
"Ini terlalu lebay gak sih, Ma?" Zahra bertanya lagi pada Delia yang dari tadi menemaninya saat di make up.
Delia menggeleng tanpa suara. Melihat penampilan putrinya dari atas hingga bawah. Kemudian mengangkat kedua jempolnya.
"Kamu cantik banget," puji Delia memperbaiki payet di bagian lengan. Merapikan hijab Zahra yang sudah tertata rapi.
Baju yang dibuat oleh desainer ternama itu terlihat anggun di tubuh Zahra.
Ini adalah hari anniversary yang kedua, namun Zahra merasa itu terlalu berlebihan, bahkan ia merasa menjadi calon pengantin yang akan menjalani resepsi pernikahan.
"Tapi kok aku malu ya, Ma." Zahra tak percaya diri dan terus menatap penampilannya.
Delia meletakkan tas dan mendekatkan wajahnya di wajah sang putri. Saling menatap ke arah yang sama. "Jangan malu, Sayang. Ini hari bahagiamu. Selama ini mama tidak pernah peduli padamu, dan sudah saatnya kamu mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan dari kecil."
Mata Delia berkaca-kaca. Tak mampu membendung kesedihan jika mengingat tentang masa lalu.
"Kira-kira ayah datang gak, ya? Padahal aku pingin banget mama dan ayah foto bersama dengan aku dan mas Aidin." Satu hal lagi yang Zahra inginkan, yaitu kehadiran sang ayah di tengah-tengah pesta nanti.
"Pasti datang," ucap Delia meyakinkan.
Aidin hanya bisa berdiri di depan pintu. Sejak bangun tidur ia belum melihat Zahra sekalipun, dan ingin bersama dengan wanita itu, namun karena ada Delia, ia mengurungkan niatnya dan bergabung dengan yang lain.
"Apa Zahra belum siap, Din?" tanya bu Lilian.
Aidin menatap ke arah pintu kamar sang istri yang sedikit terbuka.
"Aku juga gak tahu, Ma. Di sana ada mama Delia," terangnya.
Tak lama kemudian. Delia keluar dan memanggil Aidin.
Segera pria itu memenuhi panggilan mertuanya.
"Zahra sudah siap, kamu temani dia."
"Baik, Ma," Jawabnya ramah, padahal dalam hati sudah bersorak kegirangan mendengar permintaan mamanya.
Dentuman sepatu dan lantai semakin terdengar pelan, itu artinya Delia sudah menjauh. Aidin membuka pintu kemudian menguncinya lagi.
Matanya langsung terpana saat melihat Zahra duduk ditepi ranjang. Sekujur tubuhnya terasa kaku seolah waktu berhenti sejenak. Jantungnya berdebar-debar seperti saat pertama kali jatuh cinta.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Mas?" Suara Zahra membuyarkan lamunan Aidin yang sudah hampir ke langit ketujuh.
Ternyata ini bukan mimpi.
Aidin menghampiri Zahra dan berlutut di depannya. Mencium punggung tangan wanita itu dengan lembut dan lama.
Keduanya saling tatap dan tersenyum.
"Lihatin apa sih, Mas?" Zahra mengusap wajah Aidin dengan lembut saat pria itu menatapnya tanpa berkedip.
Aidin semakin mengeratkan genggaman tangannya. Mulutnya seakan terkunci dan tak bisa mengucap sepatah katapun, namun hatinya berjanji akan menjaga wanita yang ada di depannya itu sampai kapanpun.
"Lihatin kamu lah, kenapa?" Aidin meraih dagu Zahra dan kembali menatap intens wajah wanita tersebut.
"Gak papa, aku mau kita turun bersama Zea juga."
Aidin mendekatkan bibirnya di telinga Zahra lalu berbisik, "Sepertinya pesta di sini lebih menyenangkan."
Zahra yang terkejut langsung menoleh ke arah Aidin. Niat ingin marah justru terjadi sebuah adegan yang tak diinginkan. Di mana bibir Zahra menabrak pipi pria itu hingga sebuah ciuman terjadi.
Aidin tak membuang kesempatan, secepat kilat ia menahan kepala Zahra untuk tidak mundur. Menggunakan waktu sebaik mungkin untuk bisa menikmati kenyalnya bibir merah itu.
