
Kediaman Adinata sangat ramai. Seluruh keluarga berkumpul di taman samping rumah. Tampak kebersamaan yang begitu hangat dan seru. Sikap Rima yang ramah mampu membuat kedua adiknya nyaman saat bersamanya.
Aidin dan Zahra yang baru datang menghampiri mereka.
"Kakak…" seru Rima yang melihat kedua kakaknya lebih dulu. Ia berhamburan memeluk Zahra yang masih berada di ambang pintu. Disusul kedua adiknya dari belakang.
"Kamu gak boleh memeluk kak Zahra." Aidin melarang Ihsan yang sudah merentangkan tangan.
Zahra tak terima, bagaimanapun juga pria itu adalah saudara kandungnya. Satu-satunya wali setelah Adinata.
"Gak papa, Mas, dia adik kandungku." Zahra memeluk Ihsan dengan pelukan renggang.
"Cemburu mu itu keterlaluan," bisik Zahra lagi setelah melepas pelukannya. Menarik tangan Aidin untuk menghampiri kedua orang tuanya yang nampak merebutkan Zea.
"Tumben kalian datang sore-sore begini? Mau nginep di sini?" tebak Adinata menerima uluran tangan Aidin dan Zahra bergantian.
Zahra menghela nafas berat. Menatap Aidin sekilas lalu duduk di samping sang ayah. "Aku mau ikut mas Aidin ke Swiss, Yah," ucapnya ragu.
"Kapan?" Adinata terkejut, ia tak menyangka tujuan mereka datang untuk pamit.
"Insya Allah besok, jawab Aidin. Dari hari terdalam ia juga tak tega, namun tak mau berpisah dengan sang istri yang sudah mendekati kelahiran anaknya.
"Kalau ayah tidak mengizinkan gak papa, aku tetap di sini," imbuh Zahra kemudian membuat Adinata langsung tersenyum.
Sebagai seorang ayah ia hanya bisa mendukung pilihan anaknya. Apalagi Zahra sudah memiliki Aidin, yaitu pria yang kini lebih berhak atas dirinya.
Menyuarakan isi hatinya pun percuma, itu tetap salah karena Zahra bukan putri kecilnya lagi melainkan milik Aidin sepenuhnya.
"Ayah akan mengizinkan kalian, tapi ada syaratnya."
Berbeda dengan Aidin yang bahagia dengan keputusan itu, Zahra tetap saja dirundung kesedihan yang mendalam karena akan meninggalkan sang ayah
"Apa itu, Yah?" tanya Aidin penasaran.
"Malam ini Kalian harus menginap di sini," pinta Adinata penuh harap.
Mungkin dengan begitu, ia bisa mengobati rasa rindu pada mereka sebelum pergi jauh dalam kurun waktu yang lumayan lama.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Zahra dan Aidin menyetujui persyaratan dari ayahnya.
Malam semakin larut, namun itu tak menyurutkan keramaian yang ada. Zea yang belum tidur membuat semua orang terus tertawa dengan aksi-aksi lucunya.
"Gak kebayang kalau ada dua anak kecil yang lucu seperti ini." Sesi ikut bergabung dengan yang lainnya setelah menutup semua gorden kamar.
"Wah, pasti rumah ini seperti kapal pecah," sahut Sisi.
Ihsan tak banyak bicara, namun ia juga bisa membuat Zea nyaman dan betah saat bersamanya.
"Nanti om Ihsan yang merapikan," cetus Rima.
Meskipun pria, Ihsan adalah yang paling rapi di antara kedua saudaranya, bahkan ia pun sering menegur mereka yang sering meletakkan barang-barang di sembarang tempat.
"Biasanya kalau cowok seperti itu, istrinya cantik." Zahra ikut menyahut dari arah sofa. Ia juga belum merasa ngantuk seperti yang lainnya. Masih menikmati malam terakhir bersama dengan keluarga ayah nya.
"Semua perempuan itu cantik, Kak. Kalau ada yang bilang gak cantik, itu artinya mereka gak bersyukur dengan ciptaan Allah."
Zahra mengangkat kedua jempolnya. Suka dengan jawaban sang adik yang sangat bijak dalam menilai.
Hanya bersyukur yang membuat semua orang bisa menerima dengan ikhlas.
