Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Kembali aman


__ADS_3

Keadaan kembali aman. Seusai sarapan bersama dengan keluarga Delia, Aidin memboyong keluarga kecilnya pulang. Richard yang masih ada di sana membantu Sang Bos untuk membawa barang-barangnya ke mobil. 


"Semoga keluarga kalian tidak ada masalah lagi. Mama harap kamu bisa menjaga Zahra dengan baik," pesan Delia pada Aidin. 


Sebagai seorang ibu, kini dia sudah melupakan masa lalu, dendam kesumat yang pernah membuncah lenyap begitu saja saat melihat putri sulungnya bahagia. Anak hasil pernikahannya dengan Adinata itu harus terombang-ambing hanya karena keegoisan orang tua yang tak bertanggung jawab. 


Zahra memeluk Delia dengan erat. "Makasih, Ma. Kapan-kapan aku dan mas Aidin pasti main ke sini lagi." 


Berat hati mereka harus berpisah. 


Cherly pun ikut memeluk sang kakak yang sudah berada di samping mobil. "Aku boleh ikut gak, Kak? Mau main sama Zea." Ini pertama kali gadis yang sebentar lagi berumur lima belas tahun itu keluar. 


Delia memperlakukannya bak putri ratu yang keluar penuh dengan pengawalan ketat. Kini saatnya ia bebas dan mengenal dunia luar.


Zahra menatap Aidin meminta pria itu yang menjawab. 


"Boleh, ikut saja, nanti sore kakak anterin pulang."


Seperti mendapatkan hadiah spesial, Cherly melompat kegirangan. Kemudian mencium Delia dan James bergantian. 


"Tapi ingat, hanya di rumah kak Zahra, gak boleh keluyuran."


Cherly mengangguk lalu membuka pintu bagian depan, itu artinya ia duduk di samping Richard yang menyetir. 


Delia dan James saling pandang melihat kecentilan putrinya. Yang mereka lihat gadis itu kalem seperti  Zahra, tapi entah kenapa pagi ini terasa berbeda. 


Apakah Cherly sudah mulai mengenal kata 'cinta'? 


Atau jangan-jangan dia sudah punya pacar?


Sebagai orang tua Delia waswas. Kehilangan Zahra menjadi pelajaran baginya. Dan saat ini waktunya untuk menjadi orang tua yang baik. 


Lambaian tangan mengiringi saat mobil Aidin keluar dari gerbang. Delia sudah bisa tenang setelah mendengar kabar bahwa wanita yang mengusik hidup Aidin sudah tertangkap.


"Kita langsung ke kantor atau ke rumah, Tuan?" Richard menatap Aidin yang sibuk bermain dengan Zea itu dari pantulan spion. 


"Ke rumah dulu, setelah itu baru ke kantor." 


Richard kembali melirik Cherly yang nampak senyum-senyum dengan ponsel nya, namun ia tak berani menyapa gadis piyik tersebut, takut terkena bogem oleh Aidin yang berstatus kakak iparnya. 

__ADS_1


Tak terasa mobil sudah tiba di depan rumah. Richard yang turun lebih dulu langsung membukakan pintu untuk Zahra, Aidin dan juga Cherly. 


"Aku bisa membuka sendiri, Kak," ucap Cherly sungkan. 


Richard terbelalak dengan panggilan yang disematkan Cherly untuknya. 


Kak. 


Panggilan itu seperti aneh, pria yang selama ini dipanggil om oleh semua keponakannya. Mendadak menjadi seorang kakak di mata gadis cantik itu. 


"Kak Richard, kamu mau di situ sampai kapan?" Teriakan suara cempreng membuat Richard seketika panik. Tak sadar saat semua orang sudah pergi karena terlalu terbuai, bahkan bongkahan es balok pun seakan tak bisa membekukan hatinya yang kini meleleh karena gadis kecil itu. 


"I–iya, aku ambil koper Tuan Aidin dulu," jawabanya dengan gugup. 


"Gak usah, semua sudah dibawa masuk."


Mbak Lela tertawa geli melihat sikap Richard. 


"Kenapa aku jadi salah tingkah gini sih?" Richard hanya bisa menggerutu. Seumur-umur ia tak pernah segugup ini. Hanya menghadapi anak kecil seusia  Cherly saja kenapa sudah panas dingin. 


Masuk setelah mengatur jantungnya yang tadi berpacu dengan kecepatan tinggi. 


