Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Tertunda lagi


__ADS_3

Aidin mulai menikmati manis asinnya memiliki istri polos seperti Zahra. Kode yang ia berikan sia-sia karena wanita itu menyetujui tawaran ibu tirinya untuk menginap. Ia akan tinggal di rumah Adinata semalam untuk mengurai rindu yang belum tuntas. 


Merasa tak enak, Aidin pun memilih diam dan mengikuti keinginan sang istri. Sekali-kali mengalah pun tak apa, meskipun lumayan berat. 


Kebiasaan kalau ada yang lain pasti lupa suami. 


Aidin menggerutu dalam hati. 


"Kamarku di mana, Yah?" Aidin berdiri dari duduknya. Menatap punggung Zahra yang terlihat asyik bercerita dengan Rima. 


"Itu." Adinata menunjuk pintu kamar yang terlihat dari arah ruang tengah. "Kalau kamu capek istirahat saja." 


Aidin menghampiri Zahra dan mengusap lembut pundak wanita itu dari belakang. 


"Aku ke kamar dulu, mau ikut gak?" Lagi-lagi, Aidin hanya bisa basa-basi. Tak mungkin ia mengatakan keinginannya yang sudah membuncah. 


"Nanti aku nyusul." Mencium punggung tangan sang suami sebelum pria itu meninggalkannya. 


Setelah Aidin menghilang di balik pintu kamarnya, Adinata menghampiri Zahra dan anaknya yang lain, sedangkan istrinya sibuk membersihkan dapur bersama pembantu. 


Sebenarnya makan malam sudah siap, tapi karena Aidin ke kamar, Sesi belum memberi tahu mereka dan ikut bergabung dengan suami dan yang lainnya. 


"Maafkan ayah gak bisa datang ke Sydney. Banyak kerjaan di luar kota." 


Zahra tersenyum mengusap lengan sang ayah yang penuh dengan penyesalan. 


"Gak papa, Yah. Disana sudah banyak yang menemani. Lagipula aku baik-baik saja kok. Kalau saja waktu itu mama gak memaksaku pergi, aku juga ingin melahirkan di sini."


Teringat kembali paksaan Delia yang tak bisa ia tolak. Pergi menjauh dari Aidin dan berharap bisa melupakan pria itu. Namun, takdir berkata lain. Sejauh apapun pergi Allah tetap akan menemukan jika mereka berjodoh. 


Zahra menceritakan aktivitasnya selama di Sydney itu pada adik-adiknya. Mereka antusias mendengarkan dan juga bertanya tanya tentang tempat-tempat yang sering Zahra kunjungi. 


Kebersamaan itu mampu membuat Zahra terus tertawa. Suasana hangat kini tak hanya dirasakan saat bersama keluarga James dan Adijaya, namun juga dari keluarga Adinata yang baik padanya. 


Suasana rumah semakin ramai tatkala Zea menangis. Bocah mungil itu memberi hiburan tersendiri bagi mereka.

__ADS_1


Berbeda dengan Zahra yang bahagia karena bertemu keluarganya, Aidin justru merasa gusar. Otaknya keruh, bayangan Zahra saat memakai lingerie justru terus muncul di depannya seolah-olah itu nyata. 


"Apa kau tidak bisa membaca pikiranku, Sayang." Aidin meluapkan keluhannya pada foto Zahra yang ada di layar ponsel. Sungguh, kali ini ia benar-benar tak bisa mentolerir pilihan Zahra yang ingin menginap. 


"Apa aku harus memperingatkanmu lagi?"


Berdecak kesal, itu pun tak mungkin ia lakukan. Sebab, Aidin sudah berjanji tidak akan memaksa dan akan sabar sampai Zahra sendiri yang memberikannya. 


Hawa panas merasuk, bukan karena udaranya yang engap melainkan dadanya yang begitu sesak untuk terus menunggu. Zahra menguji kesabarannya yang hanya setipis kulit lumpia. 


Berjalan ke arah jendela. Membuka gorden menatap ke arah luar yang sudah mulai gelap. 


Tanpa disadari sebuah tangan melingkar dari arah belakang membuat Aidin terkejut. Namun, ia tetap bersikap biasa layaknya saat berada di depan orang lain. 


"Ngapain di sini, mari kita sholat! sudah Adzan." suara lembut itu bagaikan sebuah sihir yang membuat Aidin tak bisa berkata-kata. 


