
Suara gemuruh dari luar mengejutkan Zahra yang masih ada di kamar mandi. Bukan karena kedatangan mereka, akan tetapi keberadaan Aidin yang masih bersamanya.
"Cepetan keluar, Mas! Mama datang." Mendorong pelan lengan Aidin yang sibuk membuka pembalut.
"Kenapa harus keluar? Kamu belum selesai. Memangnya bisa memakai ini sendiri." Menyungutkan kepalanya ke arah kain segitiga di tangannya. Sangat tenang, sedikitpun tak ada rasa takut bertemu dengan Delia. Baginya, apa yang di lakukan mertuanya itu sudah wajar dan memberikan banyak pelajaran.
"Tapi __"
Zahra menghentikan ucapannya, ia hanya takut kalau Delia menyuruh anak buahnya memukuli Aidin seperti dulu sebelum dirinya pergi ke Sydney.
"Tapi apa? Tidak akan terjadi apa-apa." Menenangkan, membantu Zahra berjalan karena tak mau digendong olehnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Benar saja, di ruangan itu sudah banyak orang termasuk papa James dan Cherly.
"Kakak," seru gadis itu berhamburan menghampiri Zahra yang masih berada di ambang pintu.
Zahra tersenyum lebar. Masih fokus dengan jalannya yang harus berhati-hati seperti ucapan dokter. Tak hanya membantunya jalan, Aidin pun mengangkatnya yang hendak naik ke ranjang, kemudian membaringkannya.
"Kapan kamu datang, Dek?" tanya Zahra pada Cherly yang memeluknya dari arah samping.
"Satu jam yang lalu." Menilik jam yang melingkar di tangannya.
Aidin menggeser sedikit jauh dari Zahra. Jika sudah dikelilingi pasukan mama Delia ia tak bisa bebas. Bukan karena takut, hanya menghormati wanita itu sebagai ibu mertuanya, dan Aidin pun tak ingin membuat masalah yang berujung babak belur.
"Taraaaaa…. "
Suara berat dari arah pintu mengejutkan semuanya termasuk Aidin.
Iqbal, ngapain dia kesini?
"Mas Iqbal," sapa Zahra dengan suara renyah.
Iqbal menyapa semua orang termasuk Aidin, bahkan ia bersalaman dengan pria itu seperti dulu. Kemudian meletakkan beberapa kotak kado di meja. Menghampiri Zahra yang nampak berbaring nyaman.
"Apa kabar, Ning?"
Seperti biasa, Iqbal sangat lembut saat bertanya pada Zahra.
Dada Aidin meletup-letup mendengar panggilan yang disematkan untuk istrinya. Ingin rasanya menegur Iqbal, namun tidak berhak melakukan itu. Memendam apa yang bergejolak di dada.
__ADS_1
"Alhamdulillah, persalinannya berjalan lancar. Dedeknya juga sehat."
"Maaf, aku baru datang, kemarin ada meeting penting jadi keberangkatannya diundur," ucap Iqbal merasa bersalah. Padahal, ia sudah berjanji akan datang sebelum Zahra melahirkan, namun harus gagal karena pekerjaan.
"Gak papa, lagipula ada kak Hanif dan mas Aidin."
"Lain kali jangan diulangi, Bal. Kalau Zahra kenapa-napa bagaimana? Sebentar lagi Kalian menikah, mama gak mau kamu lalai menjaganya."
Mata Aidin berkaca-kaca. Bibirnya membisu seperti patung hidup hanya bisa mendengar percakapan mereka. Kehadirannya sungguh tak dihiraukan. Statusnya memang suami, tapi tidak berhak untuk membela dirinya yang sudah jelas tak diterima Delia.
Mendengar itu, Zahra langsung memanggil Aidin. Memintanya untuk mengambilkan minum dan membantunya duduk.
Kasihan mas Aidin, pasti dia kecewa dengan ucapan mama, apa yang harus aku lakukan?
Zahra meraih pergelangan tangan Aidin yang hampir pergi. Menggeleng kecil menandakan meminta pria itu untuk bersamanya.
Iqbal yang melihat itu menghampiri Zea dan yang lain di sofa.
"Malam ini temani Zahra ya, Bal. Aku mau menemani om James bertemu dengan klien sebentar," pinta Delia dengan suara lantang.
