Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Kepergian Cherly


__ADS_3

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah masa lalu Aidin. Ia yang dulu hanya laki-laki bejat kini menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuk istri dan anak-anaknya. Perubahan yang terjadi bukan hanya dari kerja kerasnya, akan tetapi ketukan Hidayah yang terlahir dari seorang istri sholehah. 


Doa yang terus mengalir mampu meruntuhkan kerasnya hati pria itu. Membalikkan keadaan yang mustahil menjadi sebuah kenyataan. Berjalannya waktu pun mengubah segalanya. Tidak ada kata terlambat, karena Allah selalu membolak-balikkan hati manusia. 


Hari ini setiap orang tak hanya mendoakan Zea dan Zada, namun juga mendoakan Zahra dan Aidin supaya pernikahan mereka tetap langgeng dan bisa menghempaskan setiap masalah yang menerpa. 


Di tengah pesta yang meriah, justru Cherly sibuk menyiapkan baju-bajunya, karena rencana ia akan pergi ke Swiss besok dan tidak ingin menundanya lagi. 


Pernyataan tadi pagi sudah cukup jelas dan tidak akan berharap lagi dengan sesuatu yang tidak memungkinkan. 


"Kamu yakin akan ninggalin kakak, Dek?" Zahra duduk di samping Cherly, memastikan. 


Cherly mengangguk tanpa suara. 


Dari lubuk hati terdalam sangat berat, namun ia harus melakukan itu untuk menghindari sesuatu yang membuatnya kecewa. 


"Tenang aja, Kak. Aku akan sering pulang jenguk Zea dan Zada," pungkasnya diiringi dengan senyuman centil, tak ingin membuat sang kakak sedih. 


Tiga jam berlalu, pesta diakhiri dengan doa. Tamu undangan sudah berhamburan pulang. Kini hanya ada keluarga dan kerabat jauh yang ada di rumah Aidin. 


"Istri kamu mana, Din?" tanya salah satu saudara pak Herman yang jauh datang dari luar kota. 


"Dia bantuin Cherly. Tante duduk saja dulu, sebentar lagi juga keluar." 


Wanita paruh baya itu berdiri di samping Aidin menepuk pundak pria itu. 


"Jangan sia-siakan istrimu lagi, gunakan kesempatan ini dengan baik. Seribu satu perempuan seperti Zahra, jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kali." 


Aidin mengangguk dan memeluk wanita itu. Berterima kasih karena sudah menasehatinya. 


"Ingat, sekarang anakmu sudah dua, jadi harus berpikir lebih dewasa saat mengambil keputusan. Hati perempuan itu lembut, walaupun terkadang dia terlihat kuat, itu hanya pura-pura dan terpaksa."


Aidin paham hal itu. Kini ia sudah mengerti dan akan mengikuti semua saran dari orang-orang baik dan bijak. 


Cherly keluar dari kamar ditemani Zahra. 


Mereka bergabung dengan yang lain di ruang tengah. 

__ADS_1


"Sayang, tante Ningrum mau pamit pulang." Menunjuk wanita yang beberapa waktu lalu memberinya wejangan. 


Zahra berdiri meninggalkan Cherly, menghampiri keluarga Aidin yang ada di ruang depan. 


"Kok buru-buru sih, Tan? Gak nginep?" Memeluk Ningrum. Belum rela ditinggalkan semua orang. Termasuk kerabat Aidin yang sangat baik padanya. 


Ningrum menggeleng, memeluk Zahra dengan erat. Kemudian pamit pada yang lain juga. Tidak mengucapkan apapun, karena menganggap wanita itu lebih tahu. 


Hampir keseluruhan tamu pulang. Kini tinggal keluarga Aidin dan Zahra yang masih memenuhi ruangan. Meskipun begitu, gelak tawa masih tercipta di salah satu ruangan. Mereka terlihat bahagia dengan kebersamaannya.


Aidin menghampiri Richard yang menyendiri di ruang tamu. Tidak ada pria yang seumuran dia hingga membuatnya canggung. 


"Mama menyuruhmu mengantar Cherly ke Swiss." 


Seketika Richard menyemburkan kopinya yang hampir ditelan. Ia kaget mendengar   ucapan Aidin. Bibirnya kelu, ia tak bisa menjawab apa-apa selain menyetujui perintah itu. Memanggil Cherly yang melintas di belakang lemari. 


