Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Sahabat adiknya


__ADS_3

Bukan hal mudah mendekati seorang wanita. Wajahnya yang tampan mampu memikat para gadis, namun berbeda dengan Rima yang sepertinya sedikitpun tak tertarik pada Agha.


Terbukti saat ia mengantarkan gadis itu pulang, sedikitpun tak ada pembicaraan. Padahal, Agha sudah mengawali pembicaraan berulang kali, namun dijawab singkat olehnya. 


Itulah yang membuat Agha semakin tak yakin dan akan mundur sebelum berjuang.


Kini ia pasrah dan tak mau terlalu mendesak. Mengikuti skenario Allah, menerima nasib tanpa mengeluh. Mungkin kesendiriannya akan memberi banyak pelajaran hingga siap menjadi seorang suami. 


"Kamu beneran hari ini mau traktir aku makan?" Aidin yang mendapat telepon dari Agha itu bersemangat.


Zahra ikut mendengar perbincangan mereka yang terdengar sangat akrab. Sedikitpun tak menyinggung tentang hal-hal buruk atau sesuatu yang menjerumuskan.


"Sorry, Gha. Anakku nangis, nanti aku telpon lagi." Aidin memutus sambungannya saat mendengar suara merdu Zada. Ia segera mengangkat tubuh mungil itu dari box, sedangkan Zahra sibuk memompa susu nya. 


"Mau pergi ke mana, Mas?" tanya Zahra tanpa menatap. Sengaja memunggungi pria itu, takut kejadian kemarin terulang lagi. 


"Mau makan di restoran Agha." 


"Dia punya restoran?" Zahra memastikan.


"Iya, baru buka seminggu yang lalu. Kapan-kapan kita ke sana." Aidin mencoba mengintip aktivitas Zahra, namun sepertinya wanita itu sudah tahu aksinya hingga menutup dadanya dengan handuk. 


"Kamu dan Agha temenan sejak kapan?" tanya Zahra kepo. Ia ingin tahu sedekat apa suami dengan pria itu. 


"Dulu mereka sangat dekat." Bu Lilian yang menjawab. 


"Eh, Mama." Zahra terkejut dan mengancing bajunya setelah botol yang ada di tangannya sudah dipenuhi susu. 


"Dulu Agha sering tidur di rumah dengan Aidin. Mereka itu lengket kayak perangko. Ke mana-mana selalu bersama," tutur bu Lilian. 


"Kok aku gak pernah lihat ya, Ma?"


Aidin merengkuh tubuh Zahra, ingin sekali mengajak wanita itu bergulat di dalam satu selimut, tapi ia masih harus berpuasa. 


"Kamu tidak perlu melihat dia, Dek. Cukup lihat aku seorang."


Zahra mencoba lepas dari pelukan suaminya, malu dilihat bu Lilian. Namun, sia-sia karena Aidin tidak akan membiarkannya begitu saja. 


Di restoran 


Agha keluar dari ruangannya saat melihat keributan di luar. Ia membelah kerumunan antara pengunjung dan waitress. 


"Ada apa ini?" tanya Agha melihat punggung seorang wanita yang membungkuk. 

__ADS_1


"Ini salah saya, Tuan. Tadi saya tidak sengaja menumpahkan minuman di baju Mbak ini." seorang waitress menunjuk wanita di depannya. 


"Gak papa, Mb_" Wanita itu menghentikan ucapannya saat melihat Agha. 


"Kak Agha?" sapa wanita itu. 


"Rima, jadi kamu yang terkena tumpahan minuman." 


Rima mengusap bajunya yang basah. "Iya, Kak. Tapi gak papa, cuma basah sedikit." 


Agha mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang. Semua orang kembali ke tempat duduk masing-masing.


"Duduk saja dulu, biar aku yang mengambilkan makanan untuk kamu. Hari ini aku rela menjadi pelayan demi gadis cantik sepertimu." 


Suara Rima yang menolak pelayanan dari Agha itu hanya menguap di udara. Pria itu tak menggubrisnya dan tetap mengambil makanan dari belakang. 


Rima yang menjadi pusat perhatian para pengunjung lain malu setengah mati mendapat pelayanan khusus dari sang pemilik restoran. Bukankah itu sesuatu yang jarang terjadi? Bahkan, sangat terkesan di mata mereka.


