Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Menjemput Zahra


__ADS_3

Dering ponsel membuat Aidin terpaksa membuka matanya yang masih terasa berat. Tangannya mengulur mengambil  benda pipihnya yang ada di atas meja lalu memeriksanya. Sepuluh panggilan dari mama, lima pesan dari mama juga, dan lima panggilan dari Amera terabaikan. 


Kebanyakan minum membuat kepalanya terasa pusing hingga tak sadar bahwa dirinya tidur di sofa.


"Ada apa sih?" gerutu nya sambil memijat pangkal hidung. Mengumpulkan nyawanya yang tercecer. 


Ia menggeser lencana hijau tanpa menyapa. 


"Din, kamu ke mana saja? Kenapa gak angkat telepon mama," bentak bu Lilian dari seberang telepon. 


"Aku baru bangun, Ma," jawab Aidin dengan suara khas bangun tidur. 


"Astagfirullah, kamu gak subuh," pekik bu Lilian kemudian. Dilanjutkan berceramah, mengingatkan Aidin pada azab yang keji. 


Aidin menanggapinya dengan santai lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata sudah jam delapan. Ia baru teringat kalau Zahra pergi dari rumah. Pantas saja tidak ada yang membangunkannya. 


"Ada apa mama telepon pagi-pagi begini?" tanya Aidin mengalihkan pembicaraan. 


"Kau lupa, hari ini kak Keysa mau mengadakan acara syukuran, kamu jemput Zahra. Mama gak mau tahu, pokoknya kamu harus datang bersama menantu mama."


Tut tut tut 


Bu Lilian menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Aidin. 


"Sial, kenapa harus bersama Zahra? Kenapa Mama gak menyuruhku bersama Amera saja." 


Aidin mendengus-dengus kan hidungnya saat mencium bau busuk yang menusuk rongga hidungnya. Lalu, mencium baju yang melekat di tubuhnya. 


Ternyata bau muntah yang semalam terkena kemejanya. 


Aidin bergegas ke kamar. Namun, setibanya di kamar ia tidak langsung ke kamar mandi, melainkan duduk di tepi ranjang. Entah kenapa pikirannya saat ini sedikit kacau jika teringat rumah tangganya yang tak karuan. Bukan ini yang ia impikan setelah menikah, namun itulah yang terjadi.


"Aku harus mencari cara supaya papa menyetujui hubunganku dengan Amera."


Menetapkan hati untuk  memilih Amera daripada mempertahankan rumah tangganya. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah sempat semalam kebingungan dengan baju yang akan dipakai ke pesta Keysa, kali ini Zahra bisa tersenyum lebar setelah mendapat kiriman gaun dari bu Lilian. Awalnya akan memakai baju sederhana, namun tiba-tiba ada kurir yang mengatakan paket untuk nya. 


Meskipun hubungannya dengan Aidin renggang, Zahra masih menghormati keluarga Adijaya dan menganggap mereka sebagai keluarga. Zahra juga tidak ingin mengecewakan bu Lilian yang berharap penuh atas kedatangannya. 

__ADS_1


Baru saja membuka pintu depan, ia dikejutkan dengan Aidin yang mematung di teras rumahnya.


"Mas Aidin, ngapain kamu ke sini?" tanya Zahra antusias. Menatap penampilan Aidin yang sudah rapi dan memakai kemeja yang senada dengan gaun yang dipakainya.


"Mau menjemputmu," jawab Aidin singkat. 


Aku sedang tidak bermimpi, kan. Mas Aidin bela-belain ke sini hanya untuk menjemputku. 


Zahra mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Gak usah, aku sudah memesan ojek online, lebih baik mas berangkat aja dulu." 


Aidin melihat kotak kecil yang ada di tangan Zahra, dan di pastikan itu adalah hadiah untuk kakak iparnya. 


"Acara di rumah kak Keysa jam sebelas, sedangkan sekarang sudah jam sepuluh lebih, kalau kamu menunggu ojek, pasti nanti terlambat," bujuk Aidin, kali ini tak ingin mengambil resiko, ia tak mau menjadi pelampiasan mamanya jika sampai Zahra tidak datang bersamanya. 


Benar juga apa kata mas Aidin, kalau aku nungguin ojek, pasti terlambat. 


Dengan berat hati, Zahra menerima tawaran Aidin. Ia mengikuti langkah suaminya menuju mobil. 


