Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Perasaan Abg


__ADS_3

Setelah menunggu hampir dua jam, akhirnya Aidin keluar dari kamarnya. Bukan waktu yang singkat bagi Richard. Selama itu ia mengisi waktunya dengan mengerjakan beberapa pekerjaan di ruang tengah. Hadirnya Cherly sedikit mengusir rasa bosan yang melanda. 


"Aku pergi dulu." Richard Melambaikan tangannya ke arah Cherly yang masih duduk di sofa. Tak berani akrab dengan gadis itu, karena ia hanyalah bawahan. 


Cherly membalas dengan lambaian tangan. Matanya tak teralihkan dari tubuh tegap tinggi yang membuatnya terpesona. 


Ternyata kak Richard baik juga ya. Aku kira setiap sekretaris itu galak, tapi dia lembut. 


Semakin terhipnotis dengan pesona seorang Richard. 


Tertawa dalam hati. Ini pertama kalinya, Cherly bisa dekat dengan laki-laki, dan itu sangat menyenangkan baginya. Meskipun sikapnya lumayan dingin, Richard tetap menjawab pertanyaannya dengan ramah dan sopan. 


Zahra menggendong Zea. Mengantarkan hingga ke teras depan. Mencium punggung tangan suaminya  sebagai tanda berpamitan. 


"Da...da papa, jangan lupa makan ya." Mengingatkan Aidin untuk tetap menjaga kesehatannya. 


Aidin mengecup kening Zahra. Mencium kedua pipi Zea bergantian. 


"Dedek dan Mama juga jangan lupa makan ya." Mengingatkan balik. Sebab, Zahra pun sering lupa makan jika sudah sibuk dengan pekerjaan rumah. 


"Hati hati ya, Mas!"


Aidin mengangguk lalu masuk ke mobil. Zahra masuk ke dalam menghampiri Cherly yang ada di ruang tengah. 


"Onty Cherly ngapain?" Melirik layar ponsel sang adik. 


Gadis yang baru kelas tiga Smp itu tersipu malu. Menyembunyikan benda pipih nya di balik bantal. Menggeleng cepat seperti orang panik. 


Zahra menatap sang adik curiga, tidak biasanya bocah itu main kucing-kucingan padanya. Sekecil apapun akan bercerita dan meminta pendapat. Ia duduk di samping Cherly, tahu bagaimana cara membujuknya. 


"Kalau gak mau jujur nanti kakak akan ceritakan ini ke mama," ancam Zahra dengan suara lembut tapi menekankan. 


Dari sekian orang hanya Delia yang Cherly takuti. Selain galak, ibu kandungnya itu juga selalu tegas saat memperingatkan. Harus mematuhi peraturannya jika tidak ingin terkena marah. 


Cherly menundukkan kepalanya, kemudian memberikan benda pipihnya ke tangan sang kakak. 


Zahra mengusap layar ponsel sang adik, nampak sebuah foto seorang pria di sana. Wajahnya yang tak asing membuatnya tertawa. 

__ADS_1


"Aku cuma kagum kok, Kak. Gak lebih." Cherly sedikit pucat, takut Zahra mengadu ke mamanya tentang itu. Pasti akan menjadi masalah besar, sedangkan Delia sudah berpesan tidak boleh pacaran sebelum dewasa. 


"Orang yang kagum artinya suka, dan itu beda tipis dengan cinta." Meletakkan ponselnya lagi di atas meja. Menjelaskan pada Cherly tentang apa yang dirasa gadis itu saat ini. 


"Kamu suka dengan Richard?" tanya  Zahra lebih serius. 


Ia tak ingin salah paham dengan adiknya yang sudah beranjak dewasa. Juga akan memberikan arahan supaya tetap menjaga diri. Usianya masih terlalu muda untuk merasakan pahit manisnya menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis. 


Cherly menggeleng pelan, masih mengelak. Belum tahu perasaan apa yang saat ini menyelimutinya. 


"Lalu kenapa kamu menyimpan foto Richard?" Tak henti-hentinya Zahra mengintimidasi. 


"I–itu." Cherly memotong ucapananya, ia tak bisa menjelaskan kenapa bisa terjadi hal semacam itu. 


"Yasudah gak papa, tapi jangan sampai mama tahu, takutnya dia salah paham pada Richard dan akan menghukumnya," tutur Zahra yang tak mau terjadi kesalahpahaman dan akan berakibat fatal. 


