Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Rencana pesta


__ADS_3

"Mama kok tahu kalau aku di sini?" Aidin mengusap telinganya yang terasa ngilu akibat serangan dadakan Bu Lilian, sedangkan Zahra membantu meniupnya. Sungguh, jemari wanita itu seperti cubitan yang terbuat dari besi.


"Tadi mama ke rumah kalian. Mama tungguin gak pulang-pulang, ya udah mama cari. Kebetulan pak Dadang melihat kalian di sini," bentaknya tanpa rasa bersalah sudah membuat Aidin kesakitan. Mengambil Zea yang sedikit tak terurus, bahkan kakinya sampai ungkang-ungkang terkena rerumputan. 


"Kamu bener-bener ya, Zea ini berharga banget bagi mama, tapi kenapa dibiarkan kedinginan begini?" Membersihkan kaki bayi mungil itu. Meskipun tak kotor sedikit pun, tetap saja cemas melihat cucunya diabaikan. 


"Maaf, Ma. Aku yang ngajakin mas Aidin ke sini." Zahra tertunduk lesu, merasa bersalah sudah mengajak Aidin ke taman malam-malam. 


"Tetap saja suamimu ini yang ceroboh." Masih tak terima, menarik baju sang putra di bagian lengan. 


Gak salah pun kena marah, apalagi salah. 


Aidin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membela diri setegas apapun ia tetaplah Aidin yang penuh dengan kesalahan. Tapi tak apa, ia sanggup menampungnya. 


"Ya sudah, sekarang kita pulang." Mengucap dengan nada lembut. Harus sabar menghadapi para wanita yang berhati sensitif seperti mama dan juga istrinya. 


Bu Lilian menggendong Zea menuju mobil. Zahra dan Aidin mengikuti dari belakang. Tak membantah sedikitpun omelan wanita itu.


Sesampainya di rumah, Bu Lilian langsung membawa Zea ke kamar lalu mengganti baju bocah itu. Takut masuk angin karena sudah berlama-lama di luar. 


 Aidin berbaring diatas ranjang. Melambaikan tangannya ke arah Zahra yang masih menyisir rambutnya di depan cermin. Begitu cantik dan anggun melihat penampilan wanita itu membuat pandangannya tak teralihkan.


"Aku lihat Zea dulu." Menghampiri Aidin. 


Tanpa disadari, tangan Aidin menarik pinggang rampingnya hingga jatuh ke pangkuan pria itu.


"Gak usah, kan sudah ada mama," jawabnya. Bibirnya mulai nakal, menciumi aroma parfum yang melekat di tubuh sang istri.


"Justru itu, takutnya mama marah kalau kita gak nemenin dia." Menyambar jilbabnya yang ada di nakas dan memakainya asal.


Terpaksa Aidin ikut keluar. Tak ingin kejadian tadi terulang lagi. 


Jika Zahra ke kamar Zea, Adin hanya menunggu di luar. Tak ingin kena omelan lagi gara-gara tadi. 


"Mama mau menginap di sini?" tanya Zahra duduk di tepi ranjang. Memperhatikan bu Lilian yang sedang  menidurkan Zea.


"Awalnya mama cuma mau tanya, acara ulang tahun pernikahanmu di mana, tapi karena sudah malam mama nginep sekalian. " 

__ADS_1


Zahra menoleh ke arah Aidin yang masih berdiri di depan pintu, karena hanya pria itu yang antusias merayakannya. 


"Di rumah mama saja, kan luas." Aidin angkat bicara. Masuk menghampiri Zahra. 


"Kenapa gak di hotel atau tempat yang lebih mewah?" Bu Lilian menatap Zahra dan Aidin bergantian. 


Aidin mengangkat bahunya, masih bingung dengan Zahra yang seperti tak menginginkan pesta itu. 


Apa masih ingat dengan acara yang pertama? Hati yang seharusnya bahagia malah berubah duka lara. Zahra pergi karena sebuah kesalahpahaman.


"Ya sudah terserah kalian. Mama sih gak maksa, cuma tanya saja. Kalau nanti berubah pikiran cepat bilang." 


Setelah terlelap, Bu Lilian  membaringkan tubuh mungil Zea di atas ranjang. Memasang guling di sekelilingnya. Memastikan kenyamanannya tetap terjaga.