Cukup menusuk di hati Aidin. Keberadaannya benar-benar tak dianggap, namun apa daya, ia hanya bisa menerima dan menganggap semua itu balasan seperti yang pernah dilakukan pada Zahra.
"Aku lapar, Mas," bisik Zahra mencairkan hati Aidin yang sedikit kacau.
"Mau makan apa?" Aidin mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan beberapa menu yang ada di restoran terdekat.
"Sayur, sama daging tanpa lemak. Katakan kalau untuk orang yang baru lahiran."
Sebenarnya bukan itu yang ingin ia makan, hanya saja menuruti saran dari dokter setempat. Juga membantu Aidin untuk melupakan ucapan Delia tadi.
Tak hanya memesan permintaan Zahra, Aidin juga memesan beberapa buah-buahan dan susu khusus ibu menyusui.
"Za, kamu gak mau membuka kado dari Iqbal?" Lagi-lagi Delia mencari celah untuk mengungkap kebaikan pria yang duduk di sampingnya.
Zahra melirik ke arah kotak sedang yang ada di meja, sudah dipastikan itu barang mahal dan berkelas, kemudian menatap Aidin. Suami yang selama ini belum pernah memberikannya apapun.
"Sekarang sudah malam, Ma. Besok saja," tolak Zahra dengan halus, tak ingin menyinggung Iqbal juga tak ingin menyakiti suaminya.
Tak berselang lama, makanan yang dipesan Aidin datang. Ternyata tak hanya membelikan untuk Zahra, tapi untuk semua orang, termasuk Iqbal dan Cherly.
__ADS_1
"Kalau mama dan papa gak suka makanan ini, aku bisa ganti kok."
James tersenyum diiringi dengan gelengan kepala, sedangkan Delia tak merespon sedikitpun. Cherly langsung memakannya karena sudah terlalu lapar.
"Gak papa, Din. Ini sudah istimewa," puji James yang langsung mendapat cubitan Delia.
Setidaknya ada yang menghargai usahaku.
Suap demi suap masuk ke mulut Zahra. Semenjak menikah, ini kedua kali Aidin menyuapi nya, meskipun yang pertama harus memaksa setidaknya ia merasakan makanan dari tangan pria itu.
"Apa kamu melakukan ini dengan terpaksa?"
Zahra menahan tangan Aidin yang sudah menyodorkan makanan di depannya. Ingin mendengar jawaban pria itu.
"Menurut kamu?" tanya Aidin balik.
Zahra memanyunkan bibirnya. Membaca sorot mata suaminya yang penuh dengan teka-teki.
"Gak tau, aku hanya gak mau merepotkan orang lain dalam hidupku."
Tersenyum kecil, "Apa kamu pernah mengeluh saat aku merepotkanmu. Apa kamu pernah protes saat aku memintamu memasak, mencuci baju dan membersihkan rumah tanpa upah dan nafkah. Jangan pernah bertanya seperti itu lagi. Sekarang kamu masih istriku, dan izinkan aku untuk menjagamu sampai suatu saat nanti waktu yang akan menjawab semuanya."
Aidin pasrah, ia tak ingin mengekang Zahra bersamanya. Meskipun hatinya tak rela, tetap saja tidak boleh egois dan memaksa kehendak.
Waktu terus bergulir, ruangan itu mulai sepi. Delia dan James sudah pergi bertemu klien. Cherly diantar Hanif ke villa. Iqbal pergi membeli sesuatu.
"Kamu gak tidur, Mas? Pasti seharian ini capek banget harus ngurusin aku dan papa." Zahra menatap Aidin yang sibuk dengan Zea di box.
Aidin menghampiri Zahra. Mengusap kening wanita itu.
"Kamu tidur saja dulu, aku akan tidur setelah mama pulang nanti." Melepas pecinya lalu duduk di samping brankar.
"Ak __" ucapan Zahra terpotong saat ponsel milik Aidin yang ada di meja berdering.
Pria itu meraihnya. Mendadak wajahnya panik saat melihat nama yang berkelip di layar.
Dokter Fikri, jangan-jangan dia mau memberitahu tentang tes DNA itu, bagaimana kalau hasilnya positif, sedangkan aku baru saja menemukan istriku.
Aidin cemas, otaknya semrawut memikirkan masalah yang terus bergilir menghantamnya.
__ADS_1