasib malang, sekarang sudah bisa merasakan kehangatan dipeluk dan dicium seorang ayah. Dikelilingi orang-orang tercinta. 


Malam semakin larut. Aidin mengakhiri panggilannya. Satu tangannya merengkuh Zea, sedangkan yang satunya mengusap kening Zahra yang juga menyipitkan mata. 

__ADS_1


Hingga beberapa menit kemudian, kedua mata Zahra benar-benar terlelap. Aidin memberanikan diri mencium kedua pipi wanita itu bergantian. 


"Aku akan berjaga di sini, aku akan menemani kamu dan Zea."


Baru saja meletakkan Zea ke dalam box, sebuah tangan menarik lengan Aidin dari belakang. 


"Mama," lirih nya terkejut. Ternyata itu adalah Delia. Wajahnya tampak pias seperti memendam amarah. 


"Ikut aku!"


Aidin mengikuti Delia dari belakang setelah menyelimuti Zahra. Mereka tiba di sebuah lorong yang sangat sepi, tidak ada siapapun di sana, hanya beberapa dokter dan suster yang sesekali melintas. 


"Ada apa, Ma?" tanya Aidin berdiri di depan mertuanya. 


"Ceraikan Zahra, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Iqbal." 


Sudah berapa kali permintaan itu meluncur dari sudut bibir Delia, namun Aidin tak pernah menghiraukannya. Keinginannya bersatu begitu kuat dan terus menentang apapun yang menghalanginya. 


"Aku akan menceraikan Zahra, kalau dia sendiri yang memintaku. Aku ingin mendengar dari bibir Zahra, bukan orang lain," tegas Aidin. 


Kini ia benar-benar pasrah seandainya Zahra memang menginginkan untuk berpisah, namun sepenuh jiwa raga ingin mempertahankan kedua wanita itu. Dan menciptakan keluarga kecil yang bahagia. 


Berbagai cara sudah Delia lakukan, siksaan, sindiran, olokan, bahkan merendahkan, tetap saja tak membuat Aidin mundur, bahkan semakin menantang untuk memiliki putrinya. 


"Tuan Aidin, Nyonya Zahra memanggil Anda," teriak seorang suster dari depan ruangan Zahra. 


Aidin mengangguk lalu pergi meninggalkan Delia yang masih dipenuhi kekesalan karena penolakannya. 


"Apa kamu butuh sesuatu?" Menggenggam jemari Zahra dengan lembut. 


"Dari mana?" tanya Zahra balik. Menatap Delia yang baru saja masuk. Menangkap sesuatu yang terjadi antara suami dan mamanya. 


"Dari depan, sekarang tidurlah aku tidak akan pergi lagi." 


Menarik kursi dan duduk. Mengusap kening Zahra supaya kembali terlelap. 


Sedangkan, Mama Delia pun tak bisa menyuruh Aidin pergi dari ruangan itu, takut Zahra kecewa padanya. Meskipun hatinya tak rela melihat mereka bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa like dan bunga, aku sudah memenuhi permintaan kalian 😍😍😍


__ADS_2