
"Sepertinya hari ini ada yang seneng banget," sindir bu Lilian melirik Zahra yang terus mengulas senyum. Bukan hanya itu, wanita itu juga terlihat cantik dengan gaun berwarna hitam. Kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Aidin yang duduk di samping pak Herman memasang wajah biasa saja, sedangkan Zahra nampak tersipu mendengar godaan mama mertuanya.
"Siapa, Ma?" tanya pak Herman yang juga dari tadi memperhatikan Zahra.
"Menantu kita, Pa," sahut bu Lilian.
Aidin ikut menatap Zahra. Benar saja, wanita yang tadi menyeretnya ke kamar mandi dan memaksa nya untuk sholat subuh itu bahkan tak merasa bersalah sedikitpun, wajahnya terlihat berseri-seri bak ketiban jackpot besar.
"Nanti Mama dan papa pasti tahu," ucap Zahra penuh teka-teki seraya membantu Aidin merapikan dasi.
Mereka penasaran, namun tak bisa memaksa Zahra untuk mengatakan apa yang sebenarnya membuat wanita itu senyum-senyum sendiri.
"Hari ini aku mau bertemu dengan Kirana, Mas. Tolong antar aku ke restoran ya," pinta Zahra pada Aidin.
"Iya," jawab Aidin singkat. Untuk saat ini ia tak bisa menolak permintaan Zahra dikarenakan ada kedua orang tuanya.
Aidin dan Zahra pamit pada Bu Lilian dan pak Herman. Layaknya pasangan yang romantis, mereka saling menautkan tangan saat melewati pintu depan. Akan tetapi, langsung melepasnya setelah menutup pintu.
"Lain kali kamu bisa berangkat sendiri, kan?" cetus Aidin meninggalkan Zahra menuju mobil.
Bisa, aku memang sengaja. Jika cara ini tak juga meluluhkan hatimu, aku akan pergi untuk selama-lamanya dari kehidupanmu, Mas.
Zahra menghentikan langkahnya saat melihat mobil Aidin yang tampak berbeda. Ia memutari mobil itu, memastikan bahwa apa yang dilihat itu benar.
"Kamu beli mobil baru, Mas?" tanya nya dari luar.
"Iya, cepetan masuk! Aku sudah terlambat." Melihat jam yang melingkar di tangannya.
Zahra buru-buru masuk dan duduk di samping sang suami, takut Aidin lebih marah lagi.
Hening
Aidin dan Zahra saling diam. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing, hingga dering ponsel milik Aidin membuyarkan suasana.
"Jangan diangkat, Mas. Kamu lagi nyetir," sergah Zahra saat tangan Aidin mengulur dan hampir menyentuh benda pipihnya.
Kini tangannya yang bergantian menyentuh ponsel itu.
__ADS_1
"Lancang sekali kau, berani memegang hp ku," pekik Aidin, namun sedikitpun tak membuat Zahra takut.
Wanita itu malah menggenggam ponsel milik Aidin dengan erat.
"Kamu fokus nyetir saja, biar aku yang bantu jawab. Lagipula dosa kalau main rahasia-rahasiaan."
Aidin memukul setir dengan keras dan kembali fokus di jalanan.
"Ternyata itu panggilan dari Amera yang membuat dada Zahra meletup-letup. Namun, ia berusaha menahan untuk tidak terlihat menyedihkan di mata Aidin.
"Halo, dengan siapa ini?" tanya Zahra pura-pura yang membuat wajah Aidin semakin berapi-api.
"Di mana Aidin?" tanya Amera ketus.
"O, jadi ini perempuan. Aku kira laki-laki. Masalahnya, nama yang tertulis itu Paijo, bukan My Love."
Zahra menahan tawa. Entah, nama itu berasal dari mana, tiba-tiba saja terlintas di benaknya ingin menjahili Amera. Ia sengaja memancing emosi wanita itu dan Aidin.
"Gak mungkin Aidin memberiku nama Paijo, aku yakin ini hanya karangan kamu saja," balas Amera tak percaya.
"Kalau gak percaya ya udah, aku juga gak memaksa kamu untuk percaya padaku."
