
Kebahagiaan yang dirasakan Zahra faktanya sangat singkat. Ia berkumpul dengan Delia di rumah baru itu hanya berkisar dua jam. Itupun tak sepenuhnya bersama, karena banyak keluarga lainnya.
"Nanti kalau mama kangen pasti akan ke sini lagi." Menenangkan Zahra yang menangis di pelukannya. Sebenarnya ia pun ingin tetap tinggal bersama sampai mereka pulang, tapi pekerjaan James yang terus melibatkan dirinya juga sangat penting.
Pria yang berprofesi sebagai pengusaha sawit itu tak ingin tinggal berpisah dengan Delia, apalagi jauh.
Lambaian demi lambaian terus mengiringi langkah Delia menuju mobil. Berat rasanya harus ditinggalkan orang tersayang. Selama ini Zahra memang sudah terbiasa berdiri sendiri, namun saat ini seperti ketergantungan pada mereka dan ingin selalu berdekatan.
"Nanti kalau papa sudah sembuh, kita pulang," ucap Aidin menenangkan. Setiap melihat kesedihan Zahra, ia terus mengingat luka lama wanita itu. Luka yang sampai kapanpun akan membekas.
"Janji!" Zahra mengangkat jari kelingkingnya. Tanpa berpikir panjang Aidin langsung menautkan jarinya di jari wanita itu.
"Aku janji."
Tak hanya Delia, Hanif dan Iqbal pun ikut pergi setelah menikmati acara itu. Kini tinggal keluarga kecil Aidin dan Darren, karena mereka sudah berencana akan pulang bersama kedua orang tuanya.
Hampir saja membalikkan tubuh, sebuah tangan mungil merangkul kaki Aidin dari belakang membuatnya terkejut. Ia mengelus dadanya saat melihat wajah imut itu berada di belakangnya.
"Astagfirullah, Shireen! Kalau ke injak gimana? Hidung kamu sudah pesek, nanti tambah pesek," goda Aidin meraih tubuh mungil bocah itu. Siapapun pasti akan kembali berseri jika ada di dekat putri pertama Darren. Tingkahnya yang menggemaskan membuat Zahra ingin cepat-cepat bisa menggendongnya.
Sementara itu, Darren dan Keysa tak mengurus anaknya malah asik makan berdua, bagi mereka jika sudah ada Aidin tak perlu khawatir karena pria itu bisa menjaga putrinya.
"Nyonya Zahra, sepertinya Nona kecil haus, dia nangis," lapor baby sitter yang baru saja keluar dari kamar Zea. Aidin segera mengantar sang istri ke kamar putrinya sambil menggendong Shireen.
Benar saja, bayi yang ada di atas ranjang itu menangis dengan kepalan tangan yang dimasukkan ke mulut.
"Shireen lihat, sekarang om bukan lagi milik kamu, tapi milih adik Zea." Menunjuk putrinya yang ada di pangkuan Zahra.
Seketika itu juga Shireen menarik telinga Aidin hingga sang empu meringis kesakitan.
"Benar-benar anak Keysa dan Darren nakalnya luar biasa. Yang sering om sakiti onty Zahra, kenapa semenjak lahir kamu yang membalas?" Mencubit hidung mungil sang keponakan.
Aidin selalu ingat tingkah Shireen yang seperti orang balas dendam. Sejak lahir ia sering mengajaknya. Sebab, kala itu dirundung kesepian karena kepergian Zahra, meskipun selalu merepotkannya, tetap saja hanya Shireen yang mampu membuatnya semangat.
Yayayayaya
__ADS_1
Seolah paham dengan apa yang diucapkan Aidin, bocah itu menjawab dengan bahasa alien.
"Mas, gak boleh menyangkut pautkan urusan orang dewasa dengan anak kecil. Dia memang belum bisa bicara, tapi aku yakin otaknya mencerna apa yang kita bahas."
Aidin duduk di samping Zahra yang masih nampak malu-malu memperlihatkan aktivitas Zea. Padahal, dari kemarin ia sudah melihatnya dengan jelas.
''Memangnya Fathan umur berapa, mas?'' Disaat sibuk memberi asi pada Zea, tiba-tiba teringat bayi itu.
Apalagi Zahra sudah mendengar cerita dari Aidin bahwa bayi itu ditinggal di rumahnya tanpa kabar dari Amera.