"Sayang," teriak seorang wanita dari arah ujung jalan. 


Zahra menghentikan langkahnya saat melihat Amera berdiri di samping mobil suaminya. 


"Iya, memangnya kenapa? Lagipula Amera cuma numpang sampai studio saja," pungkas Aidin. Ia sengaja menjemput Amera dan mengantarkan ke tempat kerja sebelum menjemput Zahra. 


"Aku gak mau ikut," tolak Zahra yang berubah pikiran. Ia tak sudi naik satu mobil dengan wanita yang sudah menjadi duri dalam rumah tangganya. 


"Jangan membuatku marah, aku malas berantem sama kamu." 


Aidin mencengkram pergelangan tangan Zahra lalu menarik nya dengan paksa. Ia membukakan pintu bagian belakang dan memaksa wanita itu masuk. 


Amera tersenyum puas melihat Aidin yang sangat kasar pada istrinya. 


Lalu, ia duduk di depan setir, sedangkan Amera duduk di samping nya. 


Zahra menatap ke arah luar jendela. Sikap Aidin benar-benar keterlaluan dan membuat Zahra yakin akan berpisah dengan pria itu. 


Aidin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali matanya menatap Zahra dari pantulan spion. 


"Sayang, ada pengeluaran tas terbaru, temenin aku membelinya ya?" pinta Amera memecahkan keheningan. 


Aidin mengangguk  setuju, "Jangan hari ini, pasti mama menyuruhku untuk menemani kak Darren."

__ADS_1


"Besok juga gak papa, nanti aku pesan dulu." Melirik Zahra sekilas. 


Aku akan terus membuatmu membenci Aidin, aku gak rela dia menjadi suamimu. 


Zahra tak begitu peduli dengan apa yang Aidin dan Amera bahas, ia memilih untuk fokus menikmati pemandangan luar, meskipun hatinya sakit bak tertusuk sembilu. Ia berusaha untuk bisa kuat. Meyakinkan hatinya bahwa Aidin bukan miliknya lagi. 


"Sayang, nanti malam aku boleh kan menginap di rumah kamu?" Tak henti-hentinya Amera berusaha membuat Zahra sakit hati. Kali ini tangannya merayap, menyentuh paha Aidin lalu meraih satu tangan pria itu dan mengecupnya di depan Zahra. Setelah itu bergantian Aidin yang melakukan hal yang sama. 


Zahra sudah muak melihat kelakuan mereka dan akhirnya berdehem. 


"Kalau kalian hanya ingin pamer kemesraan di depanku, gak ngaruh. Aku sudah tidak mencintai mas Aidin lagi."


Jantung Aidin terasa berdenyut, seharusnya ia senang dengan ucapan Zahra. Namun, hatinya merasa sakit mendengar penuturan istrinya. 


"Lebih baik kalian menikah, supaya bebas melakukan apapun."


"Kau __" 


"Aku belum selesai bicara." Zahra memotong ucapan Aidin. 


"Jangan menunggu kita bercerai, aku gak mau kamu terjerumus dosa lebih dalam lagi. Aku akan bantu kamu bilang ke papa." 


Lampu hijau terus menyala terang. Tanpa diminta Zahra sudah melepaskannya, namun entah kenapa hati Aidin merasa berat untuk melakukan itu. 


Tanpa terasa, mobil sudah tiba di depan studio. Amera langsung turun setelah mencium pipi Aidin. 


Keduanya saling melambaikan tangan tanda perpisahan. 


"Pindah!" titah Aidin pada Zahra. 


"Gak mau," tolak Zahra ketus. 


"Pindah, atau aku akan __"


"Akan apa, silahkan pukul aku sepuasmu. Itu akan mempermudah jalan kita bercerai, bukan?"


Aidin menarik tangannya yang hampir mendarat di pipi Zahra. Lalu ia melajukan mobilnya menuju rumah Keysa. 


Aku sudah lelah untuk bersikap manis. Aku akui masih mencintaimu, tapi aku tidak mungkin memperjuangkan orang yang sudah jelas mencintai orang lain. Hanya satu doaku, semoga Amera menjadi istri yang baik dan bisa membahagiakanmu.


Tanpa disadari, Buliran bening lolos membasahi pipi Zahra, dan itu disaksikan langsung oleh Aidin.

__ADS_1


__ADS_2