Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Aneh


__ADS_3

Mata aidin menyusuri setiap ruangan rumah itu. Hampir keseluruhan perabot sudah tak layak pakai. Ia duduk di kursi ruang tamu, semua sungguh berbalik. Benar apa kata Zahra, bahwa kekayaan itu hanya titipan dan sewaktu-waktu akan lenyap hanya karena kesombongan. 


Terlihat ibu tiri Zahra mengintip dengan dua anak yang lainnya. Jika dilihat sangat miris yang membuat hati Aidin tersayat. 


"Sejak kapan Zahra pergi dari rumah?" Suara pak Adinata membuyarkan lamunan Aidin. 


"Semalam," jawab Aidin singkat. Dadanya terlalu sesak karena belum juga menemukan sang istri. 


Kini penyesalan yang tak berujung tak hanya dialami Aidin, namun juga Adinata yang memikirkan nasib putri pertamanya. 


Bagaimana dia melalui hidupnya di luar yang penuh dengan kekerasan? 


Sedangkan pendidikannya yang rendah tak menjamin mendapatkan pekerjaan bagus. 


Tinggal di mana? Dengan siapa? 


Sudah makan atau belum? 


Apakah tempat tidurnya nyaman? 


Masih banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan. Wanita yang selama ini tak pernah dianggap keberadaannya justru meninggalkan kenangan yang sangat manis. 


Kenangan demi kenangan terlintas membuat air mata Adinata berlinang. 


Teringat gadis kecil yang tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan harus mengurus adik-adiknya. Disaat anak seumurannya bermain dan bersenang-senang, ia justru harus membantu membersihkan rumah. Hingga dewasa pun belum ada kata bahagia yang tersemat. Haus akan kasih sayang kedua orang tua mampu membuat gadis itu mandiri. 


Ayah, kenapa hanya Rima dan Ihsan yang dibelikan mainan,  punyaku mana?


Bocah berumur lima tahun yang merengek minta mainan, namun selalu diabaikan. Bajunya paling jelek di antara yang lainnya. Tidak ada kebebasan. Namun, bisa menjadi wanita sholehah dan berakhlak mulia. 


Kenapa yang lain makan di restoran,  sedangkan aku makan di rumah.  Sebenarnya aku anak ayah atau bukan? 


Pertanyaan yang sering meluncur saat mendapatkan ketidakadilan. Protes dengan sikap saudara yang sering mencibirnya.


Kini semua itu mencuat memenuhi kepala Adinata. 


Kau memang anakku,  tapi kau terlahir dari wanita murahan,  jadi jangan berharap mendapatkan kasih sayang dariku seperti adik-adikmu.


Suara lantang itu yang sering membuat Zahra kecil menangis di sudut kamar.  Meratapi nasib hidup di antara orang-orang yang membencinya. Berjuang demi mendapatkan kasih sayang. 


Akhirnya memutuskan untuk berhijab. Ingin membuktikan pada ayahnya, bahwa ia tak seburuk ibu nya.


"Apa kau sudah mencarinya di rumah temannya, mungkin saja dia menginap di sana?"

__ADS_1


"Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi Zahra tidak ketemu. Apa ayah mempunyai saudara jauh?" 


"Tunggu sebentar." 


Adinata masuk ke kamar, tak lama kemudian keluar membawa ponsel lalu menghubungi seseorang. 


Dari sekian kerabat yang dihubungi,  tak ada satupun yang didatangi putrinya. Bahkan dari mereka pun ada yang merindukan gadis itu, sikapnya yang lemah lembut dan sopan membuat beberapa orang terpesona. 


Adinata bisa melihat semburat kesedihan di wajah sang menantu. Selama ini ia tak tahu bagaimana nasib Zahra saat menjadi istri pria di depannya itu, namun ia yakin bahwa Aidin sangat mencintainya. Terbukti dari kegelisahan yang sangat mendalam. 


"Sekarang ayah kerja di mana?" Aidin mengalihkan pembicaraan. 


"Di perusahan milik teman ayah." 


"Mulai besok ayah kembali ke perusahaan, aku sudah membelinya dari tuan Condro."


Seketika itu, istri Adinata dan kedua anaknya yang masih ada di rumah ikut  keluar. 


"Benarkah?" tanya nya antusias. 


Aidin menatapnya sinis. Ia tahu bagaimana perlakuan mereka pada Zahra, dan kali ini tak bisa ditolerir. Seandainya Zahra sudah ketemu, ia pun tak ingin mereka mendekati istrinya. 


