Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Menyerah


__ADS_3

"Bagaimana kalau mas Aidin menertawakan ku?" 


Zahra meletakkan paper bag yang berisi baju setan itu di atas meja rias. Menatap bayangan wajahnya dari pantulan cermin,  ia yang terbiasa memakai baju tertutup itu seakan enggan untuk membuka aurat. Terlebih, ini pertama kalinya akan mencoba, dan itu terasa menggelikan plus memalukan. 


"Aku harus coba." Meyakinkan hati untuk tetap melanjutkan misinya. 


Tidak ada seorang istri yang ingin mengemis cinta atau terlihat murahan,  terkadang ia hanya mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.  Seperti yang dilakukan Zahra saat ini, Ia hanya ingin meraih ridho Ilahi untuk menjadi istri yang baik. Menjalankan semua kewajibannya.


Bulu halus Zahra merinding. Baju transparan yang berwarna maroon kini sudah melekat di tubuhnya. Sangat cantik dan mempesona sekaligus menggoda iman. Meskipun tak ada yang melihat, ia merasa malu sendiri. 


"Kenapa baju seperti ini dijual?" Menyilangkan kedua tangannya di dada demi menutupi dua gunung kembarnya yang nampak menonjol.


"Ini mah namanya telanjang," gerutunya lagi. Ngeri melihat penampilannya sendiri yang bak wanita malam. 


Zahra membuka pintu kamar mandi lalu menyembulkan kepalanya. Matanya menyusuri sudut ruangan, takut Aidin sudah berada di kamar. 


"Sepertinya aman," ucapnya setelah tak melihat siapapun di sana. 


Zahra bergegas keluar lalu berbaring dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Meninggalkan wajahnya yang masih tampak merona. 


Hampir tiga puluh menit menunggu,  akhirnya pintu terbuka. Aidin masuk dengan wajah lelahnya. Pria itu tampak menguap sambil melempar beberapa map di atas meja sofa. 


"Tumben belum tidur?" tegur Aidin melepas kemejanya.


"Belum ngantuk,"  jawab Zahra singkat.  Berusaha untuk mengusir kegugupan yang tiba-tiba melanda. Kedua tangannya memegang dada. Menahan jantungnya yang hampir meloncat saat Aidin duduk di tepi ranjang. 


"Aku matiin lampunya?" Tak seperti  malam sebelumnya yang cuek,  malam ini Aidin terus bertanya saat melakukan sesuatu yang menyangkut tentang mereka  berdua. 


"Terserah," Zahra pun hanya bisa menjawab singkat. Sebab, otaknya saat ini berkelana mencari cara untuk mengawali aksinya. 


Masa aku harus peluk cium dulu sih? Tapi kalau gak gitu, mana mungkin mas Aidin tahu aku pakai lingerie. 


Melirik Aidin yang masih sibuk merapikan bantal. Lalu pria itu meraih ponselnya yang ada di nakas. 


"Kamu belum ngantuk?" Zahra balik tanya. Menggeser sedikit tubuhnya supaya lebih dekat dengan Aidin. 


"Belum," jawab Aidin tanpa menatap. Malah senyum-senyum dengan benda pipih nya.

__ADS_1


"Pesan dari siapa?" tanya Zahra penasaran,  meskipun ia sudah menebak  siapa orang yang ada di balik layar ponsel suaminya,  setidaknya bertanya untuk lebih jelasnya. 


"Amera, dia itu selalu bisa membuatku tertawa."


Tanpa sengaja jawaban Aidin adalah tusukan yang menembus jantung hati Zahra. Tak berdarah,  namun sakitnya luar biasa. 


Sepertinya mas Aidin memang sudah cinta mati pada Amera. Itu artinya malam ini adalah misi terakhir. Jika tidak berhasil, Aku akan mundur perlahan dan pergi. 


Zahra menatap Aidin lalu tersenyum manis. 


"Mas __" 


Bersamaan dengan itu, ponsel Aidin kembali berdering. Pria itu langsung mengangkatnya dan tak menghiraukan panggilan Zahra. 


"Ada apa? Ini sudah terlalu malam, kok kamu belum tidur?" tanya Aidin pada Amera. 


Zahra menutup kedua telinganya dengan bantal. Berusaha untuk tidak mendengarkan percakapan suami dan selingkuhannya itu. 


"Aku gak bisa tidur,  temani aku begadang."


"Gak baik begadang, nanti kamu sakit," tuturnya lembut. Dan itu tak pernah diucapkan untuk Zahra. 