"Dua bulan, Amera yakin dia anakku, maka dari itulah dia meninggalkannya padaku."
"Lalu dia anak siapa?'' Pertanyaan itu sungguh membuat Aidin bingung. Pasalnya, yang ia tahu Amera hanya berhubungan dengannya, namun ternyata memiliki anak dari pria lain.
Aidin hanya menggeleng, ia pun tak bisa menjawab apa-apa. Apalagi saat ini Amera pergi entah kemana yang membuatnya tak bisa mendapatkan penjelasan.
"Setelah ini apa kau akan tetap merawat dia?"
Aidin tersenyum kecil meringsuk duduknya lebih mendekat, tapi tetap menjaga Shireen supaya tak menarik kaki Zea.
Zahra bernapas lega meskipun tak tega dengan nasib bayi itu, ia tak ingin menjadi boomerang di dalam rumah tangganya. "Aku juga salah karena sudah hadir dalam hidupmu."
Aidin mendaratkan jari telunjuknya di bibir Zahra.
"Jika kita menceritakan dari awal. Aku satu-satunya orang yang bersalah, aku yang mengajakmu menikah tanpa memikirkan akibatnya."
Zahra mencoba membungkam bibir Aidin, namun tak bisa karena pria itu dengan cepat menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku gak mau mengingatnya lagi, kalau kamu terus membicarakan itu, lebih baik aku tinggal dengan mama."
"Sebentar."
Aidin beranjak dari duduknya lalu keluar dengan membawa Shireen. Tak lama kemudian kembali dengan tangan kosong, sudah dipastikan bahwa bayi mungil itu diserahkan kepada kedua orang tuanya.
Kembali ke tempat duduknya. Mengangkat tubuh Zahra dan membawa ke pangkuannya.
__ADS_1
"Aku gak akan membahas masa lalu lagi seperti yang kamu inginkan."
Keduanya saling bertukar pandangan. Dari lubuk hati terdalam Aidin tak bisa membendung kerinduannya. Namun apa daya, nyalinya menciut saat berada di dekat Zahra, seakan ia hanya pengawal yang tak berhak bersentuhan dengan putri raja. Statusnya sebagai suami bahkan menyimpang begitu saja. Seolah tak layak untuk menikmati miliknya.
Hampir saja mendaratkan ciuman, pintu diketuk dari luar mengurungkan niat Aidin yang hampir finish.
Zahra bergegas menutup dadanya. Merapikan hijabnya lagi saat Zea sudah melepas aktivitasnya.
Aidin membuka pintu selebar tubuhnya hingga Zahra tak nampak dari luar.
Suara tangis menggema membuat Aidin gemas dan mencubit kedua pipi gembul Shireen yang ada di gendongan Darren.
"Ayolah anak manis, sudah tiga malam om hampir gak bisa tidur, apa kamu tidak ingin memberi kesempatan sedikit saja supaya om bisa istirahat?" pinta Aidin memelas.
"Nanggung, nanti kalau sudah selesai pasti aku ambil." Darren menaik turunkan alisnya dengan cepat, yang mana membuat Aidin mengernyitkan dahi, curiga.
Shireen hanya tertawa menggelitik saat melihat kebingungan sang paman.
Tanpa menunggu jawaban, Darren langsung menyerahkan Shireen ke tangan Aidin lalu berlari kecil ke arah kamarnya.
Memangnya dia lagi ngapain, enak banget nitipin anaknya ke aku, memangnya aku baby sitternya, gerutu Aidin dalam hati.
"Memangnya kak Darren mau ngapain, Mas?" tanya Zahra seraya mendekati Aidin yang tak kunjung membawa Shireen masuk.
Ikut menyembulkan kepalanya keluar. Namun sayang, Darren sudah tak nampak, hanya suara pintu yang tertutup membuat Zahra menatap kamar yang berada di ujung.
"Mungkin kak Darren mau ke kamar mandi. "
"Ini itu gak sekali dua kali, Sayang. Hampir setiap hari Kak Darren nitipin anaknya padaku. Kayaknya dia sengaja bikin darahku naik."
Bukan tidak mau, Aidin benar-benar lelah karena beberapa hari ini kurang tidur.
"Berlatihlah untuk menjadi orang sabar dan ikhlas membantu sesama saudara. Bukankah selama ini kak Darren juga membantumu.''
Zahra mengingatkan yang membuat Aidin sedikit sejuk.
__ADS_1