Tak mau terhanyut dalam suasana yang menggiurkan itu, Zahra mencubit pinggang Aidin hingga membuat sang empu meringis dan melepaskan kepalanya.
"Cepat panggil Zea, atau malam ini kita tidur terpisah," ancam Zahra, karena itu adalah senjata paling ampuh untuk membuat sang suami takluk.
Aidin bergegas menghubungi Richard untuk mengantarkan Zea ke kamarnya. Ia tak mau menerima hukuman karena kecerobohannya sendiri.
"Kita tunggu di depan."
Menggandeng tangan Zahra menuju pintu.
Tak lama kemudian, Richard tiba dengan bayi mungil di gendongannya.
"Dedek gak boleh pup lagi ya, kasihan om Richard." Aidin mengambil alih putrinya.
Richard terkekeh, ia pun tak keberatan jika harus mengurus Zea selama pesta berlangsung. Itung-itung pembelajaran sebelum dirinya menjadi seorang ayah.
Sama seperti Zahra dan Aidin, Zea pun memakai gaun berwarna putih dengan bandu yang menghiasi kepalanya. Berjalan bersejajar menyusuri tangga yang menjulang tinggi. Tepuk tangan riuh saat MC mengumumkan kedatangan mereka.
__ADS_1
Ini hanya pesta merayakan ulang tahun pernikahan, namun Zahra merasa menjadi ratu sehari. Bagaimana tidak, pesta pernikahannya pun tak semewah ini. Kala itu ia masih membendung kesedihan karena Delia datang terlambat, sedangkan ibu tirinya tak datang sama sekali. Seolah-olah Zahra tidak penting di mata mereka.
Delia yang berdiri di samping James menyambut kedatangan Zahra dan Aidin.
Memeluknya lagi seperti yang ia lakukan saat di kamar.
"Selamat ya, Nak. Semoga kamu selalu diberi kebahagiaan."
Aidin mengaminkan ucapan Delia dalam hati. Secuil pun tak ingin lagi melihat Zahra sedih, apalagi sampai menitihkan air mata. Dan ia pun berjanji akan mengutuk dirinya sendiri jika itu terjadi.
"Makasih ya, Ma. Terus doakan aku."
Tak hanya Delia, James dan beberapa keluarga lain pun mengucapkan selamat kepada Zahra dan Aidin. Bu Lilian sengaja yang paling akhir di antara yang lainnya.
"Mama dan papa gak punya kado apa-apa," pungkas bu Lilian mengusap pipi mulus Zahra.
"Kado Mama dan Papa sudah yang paling spesial," ujar Zahra yang membuat kedua mertuanya kebingungan.
"Apa?" Mereka bertanya serempak.
Zahra menghadap ke arah Aidin.
"Perubahan mas Aidin adalah kado terindah yang tidak akan tertandingi oleh apapun."
Aidin ingin tertawa keras, namun itulah Zahra. Sesuatu yang di mata orang lain terlihat sepele, namun di mata wanita itu begitu berharga dan patut diacungi jempol.
"Maksud kamu apa, Nak?" tanya Bu Lilian.
Tak hanya Aidin, banyak orang yang ingin mendengar penjelasn Zahra. Sebab, hanya wanita itu yang bisa menjabarkan apa yang diucapkan.
"Sabda nabi, jihad yang paling besar itu adalah jihad melawan hawa nafsu, dan mas Aidin mampu mengalahkannya, itu artinya dia menang. Bukankah itu sangat spesial dan patut dibanggakan?"
Aidin mengusap air matanya yang lolos begitu saja. Tetap tersenyum meskipun hatinya sudah menjerit. Tidak ada yang bisa dibanggakan dalam dirinya. Itulah menurut Aidin, namun istri yang pernah disakiti justru menilai sesuatu yang selama ini dianggapnya remeh.
Aidin mengecup kening Zahra, dalam hatinya berdoa.
Ya Allah, aku tidak yakin bisa masuk ke surga-Mu karena kesalahan yang sangat fatal, tapi berikanlah tempat terindah untuk istri dan anak-anakku kelak.
"Selamat ulang tahun pernikahan yang kedua, Nak." Suara berat dari arah belakang mengejutkan Zahra yang masih berada di pelukan Aidin.
__ADS_1