Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Menumpahkan susu kental


__ADS_3

"Sayang, aku __" Aidin yang baru membuka pintu kamarnya  itu menghentikan ucapannya saat menangkap sesuatu yang berbeda. Ia tercengang melihat penampilan Zahra yang sedikit blak-blakan. 


Ya, semenjak bertemu ini pertama kali ia melihat Zahra hanya memakai jubah mandi selutut. Kepalanya pun tertutup handuk sudah dipastikan wanita itu usai keramas. 


Lima puluh hari semenjak melahirkan Zea, wanita itu sudah bersih dari hadasnya dan tadi baru saja mandi besar.


"Kenapa, Mas?" Suara Zahra membuyarkan lamunan Aidin yang hampir terbang melayang. Pria itu tersenyum, berjalan pelan menghampiri sang istri yang berdiri di depan cermin. 


"Aku hanya ingin memberitahu bahwa besok mama akan datang ke sini." 


"Benarkah?" Zahra membalikkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di leher Aidin. Matanya berbinar-binar mendengar kabar itu. 


Aidin menunjukkan layar ponselnya pada Zahra, matanya tak teralihkan dari wajah cantik itu. 


Mencium aroma shampo yang menyeruak masuk rongga hidungnya. 


"Apa kamu sudah keramas?" tanya nya basa-basi. 


Zahra mengangguk cepat. Membuka handuk yang membalut rambut panjangnya. 


"Dan hari ini aku siap shalat berjamaah dengan kamu." Menoel hidung sang suami yang nampak bengong. 


Seandainya Aidin tak pernah membuat kesalahan yang sangat fatal. Mungkin ia sudah melahap wanita di depannya itu, namun masa lalu yang kelam membuatnya tak percaya diri untuk meminta sesuatu yang sudah menjadi haknya sebagai seorang suami. 


"Aku bantu keringkan rambut kamu." 


Mengambil hair dryer di laci. Mendudukkan Zahra di depan meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya perlahan. Sedangkan Zahra, ia hanya bisa menatap wajah sang suami dari pantulan cermin. 


"Mama mau datang dengan siapa, Mas?" tanya Zahra yang sudah tak sabar ingin segera memeluk Delia dan mencurahkan rasa rindunya. 


"Dengan papa dan juga Cherly, katanya sekolah Cherly mumpung libur, jadi mereka bisa ke sini," pungkas Aidin seperti pesan yang dikirim Delia. 


Rambut yang sudah sepenuhnya kering itu kemudian disisir oleh Aidin.

__ADS_1


"Kayaknya rambutku kepanjangan ya, Mas?" tanya Zahra memperhatikan rambutnya yang hampir se pinggang. Semenjak pergi dari pria itu, ia tak pernah memikirkan penampilan termasuk rambut yang selalu tertutup. 


"Mau di potong?" tawar Aidin dengan cepat. 


Panjang atau pendek, bagaimanapun penampilan Zahra, itu tak lagi menjadi masalah bagi Aidin. Cintanya sudah terlalu besar untuk wanita itu hingga tak pernah protes dengan apapun yang ada pada dirinya. 


"Boleh, tapi yang bagus ya, kayak artis-artis." Zahra menyetujui ucapan Aidin. Mengarahkan seberapa panjang rambut yang harus diambil. 


Aidin terkekeh mendengar itu. Pasalnya, cukup menggelitik jika disamakan dengan artis yang hampir setiap hari mengubah gaya rambutnya. Sedangkan Zahra sendiri sudah memikatnya dengan ciri khas yang tidak dimiliki wanita lain.


Tak perlu banyak gaya, Aidin hanya memotong ujung rambut Zahra beberapa senti saja, takut terlalu pendek, meskipun hanya dia yang bisa melihat itu, tetap saja harus hati-hati dan se bagus mungkin. 


Zahra memutar tubuh tanpa berdiri. Menatap lekat wajah Aidin yang masih berjongkok di depannya. 


Pandangan mereka saling bertemu hingga beberapa menit kemudian ciuman lembut itu terjadi. 


Zahra mencengkeram lengan Aidin, dengan kedua mata terpejam. Jantungnya berdegup dengan kencang saat pria itu semakin memperdalam ciumannya. Nafasnya mulai tersendat karena tak mampu mengimbangi perlakuan sang suami. 