Kini Cherly tahu, dimana ia akan berbagi dan menuangkan keluh kesahnya, yaitu pada kakak tercinta, karena hanya wanita itu yang mengerti dirinya. 


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tapi sedetikpun Aidin belum bisa istirahat. Masih fokus dengan beberapa pekerjaan yang sedikit rumit.


Begitu juga dengan Richard, sepertinya pria itu pun lupa makan sama seperti bosnya yang terlalu larut dalam pekerjaan. Buktinya semenjak berangkat tak datang ke ruangannya sekali pun. 


"Selamat siang dengan Aidin Adijaya di sini." Begitu gagahnya saat memperkenalkan pada sang penelpon. 


"Selamat siang, Tuan. Saya waitress dari restoran Aulia mau mengantar makanan yang Anda pesan," jawabnya dengan suara sedikit serak.


Aidin menutup laptopnya. Memutar otaknya, merasa tak memesan makanan dari restoran itu, dan tiba-tiba ada yang akan mengantar makanannya.


Apa Richard yang memesan, pikirnya dalam hati. 


"Memangnya siapa yang memesan, Mbak?" tanya Aidin lagi, memastikan jika wanita yang ada di balik telepon itu tak salah kirim. 


"Tuan Aidin Adijaya, beliau yang memesan makanan berupa sate kambing, burger, ayam betutu, steack." Suara wanita itu mengucap beberapa makanan yang disukai Aidin. 


Aidin berpikir keras, mengabsen nama  orang-orang penting di kantor, tak mungkin ada yang berani menggunakan namanya. 


Kalau bukan diar kantor ini, lalu siapa? Apa ini jebakan?

__ADS_1


Aidin berdiri dari duduknya tanpa memutus sambungannya. Membuka pintu ruangan. Betapa terkejutnya saat melihat Zahra dan beberapa orang yang berdiri di depan ruangannya. 


"Hei, ngapain kamu di sini?" Tanpa menurunkan ponselnya dari telinga Aidin menghampiri tamunya. Menatap Zea yang ada di gendongan sang istri. Mengambil alih putrinya dengan satu tangan. 


"Memangnya gak boleh?" Zahra memasukkan benda pipihnya ke dalam tas. Beberapa orang yang membawa makanan itu masuk ke ruangan Aidin dan meletakkan makanan di sana. 


"Boleh, tapi kan bisa nelpon dulu." 


"Aku sudah nelpon." Menyungutkan kepalanya ke arah ponsel Aidin yang ada di tangannya. 


Kini ia baru melihat nama yang baru saja menghubunginya. Ternyata istrinya sendiri mengatasnamakan waitress dari restoran Aulia. 


"Jadi, tadi kamu yang nelpon?" Memastikannya lagi. 


Memeluk dan membawanya masuk, tak menyangka kedatangan tamu spesial disaat dirinya lelah. 


Menutup pintunya lagi. Ruangan terasa lebih sejuk saat dihadiri orang-orang tercinta. 


"Cherly juga ikut." Zahra duduk di samping Aidin yang mulai sibuk dengan putrinya. 


"Di mana dia?" tanya Aidin.


"Di ruangan Richard. Katanya mau menemaniya makan siang." Zahra menunjuk ruangan sang sekretaris.  


"O…" Aidin hanya ber o ria mendengar itu. Kembali fokus dengan putrinya yang semakin hari semakin menggemaskan.


"Oh iya, Mas. Kayaknya Cherly suka sama Richard." Zahra mengadu pada sang suami dengan apa yang ia lihat.


Tak mau menanggapi lebih dalam. Aidin hanya mengangguk saja. Ia tahu memperjuangkan putri dari Delia sangat sulit, apalagi Cherly yang masih kecil dan pasti membutuhkan perjuangan ekstra. 


"Kamu setuju, gak?" Mulai menyuapkan makanan di mulut Aidin.


Aidin tak bisa menjawab saat jari mungil Zea terus mencakar hidungnya. Kini bocah itu mulai lincah menggerakkan tangan untuk meraih sesuatu yang diinginkan. 


"Kalau menurut aku mereka cocok sih, Tapi gak tahu mama setuju atau tidak." Zahra kembali memberikan pendapat. 


Soal jodoh hanya Allah yang tahu, namun ia merasa kalau Richard laki-laki yang baik untuk adiknya. 

__ADS_1


"Kita doakan saja mama mau menerima Richard," pungkas Aidin yang tak bisa terlalu berharap penuh. 


                     


__ADS_2