Cherly yang masih samar-samar menunjuk dadanya yang membuat Richard langsung mengangguk. 


"Ada apa?" tanya Cherly mendekat. 


"Berangkat jam berapa?" tanya Richard pada Cherly. 


"Pagi sebelum matahari terbit. Memangnya kenapa? Kakak mau memberiku uang jajan?" Menengadahkan tangannya didepan Richard. 


"Boleh." Richard mengeluarkan dompet dan memberikan selembar uang pecahan sepuluh ribu itu pada Cherly. 


Jika dilihat itu hanya main-main saja, namun bagi Cherly itu bukan hal yang biasa hingga hatinya meleleh. Kapan lagi bisa menerima uang dari sekretaris itu. Walaupun jumlahnya kecil dan hanya bisa untuk membeli penyedap masakan, tetap itu terasa spesial.


"Pelit banget sih, bukannya bayaran kakak gede?" Alih-alih menggoda, Cherly memasukkan uang itu ke dalam saku celananya. 


Richard tertawa terbahak-bahak. Mengacak kerudung Cherly hingga menutupi keseluruhan kening gadis itu. 


"Nanti kalau sudah kaya, pasti aku kasih uang jajan," ucap Richard asal. 


Semakin meleleh hati Abg yang baru mengenal cinta monyet itu. Richard adalah satu-satunya pria dewasa yang mampu membuatnya tergila-gila. 


Dari jauh, Rima bisa melihat keakraban  diantara Richard dan Cherly, ia semakin yakin bahwa pria itu adalah orang yang tepat untuk dirinya.

__ADS_1


Seperti permintaan Cherly, Richard datang ke rumah Aidin sebelum jam yang ditentukan. Ia memasukkan koper milik  gadis itu ke mobil. 


Tangis Zahra pecah saat adiknya berpamitan. Ia tak bisa membendung air mata.


"Pasti kakak kangen banget sama kamu, Dek," ucap Zahra dengan bibir bergetar.


Cherly tersenyum dalam tangisnya. Sesekali mengusap air matanya yang terus luruh membasahi pipi. 


"Aku juga pasti kangen banget dengan kalian." Mencium Zea dan Zada bergantian kemudian memeluk James yang tidak ikut mengantarnya. 


Cherly tidak hanya pergi dengan Richard, namun juga dengan Delia, Hanif dan Evana. 


Richard bertugas untuk menemani Delia saat Hanif pulang ke Sydney. 


Lambaian tangan mengiringi saat Cherly masuk ke mobil. Aidin menguatkan istrinya untuk tidak tenggelam dalam kesedihan. 


"Nanti kita bisa ke sana. Ngapain nangis?" 


Merengkuh pinggang ramping sang istri. 


"Tapi, Mas. Aku __" ucapan Zahra terpotong, ia tak sanggup lagi untuk mengatakan sesuatu. Bagiampaun juga ia harus iklahs demi adiknya yang akan menimba ilmu. 


Mereka masuk setelah mobil Delia menghilang dari pandangan, begitu juga dengan James yang pamit akan ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. 


Kini rumah itu kembali sepi. Namun, Zea mampu memberi warna tersendiri dengan aksi-aksi barunya. 


Di dalam kamar


Aidin yang duduk di sofa itu menangkap Zahra saat melepas gaun yang hampir setengah hari membalut tubuhnya. Ia hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah saat gadis itu sengaja memamerkan tubuh mulusnya. Ia mulai tak tenang saat sesuatu dibawah sana mulai terpancing.


Puasa dulu, Din. Tiga bulan lagi kamu baru bisa buka. Jangan ceroboh, kuatkan iman.


Aidin memejamkan mata demi menghindari sesuatu yang membuatnya sudah tak tahan, sedangkan Zahra, dengan santainya wanita itu malah mendekat.


"Bantuin aku, Mas. Ini gak bisa dibuka." Menunjuk resleting yang ada di tangannya.


Aroma parfum menyeruak menusuk rongga hidung. Aidin yang sudah di selimuti gairah itu pun langsung menyambar bibir Zahra. Tak memberi kesempatan sedikitpun pada wanita itu untuk menghindar.

__ADS_1


__ADS_2