"Silahkan Nona! Kalau rasanya ada yang kurang, bisa komplain ke aku langsung." 


"Temani dong, masa aku makan sendirian."


Tanpa ba bi bu, Agha duduk di depan Rima dan menemani gadis itu menyantap hidangannya. 


Seorang pria datang menghampiri Agha. 


Agha menerimanya dan tanda tangan sebagai bukti penerima lalu membukanya di depan Rima. 


"Setelah ini kamu ganti baju, jangan pakai baju basah, nanti masuk angin." 


Bulu halus Rima merinding. Ini pertama kali ada yang memperhatikannya sedemikian rupa, bahkan beberapa kali bertemu dengan Richard pun pria itu tidak pernah bertanya apapun. 


"Tapi aku beneran gak papa, Kak." Rima menolak, dari lubuk hati ia tidak ingin merepotkan orang lain. 


"Tapi aku maunya kamu ganti baju. Aku tidak ingin restoran ini tercemar karena pemiliknya tidak bertanggung jawab dengan pelanggannya, oke. Jangan menolak!" Agha mendesak. 


Rima mengangguk, ia tidak suka berdebat, apalagi dengan Agha yang lebih dewasa darinya. 


Rima menghabiskan makannya tanpa protes. Sebab, masakan di restoran itu benar-benar menggoyang lidah seperti kata salah satu teman sekampusnya. 


Sebenarnya tujuannya datang untuk bertemu temannya, tapi entah kenapa sampai makanannya habis pun orang yang ditunggu belum tiba. 


"Rima…" panggil seorang gadis dari arah depan. 

__ADS_1


Rima segera menoleh saat melihat seseorang yang ia tunggu. 


Berbeda dengan Rima yang antusias menyambut gadis itu, Agha menutup wajahnya dengan buku menu yang ada di depannya. 


Ia ingin pergi, namun langkahnya kalah cepat hingga terjerembab dan duduk kembali di tempat semula. 


"Isna, kenapa kamu lama banget. Aku sudah makan." Menunjuk piring kosong yang ada di depannya. 


Isna tak menghiraukan ucapan Rima, justru ia penasaran dengan seseorang yang dari tadi menutup wajahnya itu. 


Sepertinya aku kenal dia, tapi siapa ya?


Rima bingung dengan sikap aneh Agha dan juga Isna. Ia hanya melihat mereka berdua bergantian. 


Wah wah wah 


Seketika itu Isna merebut buku hingga tampaklah wajah tampan Agha. 


"Kakak!" pekik Isna menjambak rambut Agha. 


"Kenapa ini, Is? Kamu kenal dengan kak Agha?" tanya Rima penasaran. 


Agha hanya membisu. Menerima amukan dari Isna dengan ikhlas. 


Isna melepas rambut Agha dengan kasar hingga beberapa helai nyangkut di sela-sela jarinya. 


"Dia kakakku, Rim. Tadi aku minta anterin dia tapi katanya sibuk, ada klien ada urusan penting, ternyata eh ternyata, dia ada di sini santai bersama kamu." Isna menepuk keningnya. 


Pantas saja muka mereka mirip, ternyata saudara. 


Rima menahan tawa melihat rambut acak-acakan Agha. Ia tak menyangka pria yang dari tadi baik padanya itu adalah kakak dari sahabat karibnya sendiri. 


"Lain kali kamu boleh mencakar wajahku, tapi ingat jangan di depan umum." Agha memberi peringatan tegas pada sang adik, walaupun jika diusut ia yang salah, tetap saja menurunkan image nya. 


"Aku bawa sisir, Kak."Rima mengambil sisir dari tasnya dan memberikan pada Agha. 


Pria itu langsung merapikan rambutnya untuk mengembalikan ketampanan yang tiada tara. 


"Sejak kapan kalian saling kenal?" Isna meminum jus milik Rima. Sudah haus duluan karena melihat Agha. 


"Kemarin, kebetulan kak Agha main ke rumah kak Aidin, dan saat itu ban motorku bocor, jadi dia nganterin aku pulang," terang Rima jujur. 


Isna mengangguk mengerti. 

__ADS_1


"Sudah digombalin sama dia?" cetusnya. 


"Apaan sih?" Agha tak terima, menoyor jidat Isna dengan gagang sisir milik Rima. 


__ADS_2