Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Siasat Aidin


__ADS_3

Bukan tanpa alasan Darren bicara seperti itu. Pasalnya, ia pernah melihat Amera jalan dengan pria lain. Meskipun belum tahu hubungan apa yang mereka jalani,  tetap saja itu akan memberi sedikit celah bagi Aidin yang merasa disudutkan. 


"Kau mau mengelak perbuatanmu?" teriak Amera menunjuk Aidin.


"Adikku tidak bicara apapun, tapi aku yang tidak percaya." Darren berdiri di depan sang adik, melindungi. Aidin cukup lemah menghadapi masalah sendirian dan butuh bantuannya. Pikirannya sudah kacau dengan ngidam yang menyiksanya dan mencari Zahra yang tak kunjung ditemukan.


"Kalau bayi yang kau kandung adalah keponakanku, kami akan bertanggung jawab," imbuhnya menjelaskan.


Berdosa sekali jika mereka menyangkal,  karena pada dasarnya Aidin memang pernah menyentuh wanita itu. 


"Oke, aku tunggu janjimu." 


"Kita akan lakukan tes DNA."


Hening sejenak, Amera tak menjawab apapun. Menatap seluruh keluarga Aidin bergantian. Matanya berhenti pada sosok pria yang sangat ia cintai.


"Aku tidak takut," tantang Amera penuh percaya diri. 


"Tidak usah, Kak. Aku akan bertanggung jawab," sergah Aidin. Berjalan pelan melewati sang kakak yang ada di depannya. 


"Ini gak lucu, Din." Darren tak terima dengan keputusan itu. Menarik lengan Aidin hingga terhuyung dan hampir jatuh. 


Bu Lilian terus menggeleng,  tak percaya dengan yang diucapkan putra bungsunya.  Lalu ke mana janjinya selama ini yang akan mencari  Zahra dan meminta maaf. Bahkan Aidin pernah berkata sampai kapanpun akan menunggu wanita itu. Tapi sekarang akan bertanggung jawab dengan bayi yang belum tentu darah dagingnya. 


"Gak papa, Kak. Bukankah setiap apa yang kita lakukan harus dipertanggungjawabkan?"


Apa-apaan ini, di mana otak nya, dasar adik gak tahu diri, di bela malah ngelunjak. Darren hanya bisa menggerutu dalam hati, enggan ikut campur lagi. 


"Kamu mau menikah denganku, 'kan?" tanya Aidin serius. Kali ini ia ingin menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan dari orang lain. 


Amera tersenyum bahagia. Menatap manik mata pria yang selama ini memberikan semua yang diinginkan. 

__ADS_1


"Aku mau. Bukankah kau memang pernah berjanji akan menikahiku?" Berhamburan memeluk pria yang dirindukan. 


"Aku akan segera menikahimu, tapi __"  Ucapan Aidin berhenti sejenak. "Kau harus siap hidup miskin," lanjutnya. 


Amera mengendurkan pelukannya. Kepalanya mendongak menatap kedua manik mata Aidin dengan intens. Mencari sebuah kebohongan yang tak bisa ia temukan. 


"Pa, Ma. Mulai hari ini aku akan menyerahkan perusahaan pada kak Darren. Dia yang akan mengurus semuanya." 


"Kenapa seperti itu. Bukankah kau juga ikut membesarkan nama perusahaan itu. Ini tidak adil. Kau mau kasih makan apa anak kita nanti?" Amera angkat bicara, tak mengerti jalan pikiran Aidin. 


Darren diam. Ia mulai mencerna setiap perkataan Aidin yang sedikit membingungkan, namun dibalik itu semua ia yakin ada rencana lain. 


"Ini sangat adil, Me. Aku mendapat harta warisan karena Zahra, tapi sekarang dia pergi, itu artinya aku tidak berhak menikmatinya. Sekarang kita bisa hidup berdua, bukankah itu yang kau mau. Aku bisa bekerja mencari uang untuk kau dan anak kita. Jangan khawatir."


Aidin tak segan menyebut bayi yang ada di perut Amera sebagai anaknya. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, apa untungnya berdebat yang pasti tidak akan menyelesaikan masalah. 