Rencananya yang ingin bersikap dingin ambyar begitu saja. Mana bisa ia mengabaikan wanita manja itu. Oh tidak, dunia ini memang sangat aneh. Dulu ia mati-matian menolak ajakan Zahra, tapi sekarang justru kelimpungan jika sedetik saja berpisah. Keangkuhannya musnah, dan kini hanya ada kelembutan yang disajikan. 


Mungkin ini saatnya aku bilang ke Zahra. 


Aidin tak putus asa, ia memutar tubuhnya hingga bisa menatap wajah ayu sang istri. Wanita yang baru saja melepas hijabnya itu terus tersenyum saat Aidin menatapnya. 


"Kamu gak lupa kalau ini malam jumat, 'kan?" 


Zahra menggeleng cepat. Jarinya mengelus dada bidang Aidin yang ditumbuhi bulu halus. Hanya dengan sentuhan itu saja sudah membangkitkan gairah yang dari tadi tertahan. 


Hampir saja menyentuh pipi Zahra, wanita itu menepuk jidatnya hingga tangan yang sudah terangkat kembali turun dan mengepal. 


"Setelah sholat ibu menyuruh kita makan," ucapnya seraya mendorong tubuh Aidin ke kamar mandi. 


Gak papa sekarang gagal, yang penting dia sudah ingat kalau ini malam jumat. 


Usai menjalankan kewajibannya, Zahra dan Aidin keluar dari kamarnya. Mereka menghampiri keluarga Adinata yang ada di ruang tengah. 


"Mau makan sekarang, Za?" tanya Sesi. 

__ADS_1


Zahra menatap Aidin yang mengangguk. Itu artinya pria itu memang sudah lapar. 


"Aku lihat Zea sebentar ya, Mas. Kamu ke ruang makan aja dulu."


Zahra berlalu ke kamar Zea. Ternyata putrinya sudah terlelap. Mbak Lela duduk di tepi ranjang sambil membaca buku untuk mengisi kejenuhannya. 


"Sekarang Mbak makan dulu, setelah itu temani Zea."


"Baik, Bu."


Zahra menghampiri Aidin. Seperti yang dilakukan saat di rumah, ia mengambilkan nasi beserta lauk dan sebagainya yang dibutuhkan pria itu. Tak upa menuang jus jeruk kesukaannya. 


Hanya suara dentuman sendok dan piring yang terdengar. Tidak ada yang berbicara. Sisi kebaikan Adinata adalah melarang anak-anaknya berbicara saat makan, dan itu dipatuhi mereka semua. 


Sesekali Zahra melirik ke arah piring  ayahnya. Kemudian mengabsen beberapa lauk yang ada di atas meja. 


Ia meletakkan sendoknya lalu bergeser duduk di samping Adinata. 


"Kenapa ayah hanya makan dengan tempe? Ada rendang kesukaan, Ayah." Zahra menatap semua orang bergantian. Matanya berhenti pada Aidin yang mengangkat bahu. 


"Gak papa, Nak. Ayah lebih suka tempe daripada daging." Justru itu malah mengingatkan Zahra di masa kecil. Di mana ibu tirinya selalu memberikannya lauk tersebut. 


Memungut sepotong tempe goreng dan meletakkan di piringnya. "Aku juga suka,'' ucapnya merangkul pundak Adinata. 


Lagi-lagi Aidin melupakan sejenak malam jumat yang diidam-idamkan saat melihat kedekatan istri dan mertuanya. 


Aidin menepuk kursi kosong yang ada di dekatnya. Zahra yang paham langsung kembali ke tempat dan menyelesaikan makannya. 


Ponsel berdering. Zahra yang sudah menghabiskan makanan itu meraih ponsel sang suami yang ada di samping tangannya. 


"Richard, Mas," ucapnya membalikkan layar itu ke arah Aidin.


"Kalau kamu ngantuk ke kamar saja dulu. Aku bicara dengan Richard sebentar, nanti aku susul."


Aidin berlalu. Mencari tempat yang aman untuk bicara dengan sekretarisnya itu, sedangkan Zahra yang terlalu lelah memilih ke kamar seperti perintah sang suami. 

__ADS_1


Aidin masuk ke kamar setelah tiga puluh menit lamanya. Namun, senyumnya meredup seketika saat melihat Zahra sudah terlelap di balik selimut.


''Tertunda lagi."


__ADS_2