
Dua minggu berlalu
Zahra yang baru saja membuka kalender itu tersenyum lebar. Kemudian menghampiri Aidin yang sibuk dengan ponsel di tangannya.
Mendapat pelukan dadakan dari belakang membuat pria yang kian menunjukkan keromantisannya itu terkejut.
"Ada apa sih, sepertinya bahagia banget?" Aidin menarik tangan Zahra dan meletakkan di dadanya.
Zahra mencium pipi Aidin dari arah samping, dan itu dilakukannya beberapa kali hingga membuat jiwa Darren meronta-ronta. Sebab, sejak hamil, Keysa tak mau berada di dekatnya dan cenderung menjauh.
"Aku terlambat datang bulan," ungkap Zahra. Itulah yang membuat paginya penuh dengan kebahagiaan.
Namun, otak Aidin yang terlalu cetek menangkapnya dengan sesuatu yang lain.
"Itu artinya kita bisa lembur setiap malam, dong." Aidin menaik turunkan alisnya. Menggoda sang istri yang semakin hari semakin cantik jelita.
"Bukan itu, tapi __" Zahra memotong ucapannya, ia belum yakin kalau saat ini sedang hamil.
"Lalu?" tanya Aidin penasaran. Setiap yang bersangkutan dengan Zahra pasti membuatnya kepo.
Aku harus bilang apa, bagaimana kalau aku gak hamil, pasti mas Aidin akan kecewa.
Zahra menggeleng berat. Ia akan mengatakan setelah nanti ada bukti, begitu rencananya.
"Kamu gak ke kantor, Din?" sapa pak Herman yang baru datang.
Saat ini Aidin berada di kediaman orang tuanya karena permintaan Zahra yang merasa kesepian. Tidak hanya mereka, Darren dan Keysa pun ada di rumah itu yang membuat suasana rumah kian ramai.
"Gak, Pa. Kayaknya lagi ada yang pengen di temenin," jawabnya asal. Padahal, ia sendiri yang tidak ingin jauh dari Zahra, namun memutar balikkan fakta.
Zahra mencubit lengan sang suami, malu karena pak Herman langsung menatapnya dengan tatapan intimidasi.
Keysa keluar dari kamar. Dari penampilannya yang memakai baju mewah dan membawa tas sudah dipastikan wanita itu akan keluar.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Zahra menghampiri Keysa.
"Mau belanja. Kamu mau ikut?"
Seketika itu Zahra menatap sang suami yang membelakanginya. Bahkan pria itu tak menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Ikut saja," jawab Aidin tanpa menatap.
__ADS_1
Ternyata peka juga.
Zahra kegirangan. Aidin selalu tahu apa yang ia mau, seolah pria itu bisa membaca isi hatinya saat ini.
"Uangnya mana, Mas?" pinta Zahra sembari merapikan hijabnya. Sebab, pagi ini ia pun sudah rapi dan siap berangkat.
Aidin memberikan kartu yang diambilnya dari dompet. Ia memang sudah menyerahkan seluruh kartunya pada Zahra, namun wanita itu tidak mau dan akan meminta jika membutuhkan.
"Jangan lama-lama ya, aku pasti merindukanmu."
Kecupan mendarat di bibir Zahra sebelum mereka berpisah.
"Jaga Zea ya," pinta Zahra lagi.
Aidin mengangkat jempolnya tanda setuju. Jangankan untuk menjaga Zea, menjaga Shireen sekaligus pun ia sanggup.
Berat hati Aidin melepas istri tercinta. Tak mungkin juga mengekang wanita itu untuk menemaninya terus. Sekali-kali memberinya kesempatan untuk menghirup udara segar.
Keysa menghentikan mobilnya di depan mall terbesar yang ada di tengah kota. Selama ini ia sering datang ke tempat itu hanya sekedar melihat-lihat dan bertemu dengan temannya.
Sebagai istri pria kaya, hampir barang mewah Keysa miliki. Mulai dari perhiasan yang bermacam-macam bentuk, sepatu mahal, tas, baju mewah dan juga barang lainnya hingga ia tak ingin membelinya lagi.
Berbeda dengan Zahra, wanita itu lebih sederhana dan tidak boros seperti kakak iparnya, bahkan ia sering marah saat Aidin membeli barang mahal tanpa sepengetahuannya.