Amera menggeleng, selama ini hidupnya penuh dengan kemewahan, namun tiba-tiba Aidin mengajaknya hidup melarat. Apakah ia sanggup meninggalkan keglamoran yang selama ini didapatkan, apakah sanggup berjuang dengan Aidin yang tak punya apa-apa. Masih banyak yang dipikirkan, bukan cuma untuknya, tapi juga bayi yang ada di dalam rahimnya. 


"Ayolah, Me. Aku akan berusaha membahagiakan kamu dengan caraku,"  bujuk Aidin untuk yang kesekian kali. 


Setelah mengatakan itu, Amera pergi meninggalkan ruangan pak Herman. 


Tawa yang dari tertahan kini lepas melihat betapa kecewanya Amera. 


Darren memegang perutnya akibat tertawa yang tak kunjung berhenti. Menepuk punggung sang adik yang pintar adalah bersandiwara. 


"Kau sangat pintar, Din." 


"Kalau aku pintar, tidak mungkin kehilangan orang yang aku cintai, Kak. Aku bodoh, selama ini percaya pada Amera yang hanya menginginkan hartaku saja. Aku belajar dari Zahra. Setiap hari dia memakai cara yang berbeda untuk menyuruhku sholat. Tidak pernah lelah untuk terus menunjukkan jalan yang lurus padaku. Sekarang aku akan menghadapi masalahku sendiri."


Bayangan wajah polos dengan hijab hitam yang membalut kepalanya itu kembali terlintas membuat Aidin tersenyum. 

__ADS_1


Diijabah ataupun tidak, aku akan selalu berdoa semoga kau dan anak kita baik-baik saja. 


Bu Lilian berhamburan memeluk putra bungsunya. Bangga dengan Aidin yang kini bisa berdiri sendiri, bahkan tadi sempat ingin marah saat pria itu memilih menikah dengan Amera, namun kini lega, karena apa yang dikatakan hanya ancaman untuk merogoh niat wanita tersebut. 


"Tapi bagaimana jika anak yang dikandung Amera adalah anak kamu?" Bu Lilian mengingatkan. 


Ada kemungkinan itu benar adanya. Noda yang sudah tertanam tak mampu mereka tutupi lagi hanya demi sebuah kehormatan semata. 


"Tidak ada mantan anak, Ma. Aku akan tetap bertanggung jawab sebagaimana tugas seorang ayah. 


Tapi sampai kapanpun aku tidak akan menikahinya, karena hanya Zahra yang akan menjadi istriku satu-satunya." 


"Sang sabar, anggap saja ini ujian sebelum kamu mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya." 


Sudah hampir tiga hari Aidin mencari Zahra hingga ke luar kota. Ia belum mendapatkan tanda-tanda sedikitpun. Tidak ada orang yang bisa ia tanya. Semua anak buahnya pun tidak ada yang menemukan wanita itu. Seakan lenyap ditelan bumi. 


Ponsel Aidin berdering. Ternyata nama mama Delia yang berkedip di layar. 


Ngapain mama menelepon ku, apa ini ada hubungannya dengan Zahra?


Aidin bergegas menggeser layar berwarna hijau tanda menerima. 


"Kamu ada di mana," sapa tante Delia ketus. 


Selama ini hubungannya memang tak terlalu baik, bahkan terselip rasa benci saat wanita itu melihatnya satu kamar dengan Amera. Akan tetapi, sekarang ia akan menganggap mama Delia mertuanya. Seseorang yang sudah menghadirkan wanita solehah dalam hidupnya. 


"Aku ada di rumah sakit, Ma. Nungguin papa. Memangnya ada apa?" tanya Aidin lirih.


"Aku ingin bertemu kamu. Datang ke cafe XX. Sekarang juga, aku tunggu!"


Belum sempat menjawab, sambungan sudah terputus. Aidin tidak tahu apa yang akan dibicarakan mertuanya, namun dari nada bicara wanita itu nampak serius.

__ADS_1


"Mama kamu?" tebak Darren yang mendengarkan percakapan Aidin dan orang dibalik telepon.


Aidin mengangguk. Berpamitan pada kedua orang tua dan kakaknya. Meskipun yakin yang dibicarakan bukan tentang Zahra, setidaknya ia memenuhi panggilan mama Delia. Menyambung kembali hubungan yang sempat renggang karena keegoisan masing-masing.


__ADS_2