
Aidin duduk di depan mama Delia setelah dipersilahkan. Mereka saling berhadapan terhalang meja. Banyak dokumen di atas meja yang membuat hati Aidin ketar-ketir. Ini bukan pertama kali mereka bertemu, akan tetapi ada yang berbeda di antara keduanya.
"Kau pasti bertanya-tanya. Kenapa aku memanggilmu ke sini?" Delia membuka suara, mengawali pembicaraan memecahkan suasana yang terasa canggung.
Aidin membius bibirnya, otaknya masih menerka-nerka tujuan wanita itu ingin bertemu dengan nya.
"Ceraikan Zahra!" lanjutnya.
"Gak." Aidin menjawab tanpa rasa ragu sambil menggeleng.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Zahra."
Delia menyunggingkan bibirnya. Menatap Aidin sinis. Lalu, membuka dokumen yang ada di depannya.
"Kenapa? Mau sampai kapan kamu menyakiti dia?" Mata mama Delia mulai berkaca-kaca. Jika teringat tentang kisah hidup putrinya hatinya sakit bak diremas-remas.
"Aku tidak akan menyakiti dia lagi, Ma. Mama menyuruhku menceraikan nya. Itu artinya mama tahu keberadaan Zahra."
"Apa itu penting buat kamu?"
Aidin mengangguk cepat. "Sangat penting."
Delia melihat kesungguhan dari bola mata Aidin yang nampak sendu, namun ia tak percaya begitu saja dengan pria yang pernah menghianati putrinya.
"Sayang sekali dia sudah tidak mau bertemu denganmu. Jadi jangan berharap kamu bisa kembali padanya."
Sangat menyakitkan bagi seorang Aidin. Wanita yang berhati lembut dan selalu memaafkan semua kesalahannya kini benar-benar menutup pintu hati untuknya. Bahkan tidak ingin bertemu dengannya.
"Dia cuma memintaku untuk mengurus perceraiannya. Sekarang kamu tanda tangani. Masih banyak yang harus aku urus."
Dia bukan seorang ibu yang membesarkan putrinya, juga bukan yang memberikan asi walau setetes, namun sekarang merangkap menjadi ibu sekaligus ayah yang akan memenuhi semua permintaannya.
Menyodorkan beberapa dokumen di depan Aidin yang dari tadi terus menggeleng.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikannya," ucap Aidin penuh penyesalan. Meraih dokumen itu dan merobek nya asal.
Membuangnya di tong sampah yang ada di depan. Lalu kembali duduk di tempatnya semula.
"Sekarang mama katakan! Di mana Zahra?"
Delia mengambil tas nya lalu berdiri. Ternyata pertemuannya dengan Aidin tak membuahkan hasil, bahkan surat penting yang seharusnya ditandatangani malah terbuang sia-sia.
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku tidak akan memberi tahu kamu di mana putriku tinggal." Meninggalkan cafe diikuti beberapa orang dari belakang.
Mama membawa surat perceraian, itu artinya dia tahu dimana Zahra.
Melihat mobil Delia yang keluar dari gerbang, Aidin bergegas keluar dan melajukan mobilnya. Mengikuti mobil sang mertua yang ada di depannya.
Bukan rumah yang asing lagi bagi Aidin. Ia menghentikan mobilnya di depan gerbang karena penjaga buru-buru menutupnya setelah mobil sang majikan masuk.
"Buka gerbangnya, Ma. Aku ingin bertemu Zahra."
Delia yang baru turun hanya menatap Aidin. Kemudian memanggil pengawal untuk membukanya.
"Mau apa kau ke sini?"
Delia meminta pengawal itu untuk berbaris menghalangi langkah Aidin yang hampir mendekatinya.
"Aku mau bertemu dengan Zahra, Ma."
Delia sudah kehabisan kata-kata. Percuma meladeni orang yang setengah gila seperti menantunya itu.
"Zahra tidak tinggal di sini. Sekarang kamu pergi atau pulang jadi mayat."
"Aku tidak akan pergi sebelum mama memberi tahu keberadaan Zahra."
Hampir saja Aidin melangkah, seorang pria berseragam hitam menghalanginya. Tanpa basa-basi, ia pun melayangkan pukulan di tubuh pria itu. Pengawal yang lain pun membalas dengan memukul wajah Aidin sehingga tersentak ke belakang.