Kamu begitu peduli dengan dia, Mas. Tapi selalu cuek padaku. 


Untuk yang kesekian kali hati Zahra menjerit mendengar suaminya perhatian pada wanita lain, dan justru tidak pernah menganggapnya sama sekali. 


"Kalau Aku sakit, kamu yang jagain." Suara Amera terdengar manja. 


Zahra memiringkan tubuhnya memunggungi Aidin. Ia tak ingin terlihat menyedihkan lagi. Sudah cukup berjuang selama ini, dan kali ini ia sudah hampir runtuh mendengar kemesraan suaminya dan Amera yang lagi-lagi ditunjukkan di depannya. Meskipun hanya lewat ucapan,  Zahra bisa menilai kalau mereka berdua memang saling mendamba. 


"Iya,  tapi akhir-akhir ini aku akan sangat sibuk, jadi gak bisa nemenin kamu. Jaga diri baik-baik, kita akan jarang ketemu."


"Baiklah, selamat malam, semoga mimpiin aku, aku mencintaimu." 


"Pasti, aku juga."


Zahra memejamkan matanya dan pura-pura tidak tahu menahu tentang pembicaraan Aidin. 

__ADS_1


"Tadi kamu mau bicara apa, Ra?" tanya Aidin sambil menepuk lengan Zahra dengan pelan. 


"Gak jadi mas, aku lupa." Kedua tangan Zahra mencengkeram erat selimut,  ia takut akan melorot dan menampakkan tubuh seksi nya. Melupakan rencananya dan memilih untuk tidur.


Ternyata aku sudah lelah, Mas. Kesabaranku  habis. Mulai hari ini aku akan mencoba untuk membuang rasa cintaku padamu. Aku tidak akan berharap lagi, cukup aku yang tersakiti, bukan anak kita. Biarkan dia lahir tanpa seorang ayah disampingnya.


Sudah hampir dua jam kamar itu hening. Tidak ada suara dari bibir Aidin. Pria itu juga nampak tenang dengan napas yang teratur. Zahra melambaikan tangannya di wajah sang suami memastikan jika benar-benar terlelap. 


Sepertinya mas Aidin sudah tertidur. Aku akan ganti baju. Menyibak selimutnya dengan pelan lalu turun dan berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi. 


"Untung mas Aidin gak lihat aku pakai baju seperti ini." Secepat kilat Zahra memakai piyama yang lebih sopan, ia juga mengikat rambutnya yang tadi sengaja diurai panjang. 


"Mau berpenampilan seperti apapun, mas Aidin tidak akan menyukaiku.  Dan sekarang aku sudah kalah dari Amera. Dia yang memang pantas menjadi istri mas Aidin, bukan aku."


Zahra merapikan semua baju yang tadi dibeli tadi siang di samping baju yang sudah tidak terpakai, dan rencana akan membuangnya.  Setelah itu keluar dari kamar untuk menghubungi mama Delia. 


"Hai, Sayang. Kenapa kamu belum tidur, ini sudah terlalu malam,  gak baik untuk ibu hamil?" sapa Delia khawatir. 


Mata Zahra berkaca. Masih sangat berat untuk mengucapkan keputusannya, namun itu harus ia lakukan demi kebaikan semua nya. 


"Aku mundur, Ma. Aku mau pergi dari kehidupan mas Aidin. Mungkin kita memang tidak berjodoh," ucapnya dengan bibir bergetar. 


Delia tidak tahu harus bersikap bagaimana, yang pasti nya saat ini ikut bersedih dengan keputusan putrinya. 


"Mama tahu, Nak. Berjuang itu berat, jika kamu memang sudah tidak kuat,  jangan dipaksakan. Mama yakin akan ada kebahagiaan yang menantimu kelak."


"Iya, Ma. Tapi aku tidak bisa pergi sekarang. Aku ingin pergi tanpa ada rasa cinta untuk mas Aidin." 


"Mama akan selalu mendukungmu."


Zahra memutus sambungannya dan memilih tidur di sofa. Menjaga jarak dari Aidin.


Delia membangunkan James yang juga sudah terlelap. "Ada apa, Sayang?" tanya James dengan suara serak.


"Carikan laki-laki yang bisa menghibur Zahra, dia harus bisa pergi dari Aidin," pinta Delia antusias.


James hanya mengangkat kedua jempolnya tanda setuju.

__ADS_1


__ADS_2