
Zahra tak menghentikan tangannya yang terus memasukkan camilan ke dalam mulut. Matanya tak teralihkan dari televisi yang menyiarkan tentang penangkapan Amera. Sungguh, itu adalah tragedi yang menyesakkan. Apalagi saat Amera memberontak meminta dilepaskan, ia tak sanggup untuk melihat.
Bagaimana jika itu terjadi pada dirinya, pasti tak akan sanggup menjalani. Air mata Zahra merembes membasahi pipi.
Bukan karena wanita itu yang sebentar lagi akan mendekam di penjara dengan pasal berlapis, melainkan nasib anaknya yang ada di panti asuhan.
Aidin yang ada di ruang kerja hanya bisa mendengar siaran tv yang menggema. Meskipun tak ikut melihat secara langsung, ia tahu bagaimana reaksi Amera saat ini, pasti kacau. Tak ingin mengganggu suasana hati Zahra, ia memilih untuk mengabaikan dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Beberapa pelayan masuk mengambil piring kotor yang ada di meja.
"Sekalian belikan camilan." Membuka dompet dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu. Memberikannya pada pelayan yang hampir pergi.
"Camilan apa, Tuan?" tanya pelayan itu seraya menerima uangnya.
"Lihat bungkusnya di kamar," perintah Aidin.
Pelayan itu masuk ke kamar, lalu mengangkat beberapa bungkus camilan dari tong sampah. Ada lima macam camilan yang berbeda, dan mungkin itu yang dimaksud Aidin. Kagum dengan bosnya yang sangat perhatian terhadap Zahra.
Setelah pelayan itu keluar, Zahra mematikan tv nya. Menyelimuti Zea yang sudah mulai memejamkan mata. Ternyata menemani Aidin di kantor membuatnya tenang. Selain bisa mengawasi pria itu, ia juga bisa menikmati udara luar.
Zea kelelahan bermain dengan sang papa dan waktunya tidur siang.
"Mas Sholat dulu, yuk! Setelah itu lanjutkan lagi." Zahra mengucap dari ambang pintu kamar.
Aidin yang bisa mendengar langsung beranjak menghampirinya. Membantu melepas hijab setelah mengunci pintu kamar.
"Jangan nakal, ini kantor." Zahra menghentikan jemari Aidin yang sudah hampir menyentuh sesuatu yang disukai.
Terpaksa Aidin mengurungkan niatnya, takut ada yang masuk ke ruangannya, sedangkan ranjang itu pun cuma ada satu dan sudah ditempati Zea, jika melakukan itu pasti tak bisa bebas seperti di rumah.
Mumpung Zea sedang tertidur pulas mereka sholat berjamaah. Sebab, itu jarang terjadi saat putrinya rewel dan mau digendong yang mengharuskan mereka bergantian.
Di ruangan lain
Richard semakin cemas dengan kehadiran Cherly. Meskipun tidak merasa terganggu dengan adanya gadis itu, tetap saja tidak enak pada Zahra dan Aidin. Apalagi sampai Delia tahu, pasti ia akan habis di tangan wanita itu.
"Kamu gak pulang, Cher?" Setelah sekian jam Richard memecahkan keheningan. Mendekati Cherly yang asik bermain laptop pribadi miliknya.
"Kata kak Zahra kalau mau pulang aku bakalan di panggil," jawab Cherly polos, sedikitpun tak merasa tersinggung dengan ucapan Richard yang bernada mengusir.
__ADS_1
"Begitu ya." Richard yang juga baru saja menjalankan kewajibannya itu kembali duduk di kursi kebesarannya.
Meskipun berada dalam satu ruangan. Mereka berjarak cukup jauh, Richard juga membuka pintu lebar takut terjadi fitnah yang tak diinginkan.
"Kamu kelas berapa?" tanya Richard basa-basi.
"Kelas tiga." Cherly menjawab singkat. Memperbesar gambar yang ada di layar laptop.
"Ini foto siapa, Kak?" tanya nya dengan sedikit ketus.
Richard menghampiri Cherly dan duduk di sampingnya.
Menatap lekat gambar yang tak asing di matanya, bahkan ia masih sering bertemu dengan wanita itu.
"Dia temanku, dulu kita satu kampus, dan sekarang sudah sukses menjadi model dewasa," jelas Richard diiringi dengan senyuman.