Aidin sudah tahu tak bisa melawan mereka yang berjumlah lebih banyak, namun ia penasaran dengan ucapan mama Delia dan yakin bahwa istrinya ada di dalam.
"Keluarlah, Za! Aku ingin bicara dengan kamu," teriak Aidin tanpa rasa lelah. Sekali lagi, ia tak mau menyerah. Meskipun sudah dikepung, tak ada rasa takut sedikitpun, bahkan seolah-olah menantang mereka yang sudah siap melawannya.
Aidin mendorong dua orang ke arah kiri dan kanan, kemudian menerobos dari sela-sela beberapa orang. Akan tetapi usahanya pun gagal saat dari arah belakang ada menangkapnya.
"Lepaskan aku!"
Aidin tak tinggal diam, ia mencoba melawan mereka dengan sisa tenaga yang dimiliki. Merasa mendapatkan perlawanan, mereka memukul secara bergantian hingga Aidin lemah tak berdaya.
"Masih mampu melawan kami?"
Mereka melepaskan Aidin dengan pelan hingga pria itu ambruk. Darah segar bercucuran dari hidung dan bibir. Wajahnya dipenuhi dengan lebam. Air mata menetes begitu saja saat tubuhnya benar-benar tumbang.
Hanya ada nama Zahra yang ingin disebut, itu pun hanya tertahan di kerongkongan saat pandangannya mulai gelap.
__ADS_1
Mama Delia yang dari tadi mengawasi di balik pintu itu pun keluar menghampiri Aidin yang sudah tergeletak di depan teras.
"Periksa dia! Kalau sudah mati langsung dikubur saja, kalau masih hidup bawa ke rumah sakit."
Setelah memeriksa denyut nadi Aidin, mereka mengatakan bahwa pria itu hanya pingsan.
"Lempar ke jalanan!" titah Delia tanpa belas kasihan.
"Jangan!" sergah suara lembut dari dalam membuat semua orang menoleh.
Di rumah sakit
Darren mondar-mandir dengan wajah cemasnya. Sudah hampir seharian penuh Aidin tak kembali. Pria itu juga tak memberinya kabar, sedangkan ponselnya tak bisa dihubungi.
"Mungkin dia istirahat di rumah, Ren." Pak Herman menenangkan. Sebenarnya ia sendiri juga khawatir dengan pertemuan Aidin dan Delia, tapi setidaknya berusaha tenang.
"Tapi bagaimana kalau __"
"Permisi, Tuan," sapa seorang suster menghentikan ucapan Darren.
"Ada apa, Sus?" tanya Darren dengan kepanikannya.
"Tuan Aidin ada di UGD, dia terluka parah sepertinya habis dipukuli orang."
Tak hanya Darren, pak Herman dan Bu Lilian ikut terkejut mendengar penuturan itu.
Darren bergegas mengikuti suster, Bu Lilian dan pak Herman serta Keysa menyusul dari belakang.
Benar saja, pria yang gagah nan tampan itu berbaring tak berdaya. Wajahnya dipenuhi dengan luka memar dan perban.
Bu Lilian menatap nanar sang putra yang memejamkan mata. Memastikan itu adalah ulah Delia. Sebab, terakhir kali Aidin pergi untuk menemuinya.
"Siapa yang membawa dia kesini, Dok?" Darren mengusap wajah sang adik dengan pelan, takut mengusik tidurnya.
"Ada beberapa orang yang membawanya. Mereka langsung pergi setelah membayar biaya administrasi, tapi sebelum ke sini luka Tuan Aidin sudah di obati."
"Maksud, Dokter?" Darren menatap dokter yang ada di sampingnya dengan lekat.
"Semua perban ini bukan pihak kami yang memasang, melainkan orang lain. Sepertinya mereka sengaja mengobati luka Tuan Aidin sebelum di bawa ke sini. Entah apa motif nya, kami juga tidak tahu."
Apa mungkin Zahra yang melakukan semua ini?
__ADS_1
Di balik luka itu ada sesuatu yang membuat Darren lega. Jika benar yang mengobati luka Aidin adalah adik iparnya, itu artinya Zahra melihat pengorbanan yang luar biasa dari pria tersebut.