"Tapi perusahaan itu bukan atas nama ayah. Melainkan nama Zahra. Ayah hanya akan mengelolanya, nanti kalau Zahra sudah kembali, dia yang akan memutuskan."


Aidin beranjak dari duduknya. Ia rasa sudah cukup dan akan pulang. Melanjutkan misinya yang belum tercapai. 


"Kalau ayah ada kabar tentang Zahra, hubungi aku. Nanti Richard akan mengurus rumah ayah, itupun numpang karena aku memberikan rumah itu untuk Zahra."


"Terima kasih." Menatap punggung Aidin berlalu. 


Meskipun jengkel, ibu tiri Zahra itu pun bisa bernapas lega bisa terbebas dari belenggu kemiskinan. 


"Ingat, Bu. Sekarang aku tidak akan menuruti keinginanmu. Dunia sudah berputar. Kita hanya numpang di rumah Zahra." Adinata mengingatkan. Ia bergegas ke kamar dan menguncinya. 


Mencoba menghubungi putri bungsunya. 


"Kamu dimana, Za. Maafkan ayah." Air mata kembali membasahi pipinya begitu saja.


"Kita ke mana lagi, Tuan?" Richard membuka kan pintu mobil untuk Aidin. 


"Ke rumah sakit." Duduk di jok belakang. Menahan air liurnya yang hampir menetes saat melihat buah mangga di balik gerbang rumah Adinata. 


"Tunggu, Chard!" Menghentikan Richard yang hampir menyalakan mesin. 

__ADS_1


"Apa kau bisa memanjat pohon?" tanya Aidin malu-malu. Matanya tak teralihkan dari mangga yang bergelantungan, sungguh itu sangat menyiksa lidah Aidin.


''Manjat?" tanya Richard memastikan,  dalam hidupnya ini kali pertama ia mendapatkan pertanyaan itu. Pria keturunan blasteran Amerika dan Jawa itu bingung.


"Iya, manjat pohon?"


Gila, aku kan gak pernah Manjat, kenapaTuan Aidin menyuruhku. 


"Gak bisa, Tuan," jawabnya sedikit ragu, karena ia tahu pasti Aidin akan sedikit memaksa. 


"Ayolah, demi aku, masa gak bisa manjat, malu sama monyet." 


Kenapa jadi disamakan dengan kera. 


Terpaksa Richard turun. Berjalan pelan menghampiri pohon mangga yang berdiri kokoh di samping rumah Adinata. 


Aidin ikut turun dan berdiri disamping mobil. Menyaksikan Richard yang nampak ragu dan terus menoleh ke arah nya. 


"Cepetan, Chard?" Suara itu terus mendorong dan melenyapkan rasa takutnya. 


Richard melepas jas dan melemparnya ke sembarang arah. Setelah itu melipat baju nya ke siku. Celana pun dinaikkan ke lutut hingga menampakkan jenjang kaki putih yang dipenuhi dengan bulu halus.


Kedua tangannya mulai menyentuh pohon yang terasa kasar. Banyak serangga yang naik turun membuatnya bergidik ngeri.


"Ini kalau terkena kulit bisa luka."  


Baru saja ingin mengangkat satu kaki, pak Adinata berteriak dari arah depan pintu. 


"Mau ngapain?" tanya Adinata menghampiri Richard.


"Tuan Aidin meminta buah mangga." 


Adinata menatap Aidin dari jauh. "Ini masih muda, rasanya masam." Menghampiri sang menantu. Ingin mendengar langsung dari pria itu. 


"Kenapa gak beli saja, itu masih sangat muda dan pasti rasanya masam," terang Adinata serius. Tak mau terjadi sesuatu pada perut Aidin yang pasti belum terbiasa makan makanan sembarangan. 


"Gak papa Yah,  aku pengen yang itu." 


Adinata menggaruk alisnya yang tidak gatal. "Kamu ini sangat aneh, seperti orang ngidam saja. Tunggu di sini, biar ayah yang ambilkan." 


Aidin terpaku,  bukan karena Adinata yang ingin mengambilkan, melainkan kata ngidam yang membuat jantungnya berdegup kencang.


Selama ini tak pernah terpikirkan ingin memiliki anak dari seorang Zahra, dan merasa itu adalah hal yang tabu.

__ADS_1


__ADS_2