Ikut bahagia saat satu persatu sahabatnya menjadi orang yang sukses. Itu artinya perjuangan mereka tak sia-sia.
"Apa kamu tahu? Dia itu paling cantik dan pintar." Tanpa sengaja Richard memuji wanita lain di depan Cherly, dan itu mampu membuatnya cemburu.
Tapi Cherly bukan gadis yang suka menangis dan menyerah, ia lebih percaya diri dan menunjukkan bahwa ia juga bisa seperti wanita yang disanjung oleh Richard.
"Kita lihat saja nanti, lebih cantikan dia atau aku?" Bukannya insecure, ia malah semakin menantang yang membuat Richard terkekeh.
"Suruh Cherly ke sini, Chard," kata Aidin mengawali pembicaraan.
"Baik, Tuan." Setelah menutup teleponnya, Richard mengambill tas milik Cherly.
"Kamu dipanggil Nona Zahra, disuruh ke ruangan Tuan Aidin."
Sebenarnya Cherly masih betah berada di ruangan Richard, namun ia juga tak bisa mengabaikan perintah kakak iparnya.
Bertepatan saat Richard dan Cherly berada di depan ruangan Aidin, Pak Herman keluar dari pintu lift.
Pria tua itu tersenyum melihat Richard yang berlari kecil ke arahnya. Menyambut kedatangan pemilik tempat itu.
"Adiknya Zahra ya?" tebak pak Herman saat Cherly ikut bersalaman. Meskipun hanya satu kali lihat, pak Herman tak lupa dengan gadis yang lumayan mirip dengan sang menantu.
"Iya Pa, aku adiknya kak Zahra." Memeluk pak Herman.
__ADS_1
Hampir saja mengetuk pintu ruangan Aidin, Pak Herman menarik tangan Richard.
"Gak usah diketuk." Meraih knop dan memutarnya.
Pintu terbuka lebar
Tidak ada siapapun di ruangan itu. Pak Herman masuk diikuti Richard dan Cherly dari belakang. Tidak ada yang bersuara. Matanya mengelilingi setiap sudut ruangan yang nampak tak berpenghuni.
"Di mana Aidin?" Pak Herman bertanya tanpa suara.
Richard menggeleng karena ia sendiri tak tahu ke mana perginya pria itu.
Melihat tas milik Zahra masih ada di sofa, sudah dipastikan wanita itu masih ada di sana.
"Mungkin ada di kamar, Tuan," lirih Richard. Ia yakin bahwa Zahra tak keluar melainkan masih ada di tempat itu.
"Papa datang, Din." Pak Herman berjalan ke arah pintu kamar.
Zahra yang terkejut dengan suara bariton itu mendorong tubuh Aidin ke belakang.
Bergegas merapikan hijabnya. Mengusap bibirnya lalu memakai lipstik.
"Cepetan buka pintunya, Mas! Itu seperti suara papa." Zahra semakin gugup, takut mertuanya mengira ia dan Aidin sedang bercumbu.
"Apa salahnya, kita suami istri, gak papa dong." Bisa-bisanya Aidin membantah disaat suasana sedang genting.
Zahra berdecak kesal.
Melihat bayangan Aidin dari pantulan cermin, terlihat dengan jelas pria itu sangat santai. Padahal, ia dipenuhi rasa malu yang mendalam.
"Ayo dong Mas, cepetan!" Zahra semakin geram.
Aidin segera membuka pintu, takut akan lebih marah lagi jika ia mengabaikan permintaannya.
"Papa, ngapain datang ke sini?" Aidin pura-pura memasang wajah terkejut melihat kedatangan pria itu
Memeluknya dengan erat. Semenjak pulang dari Sydney, ia memang belum main ke rumah karena harus menyelesaikan urusannya.
Zahra yang nampak malu-malu menyusul dari belakang. Juga memeluk sang mertua setelah Aidin melepasnya.
__ADS_1
"Ternyata kamu di sini. Tadinya papa datang ke rumah kalian mau jengukin Zea, tapi pembantu bilang kamu ke kantor, jadi papa ke sini."
Sedikit kecewa karena harus putar arah, tapi seketika terobati saat melihat Zea yang masih terlelap di atas ranjang.