Ihsan hanya tersenyum tipis dan menggeleng, meskipun sudah hampir lulus SMA, ia belum mencari tempat kuliah.
"Kalian tidur saja, nanti biar Zea tidur dengan kami," suruh Sesi pada Aidin dan Zahra dan itu membuat mereka senang bukan main.
Bergegas ke kamar dan mengunci pintunya. Sementara di luar masih asyik bermain, Aidin dan Zahra sudah berbaring di atas ranjang.
Seperti biasa yang dilakukan akhir-akhir ini, Aidin berinteraksi dengan calon bayinya yang belum lahir. Membaca doa-doa pendek. Meskipun tak se mahir ustadz dan orang pintar, ia mampu menguasainya dengan baik, bahkan bisa mengartikannya.
"Sepertinya ayah keberatan dengan kepergian kita ya, Mas," ucap Zahra mulai membenamkan wajahnya di ketiak Aidin. Hanya tempat itu yang bisa mengantarnya hingga ke alam mimpi.
Masih teringat jelas ucapan Adinata yang terlihat penuh keterpaksaan.
"Mungkin karena dulu ayah gak bisa menyaksikan kamu lahiran, dan sekarang harus jauh lagi." Tangan Aidin tak lepas dari perut buncit Zahra yang tak henti-hentinya bergerak.
Akhirnya apa yang diimpikan terkabul. Sembilan bulan penuh ia bisa menjaga Zahra dengan segenap jiwa dan raga nya. Tanpa mengeluh dan sedikitpun tidak pernah protes dengan sikapnya yang terlalu manja.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Zahra kaget saat ada sesuatu yang mengalir di bagian kakinya. Ia terbangun dengan pelan dan menyibak selimut yang menutupi kakinya.
Peristiwa yang terjadi itu membuat Zahra panik. "Mas, air ketubanku pecah," ucap Zahra takut lalu menggeser tubuhnya sedikit ke tepi.
Aidin ikut terbangun dan memeriksanya. Benar saja, sprei yang ditempati Zahra basah kuyup.
"Kalau seperti ini aku harus apa?" Aidin bingung, kedua tangannya gemetar saat menyentuh tangan Zahra.
Ketakutan kembali melanda, meskipun ini yang kedua kali, tetap saja ia merasa takut, bahkan sesuatu negatif sekelebat melintas membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Ke rumah sakit," jawab Zahra. Ia turun dari ranjang sambil menyangga perutnya.
Aidin pun ikut melompat, tanpa memakai alas kaki pria itu mengangkat tubuh Zahra setelah membuka pintu.
"Ayah, Ibu!" teriak Aidin memanggil kedua mertuanya yang ada di ruang tengah.
Tidak hanya Sesi dan Adinata, ketiga adiknya ikut berlarian melihat Zahra ada di gendongan Aidin.
"Ada apa ini? Zahra kenapa?" tanya Adinata serius.
Zahra mulai meringis kesakitan sambil mencengkram tangan sang suami.
"Kayaknya Zahra mau melahirkan, Yah. Aku akan bawa dia ke rumah sakit."
Adinata mengangguk, meminta Rima untuk menjaga Zea. Memanggil semua pembantu untuk berjaga, sedangkan Sesi ikut pergi.
Aidin yang hampir menghubungi keluarga lainnya dilarang oleh Zahra. Ia tidak ingin mereka panik, dan akan memberikan kejutan setelah anaknya lahir, begitu rencananya.
"Tapi aku takut, Sayang," ucap Aidin dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan takut, Din. Zahra pasti baik-baik saja," ucap Sesi menenangkan.
Hampir dua puluh menit mobil yang ditumpangi Zahra sudah tiba di rumah sakit. Dokter dan suster melarikan wanita itu ke ruang bersalin.
"Apa gak sebaiknya kita menghubungi Delia saja," saran Sesi. Takut disalahkan jika terjadi sesuatu pada Zahra.
Adinata tetap menggeleng. Ia tak mempunyai wewenang untuk itu sebelum Aidin sendiri yang memintanya.
__ADS_1
"Kita berdoa saja, semoga cucu kita cepat lahir."
Richard yang mendapat kabar itu dari Rima pun langsung melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.