"Sudah malam kalian tidur saja, biar mama yang jaga Zea."


Mendengar itu, mata Aidin berbinar. Seolah bu Lilian meng-kode padanya untuk bisa berduaan dengan Zahra. Memberi kesempatan mencetak calon adik Zea.


Mereka bergegas keluar dari kamar Zea dan kembali ke kamarnya. Aidin mengunci pintunya setelah itu menghampiri Zahra yang melepas hijabnya. 


Memeluk dari belakang. Bibirnya mendarat di pundak sang istri, itu tandanya ada sesuatu yang diinginkan.


Mentari belum sepenuhnya terbit, tapi pak Agus sudah tiba di depan pintu gerbang. Membaca alamatnya lagi, takut salah sasaran. 


Pria tua itu nampak semangat mendapatkan pekerjaan baru. Ingin mengubah nasib menjadi lebih baik lagi.


"Benar, ini rumahnya." Pria itu terpana melihat rumah mewah berlantai dua yang ada di depannya, Tak menyangka orang yang baik hati semalam adalah orang kaya. 


Mengambil arum manis pesanan Zahra. Kemudian memeriksa gerbangnya yang ternyata dikunci.


Matanya menyusuri sekeliling rumah yang masih sangat sepi. Duduk sejenak mengurai rasa lelahnya karena perjalanan. 


"Apa mungkin mas Aidin belum bangun ya?" Sejak diberi kartu nama oleh Aidin, pria itu terus menghafal nama calon majikannya, takut lupa dan salah panggil. 


Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya keluar membawa kantong kresek di tangannya. Dia adalah bibi, pembantu yang baru beberapa hari kerja. 


Wanita itu membuka gerbang dan meletakkan kantong kresek nya di tong sampah. 

__ADS_1


"Maaf, Bi. Apa benar ini rumahnya mas Aidin?" tanya Agus pada wanita itu. 


"Iya, memang ada apa ya, Pak?" tanya bibi menatap penampilan pak Agus dari atas sampai bawah. 


"Saya calon tukang kebun di sini, apa boleh saya bertemu dengan mas Aidin?" Pak Agus memperkenalkan diri. 


Tak berani mengambil keputusan, bibi masuk dan menyuruh pak Agus duduk di kursi teras. 


Menatap pintu kamar Aidin yang tertutup rapat, kemudian bibi memanggil mbak Lela yang sedang membersihkan botol susu. 


"Kira-kira ibu dan bapak sudah bangun belum?" tanya bibi berbisik. Takut mengganggu penghuni yang lain.


"Sudah, tadi aku lihat ibu ke kamar dedek Zea, kok. Tapi jam segini biasanya bapak masih pengen dimanja."


Keduanya tertawa kecil sambil menutup mulut masing-masing. Bersamaan dengan itu, Aidin keluar dari kamar. Bibi segera menghampirinya. 


"Maaf, ada pak Agus di depan. Katanya mau bertemu dengan, Bapak.


"Pak Agus yang akan menjadi tukang kebun di rumah ini?" tanya Aidin memperjelas. 


Bibi membungkuk ramah. 


"Hari ini aku ke kantor pagi. Bibi ajari dia cara merawat tanaman yang baik. Suruh pak Agus memindahkan pot bunga kesukaan ibu di depan." Meski begitu, Aidin tetap keluar menemui Pak Agus sebentar.


Di dalam kamar


Zahra terus tertawa saat mendapat telepon dari Keysa. Selain membahas kehamilannya, kakak iparnya itu juga mendorongny untuk segera memproses kehamilan kedua.


"Bukan donat, Kak. Gak bisa diatur, tergantung Allah kapan mempercayakannya padaku dan mas Aidin.


"Tapi kamu dan Aidin sudah berhubungan lama, kan?" tanya Keysa tanpa rasa sungkan. Sebagai sesama wanita, ia pun ingin tahu tentang hubungan adik iparnya.


Hehehe


Zahra tersenyum tipis. Meskipun tidak saling berhadapan secara langsung, ia malu untuk mengatakannya. Terlebih, itu adalah hal yang sangat pribadi.


"Gak papa kalau gak mau jawab, kakak gak memaksa kok."

__ADS_1


Tapi, akhirnya Zahra menjawabnya yang membuat Keysa melongo.


__ADS_2