Zahra berhenti di depan sebuah toko gamis, sedangkan Keysa masuk ke sebuah toko sepatu. Mereka berpisah dan akan bertemu di lantai dasar.
Baru lima menit memilih baju, ponsel milik Zahra berdering. Segera ia merogoh dan mengangkatnya.
"Ada apa, Mas? Jangan bilang kalau Zea nangis?" tanya Zahra sambil menatap baju yang membuatnya terpana.
"Gak lah, aku kan bisa ngurus dia," jawab Aidin santai.
"Lalu kenapa menelpon?" tanya Zahra lagi.
"Aku kangen," jawab Aidin singkat.
Zahra tersenyum tipis, menganggap suaminya itu terlalu lebay.
"Sebentar lagi aku pulang, kok. Tenang saja, Sayang."
Sambungan terputus, Zahra kembali melihat baju berwarna hitam yang menggantung di depannya. Seperti biasa, ia melihat harga terlebih dulu sebelum memeriksa bajunya.
__ADS_1
"Mahal banget sih, apa gak ada yang murah?"
Terpaksa ia harus menghubungi Aidin lewat video call, takut pria itu marah.
"Ada apa? Kangen ya?" goda Aidin, akhirnya ia melihat wajah Zahra. Meskipun jarak jauh bisa melihat nya dengan jelas.
Zahra cekikikan, setidaknya ia harus merayu lebih dulu supaya Aidin mengizinkannya.
"Mas, baju ini cantik ya? Boleh gak aku membelinya?" Zahra menggeser layar ponselnya ke arah baju hitam itu.
Tidak ada komentar apapun, Aidin selalu mengiyakan semua pilihan Zahra. Termasuk baju itu.
"Boleh, Sayang. Apapun yang kamu suka beli saja," jawab Aidin dengan senang hati. Akhirnya, setelah bertubi-tubi menyakiti wanita itu, kini ia diberi kesempatan untuk membahagiakannya.
Aaawww
Zahra meringis saat ada pelayan wanita yang menginjaknya. Disengaja tau tidak, tetap saja itu salah. Tidak meminta maaf wanita itu justru menatap penampilannya dari atas hingga bawah.
Aidin ingin bertanya, namun diurungkan. Ia bisa melihat kaki Zahra itu memerah.
"Kalau gak beli jangan lihat-lihat terus, Mbak. Nanti kusut."
Dada Aidin terasa hampir meledak. Ia tak tahu ucapan itu dilontarkan untuk siapa, tapi begitu dekat dengan Zahra.
"Aku hanya memegangnya saja. Apa itu salah?" bantah Zahra dengan suara lembut. Seolah, kata marah itu memang tak pernah melekat padanya.
"Tidak salah sih, tapi baju ini mahal dan tidak sembarang orang bisa membeli." Mengusap-usap baju itu lalu meninggalkan Zahra.
Aidin sudah tak sabar lagi, baginya itu adalah penghinaan yang tidak bisa dimaafkan.
Zahra memanggil pelayan lainnya tanpa mematikan ponselnya." Aku mau beli baju ini." Mengambil baju yang tadi ia sukai. "Sepuluh," ucap Zahra dengan lantang hingga pelayan yang berjalan sedikit menjauh itu menoleh dan tercengang.
Aidin tersenyum puas melihat keberanian Zahra. Kekhawatirannya berkurang saat istrinya itu unjuk gigi dan berani menantang mereka yang sudah merendahkannya.
Tak hanya itu, Zahra mengeluarkan sebuah kartu yang tak setiap orang miliki. Dalam hati terus Istighfar, entah kenapa kali ini hatinya sakit saat dihina.
"Ini, Mbak." Pelayan itu memberikan pesanan Zahra sekaligus kartunya.
Zahra tak membawa baju itu keluar dari toko, namun ia membagikan untuk pelayan di sana, kecuali pada orang yang sudah berani menghinanya.
Zahra menghampiri Wanita itu. "Lain kali kalau berbicara harus pakai sopan santun. Jangan melihat orang dari penampilan, karena tidak semua orang itu berpikiran seperti kamu, dan tidak semua orang itu memamerkan kekayaannya pada orang lain," tuturnya.
__ADS_1
Bukan tentang penghinaan itu yang ia pikirkan saat ini, tapi hukuman dari Aidin karena sudah berani menguras uang pria itu hingga puluhan juta.