Zahra mulai cuek.
Aidin tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kekalahannya.
"Mas Aidin lagi nyetir, dia mau mengantarkan aku ke restoran," imbuhnya.
Apa-apaan sih Zahra, kenapa dia berubah seperti ini, apa maksudnya coba bilang seperti itu pada Amera.
Aidin hanya bisa berdecak, tidak mungkin ia kasar pada Zahra disaat situasi seperti ini.
Amera, yang ada di sebrang sana hanya bisa menghentak-hentakan kakinya mendengar itu.
"Suruh dia menjemputku!" titah Amera membentak.
"Sebentar ya, aku tanya pada mas Aidin dulu?"
Zahra menutup ponselnya dengan kedua telapak tangan supaya Amera tidak bisa mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Kalau kau menjemput Amera, aku akan laporkan ke mama dan papa," ancam Zahra menekankan. Lalu mengangkat ponselnya lagi.
"Sayang, apa kamu mau menjemput Amera?" tanya Zahra dengan suara lantang, sengaja mendekatkan bibirnya di layar ponsel agar Amera bisa mendengar ucapannya dengan jelas.
Tak ada Pilihan lain, kali ini Aidin merasa terpojok dengan ucapan Zahra. Dan akhirnya ia menjawab tidak.
Zahra merasa puas, meskipun itu hanya sebuah sandiwara belaka, setidaknya ia lebih unggul dari selingkuhan suaminya.
"Kamu dengar sendiri kan, apa kata mas Aidin? Dia tidak mau menjemputmu, jadi mulai sekarang jangan berharap dia akan datang padamu. Bay bay."
Zahra menutup sambungannya dan meletakkan ponsel milik Aidin di dashboard.
Aidin melajukan mobilnya lebih kencang, memendam amarah yang sudah memuncak di ubun-ubun. Bahkan saat ini ia seperti boneka yang harus patuh pada Tuannya.
Aidin menghentikan mobilnya di depan restoran. "Lain kali kamu gak usah ikut campur urusanku. Sampai kapanpun aku tidak akan menganggapmu sebagai istriku."
Zahra menghela napas panjang lalu mencondongkan kepalanya ke arah wajah Aidin. Ia mengecup pipi pria itu dengan lembut lalu mengucapkan salam. Tak mengindahkan peringatan keras yang sebenarnya menusuk jantung.
"Jangan lupa makan siang, nanti kalau kamu kangen aku, telpon saja! Jangan sungkan, aku akan selalu ada disaat kamu butuh," ujar Zahra menggoda lalu turun.
"Da… da…." Zahra melambaikan tangan saat Aidin mulai melajukan mobilnya. Ia bisa membayangkan wajah Aidin saat ini, pasti dipenuhi kekesalan tingkat dewa karena tingkahnya yang menurutnya sendiri memang menyebalkan.
Kirana yang baru saja keluar dari restoran itu pun tersenyum saat melihat Zahra yang ada di ambang pintu gerbang. Jika sebelumnya wanita itu selalu bermuka suram, kali ini Zahra terlihat ceria.
"Kamu diantar Aidin?" tanya Kirana melihat ekor mobil yang baru tiba diujung jalan.
Zahra mengangguk berat. Ia memang belum yakin hati Aidin berlabuh padanya. Namun, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat pria itu luluh.
"Ki, anterin aku ke rumah sakit."
"Kamu sakit apa?" tanya Kirana antusias, wajahnya mendadak redup setelah mendengar kata rumah sakit.
"Bukan sakit, tapi sepertinya aku hamil," jelas Zahra sembari mengelus perutnya.
Kirana menganga, lalu memeluk Zahra.
"Apa Aidin sudah tahu?"
Zahra menggeleng tanpa suara. "Aku akan memberi tahu dia saat ulang tahun pernikahan kami yang pertama."
__ADS_1
Semoga Aidin mau menerima kehamilan kamu, dan semoga ketulusanmu membuatnya luluh. Doa Kirana dalam hati.
Dari jauh nampak seorang pria yang juga mengawasi pergerakan Zahra dan Kirana.