"Maaf," ucap Aidin setelah ciuman itu berakhir, untung ia sadar dan segera melepaskannya, kalau sedikit saja terlambat, mungkin Zahra sudah kehabisan napas. 


Kini kedua tangannya pun berada di genggaman Aidin. Seolah-olah pria itu menyalurkan apa yang ada di dalam hatinya. 


Melihat pergerakan Aidin yang nampak tak tenang membuat Zahra menerka-nerka. 


"Apa kamu menginginkannya, Mas?" tanya Zahra ragu. 


Ia masih merasa takut jika Aidin meminta haknya. Tapi, juga harus melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri, yaitu menawari sang suami disaat dirinya boleh disentuh. Beberapa kali ia sempat melihat aksi Aidin yang bermain dengan sabun di kamar mandi dan sudah dipastikan hasrat pria itu membuncah. 


Apakah ia harus bergembira mendengar itu? Ataukah harus berbangga diri karena Zahra sendiri lah yang menawarkan diri? 


Tidak, justru itu adalah sebuah ujian baginya. Ia harus bisa betul-betul membaca apa yang diucapkan sang istri. Segala sesuatu harus dipahami dengan teliti. 


Menutup dada Zahra yang sedikit terekspos. Kemudian tersenyum tipis. Itu yang dari tadi membuatnya tak tahan dan ingin segera melahap. 

__ADS_1


"Aku takut tidak terkendali, sedangkan aku gak mau menyakiti kamu."


Jawaban yang bagus menurut Zahra. ia tak menyangka, meskipun itu adalah penolakan Aidin, namun membuatnya sejuk. Benar, untuk saat ini Zahra memang belum terlalu siap, bahkan rasa sakit saat melahirkan itu masih terbayang dalam benaknya. Apalagi saat dokter memberikan beberapa jahitan, seolah membuatnya merinding jika di tendang oleh senjata tajam sang suami, pasti sakitnya luar biasa dahsyatnya. 


"Kalau begitu aku ganti baju dulu." Hampir saja berdiri, Aidin menarik tangannya hingga jatuh terjerembab dalam pelukan pria itu. 


Dada keduanya saling bertemu dalam satu dekapan hangat. 


Terdengar dengan jelas napas Aidin memburu seperti menahan sesuatu. Tanpa disadari, tubuh ramping Zahra melayang hingga kembali medarat di tempat tidur empuknya. Keduanya saling membisu dengan pikiran masing-masing. 


Zahra bisa melihat gairah di wajah sang suami. Meskipun Aidin mengatakan  menolak, namun raut wajahnya mengatakan lain.


"Puaskan aku dengan cara lain."


Meminta dengan suara lirih hingga seketika itu ciuman kembali terjadi. 


Zahra tak mengerti permainan macam apa itu, namun tubuhnya ikut merasakan sensasi baru. Ia hanya bisa menerima perlakuan Aidin yang begitu lembut dan membuatnya nyaman. Sesekali membalas ciuman yang membabi buta tanpa bisa dicegah. 


"Mas, aku takut." Zahra menghentikan tangan Aidin yang hampir menguar tali jubahnya. 


"Aku gak akan melakukannya lebih, Sayang. Bantu aku untuk mengeluarkan susu kental manis saja." 


Zahra mendorong dada bidang Aidin yang berbicara tak senonoh, malu dengan ucapan absurd itu. Meski begitu, ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik seperti perintah sang suami. 


Hingga beberapa saat kemudian cairan putih kental itu benar-benar tumpah membasahi celana kain Aidin dan tembus ke jubah yang membalut tubuh Zahra. 


Sebuah kecupan mendarat di kening Zahra, setelah itu Aidin menyandarkan kepalanya di dada wanita itu. 


"Terima kasih, Sayang. Anggap saja ini permulaan kita."


Baru saja membuka mulut, ketukan pintu membuat Zahra panik. Sudah dipastikan itu adalah Zea yang dari tadi bersama pengasuhnya. 


Aidin bergegas membantu Zahra memakai baju setelah itu ke kamar mandi, sedangkan Zahra langsung berjalan ke arah pintu setelah memakai hijabnya dengan rapi. 

__ADS_1


"Sayang, nanti hijabnya buka lagi ya," pinta Aidin yang kembali menyembulkan kepalanya ke arah Zahra yang hampir memutar knop. 


"Iya, cepetan masuk, nanti ada yang lihat." 


__ADS_2