Richard mengusap keringat yang membasahi keningnya. Ia membereskan map yang ada di ruang tengah. Persiapan untuk kembali fokus pada pekerjaannya. 


"Mau aku bantu, Kak?" sapa suara yang tak asing lagi bagi seorang Richard. Menoleh ke arah sumber suara, entah sejak kapan gadis itu berdiri di belakangnya, Richard pun tak menyadari kedatangannya. 


"Gak susah, aku bisa sendiri, kamu istirahat saja."


Richard sudah tak se gugup tadi, ia bisa menjawab pertanyaan Cherly dengan lancar. 


"Baiklah, kalau begitu aku ke kamar Zea dulu ya." 


Richard mengangguk tanpa suara. Tak terlalu menanggapi Cherly yang menurutnya masih bau kencur. 


Di dalam kamar 


Aidin lasgung berbaring di atas pembaringan untuk mengurai rasa lelahnya, sedangkan Zahra ke kamar mandi. 


Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. 

__ADS_1


Pemandangan yang sangat apik membuat Aidin terpana. Matanya tak berkedip saat melihat sesuatu yang jarang sekali ia lihat. Dimana, Zahra hanya memakai handuk pendek yang mengekspos bagian atas dan bawah. 


Zahra yang tak menyadari tatapan Aidin itu berjalan santai bak model. Menuju ke arah lemari lalu membukanya. Tangannya mengulur memilih baju yang akan dipakainya. 


"Mas, kalau aku pakai baju ini gak papa ya?" Menunjuk daster rumahan yang bermotif bunga. 


Aidin tak menjawab, ia masih terpaku dengan tubuh seksi Zahra. Meskipun ia sudah pernah melihat keluk di balik handuk itu, tetap saja ini adalah kesempatan emas. 


"Mas," pekik Zahra berdiri di sisi ranjang. 


Aidin gelagapan. Ia tak bisa mengucap. Bibirnya kaku karena tak sinkron dengan hatinya yang ingin mengatakan, telanjang saja. 


"Pendek juga gak papa, Sayang. Sebentar saja, nanti kamu boleh pakai baju gamis lagi." Memohon dengan muka melas. Jiwa kelelakiannya sudah bangkit, tapi Aidin masih sungkan mengutarakannya. 


Ia yang kini memilih baju untuk Zahra. Membuka kemari bagian pinggir lalu menarik tangan Istrinya. 


"Pakai baju ini saja."


Kening Zahra mengernyit. Lalu kepalanya menggeleng. "Aku gak mau." Teringat dengan jelas saat ia memakainya, bahkan sedikitpun Aidin tak ingin menyentuhnya dan memilih ngobrol dengan Amera. 


"Kenapa?" tanya Aidin antusias. 


"Aku pernah memakainya, tapi kamu gak peduli dan lebih mementingkan telepon dari Amera. Kamu memujinya di depanku. Seolah-olah aku ini tidak ada, kamu perhatian dan melarangnya begadang, takut dia sakit, sedangkan padaku? Kamu selalu cuek. Pokoknya aku gak mau memakainya." Menutup pintunya lagi. 


Kenangan pahit itu kembali muncul saat menyinggung sesuatu di masa lalu. 


Aidin terdiam. Sedikitpun tak ingin bergeser dari tempatnya. Dadanya terlalu sesak menerima olokan dari Zahra. Walaupun sekarang mengatakan hanya ada kamu, tetap saja di masa lalu ada orang lain. 


"Kamu kenapa, Mas?" Zahra melambaikan tangannya tepat di wajah Aidin. Ia tak mengerti dengan suaminya yang tiba-tiba saja membisu setelah menyuruhnya memakai lingerie. 


"A–aku gak papa." 


Jadi aku hanya melamun, Ternyata Zahra tidak mengungkit masalah itu. 


Memeluk Zahra yang sudah mengambil baju setan.


"Gak usah pakai itu, pakai yang lain saja." Aidin melempar baju yang ada di tangan Zahra itu ke keranjang. Kemudian mengambil baju yang lebih sopan. 


"Kalau gak usah pakai baju bagaimana?" goda Zahra berbisik, sengaja menawarkan diri pada Aidin yang sudah nampak diselimuti gairah. 

__ADS_1


Tanpa basa-basi Aidin menyambar sesuatu yang kini membuatnya ketagihan.


__ADS_2