
Aidin bergegas menghampiri resepsionis yang bertugas. Menanyakan data tentang seseorang yang baru saja pergi, juga pemilik dompet yang sekarang ada di tangannya.
"Namanya Nona Zahra Aulia Adinata, Nona Deswita dan Tuan Hanif Alamsyah. Mereka menginap disini selama satu minggu, tadi baru saja pergi, katanya akan pindah," jelas wanita cantik yang ada di depan Aidin.
Ada secuil kebahagiaan, itu artinya Zahra ada di dekatnya. Meskipun belum tahu pasti akan pindah ke mana, setidaknya Aidin bisa menemukan wanita itu.
Ya, wanita yang dicari mati-matian ternyata ada di Sydney, kota yang bahkan tak pernah terselip dalam otaknya.
"Apa Nona tahu di mana mereka pindah?"
Wanita itu langsung menggeleng tanpa suara.
Setidaknya dia ada di dekat sini.
Aidin kembali ke kamar. Kemudian menghubungi seseorang.
"Kalian datang ke Sydney, Zahra ada disini." Setelah mengucapkan itu, Aidin duduk di tepi ranjang. Membuka dompet milik Zahra lagi.
Jika tadi ia hanya melihat foto. Sekarang Aidin bisa melihat kartu tanda penduduk dan beberapa kartu yang ada di dalamnya. Ada beberapa lembar uang rupiah dan juga dollar Australia.
"Ternyata mama menyembunyikan kamu di sini. Pantas saja aku tidak melihatmu di rumah." Membelai foto yang beberapa saat ia ambil dari dompet itu.
Rindu, itulah yang Aidin rasakan. Ia merindukan semuanya yang ada di diri Zahra. Kecerewetannya yang selalu benar dan bermanfaat. Tingkah laku manjanya setiap hari. Tak lelah memaksanya untuk berbuat baik. Masakan sederhana yang selalu menggugah selera, namun entah kapan lagi ia akan merasakan itu semua.
"Allah mengabulkan do'aku. Setelah kita bersama lagi, aku tidak akan melepasmu."
Tanpa sengaja, Aidin melihat sebuah kartu nama.
"Hanif Alamsyah, ini kan laki-laki tadi. Kenapa kartu ini ada di dompet Zahra?"
Dada Aidin bergemuruh teringat ucapan Delia bahwa Zahra sudah menemukan laki-laki yang baik dan mau menerima anaknya.
"Gak, gak mungkin dia calon suami Zahra, ini tidak bisa dibiarkan."
Aidin meraih ponselnya dan menghubungi nomor yang tertera di bawah kartu nama itu.
Tak menunggu waktu, dalam hitungan detik ponselnya tersambung.
"Halo, selamat Malam. Ini dengan Hanif Alamsyah dari PT Global, ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
Aidin membisu. Suaranya tercekat di kerongkongan. Bagaimana jika yang dia takutkan itu benar? Bagaimana jika pria yang berbicara itu adalah calon suami istrinya.
"Selamat malam," jawab Aidin dengan bibir bergetar.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" sapa pria itu lagi. Aidin mencoba mengusir rasa sesak yang mengendap di dada.
Aku harus bicara apa. Apa aku harus menanyakan di mana Zahra.
"Siapa yang menelpon, Kak?" tanya seorang wanita yang membuat Aidin kembali terkejut.
"Itu suara Zahra?" tanya Aidin lirih, namun bisa didengar Hanif dengan jelas.
Seketika itu juga sambungan terputus.
"Halo, halo aku belum selesai bicara."
Aidin mencoba untuk menghubunginya lagi. Namun nihil, nomor itu sudah tak bisa dihubungi.
Ingin mengumpat namun diurungkan, setiap pembicaraan yang kotor pasti tak disukai Zahra, kini ia tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu anak buahnya datang.
"Bagaimana kalau besok kita pindah ke negara lain?" tawar Hanif antusias pada seorang wanita yang duduk di depannya.
"Kenapa? Bukankah di sini sudah aman?" Lagipula untuk apa pindah? Percuma aku bersembunyi, Mas Aidin tidak akan mencariku. Dia pasti sudah bahagia dengan Amera. Sebentar lagi bayiku lahir, itu artinya aku harus siap melepas mas Aidin, aku tidak mau egois dan memaksanya."
"Tapi dia ada disini, Za."
"Apa?" Zahra kaget, menatap Hanif lekat. "Katakan sekali lagi, Kak. Apa kau yakin mas Aidin ada di sini?"
Hanif mengangguk. "Tadi aku bertemu dia di hotel, dan baru saja dia yang menelponku." Hanif membuka kartu perdana miliknya. Lalu menggantinya dengan yang baru berniat ingin menghilangkan jejak.
"Dari mana dia tahu nomor teleponmu? Bukankah kau sudah meminta pihak hotel untuk tidak memberitahukan pada siapapun?" tanya seorang wanita yang bernama Deswita. Dia adalah sahabat Zahra yang juga berasal dari Indonesia.
Hanif mengangkat kedua bahu tanda tak mengerti.
Untuk apa mas Aidin ke sini, apa dia sedang liburan dengan Amera. Bagaimana jika dia melihatku hamil?
Zahra menghabiskan jus yang ada di depannya lalu beranjak.
"Kak, aku mau ke kamar, ngantuk." Zahra meninggalkan Hanif dan Deswita. Ia berjalan menuju kamar barunya, saat ini mereka tinggal di sebuah vila milik ayah tirinya. Karena sudah bosan tinggal di hotel.
__ADS_1
Zahra menutup pintu lalu duduk di tepi ranjang. Tujuh bulan berpisah dengan Aidin, faktanya ia tak bisa lupa dengan pria itu, apalagi setiap bayinya bergerak pasti mengingatkan dengan sang ayah yang sekalipun tak pernah menyentuhnya.
Sedangkan, selama ini Delia pun tak pernah bercerita apapun tentang Aidin dan memilih bungkam, menutupi semuanya dari Zahra hingga ia pikir suaminya memang tak pernah mencarinya.
"Kalau kau ke sini hanya ingin pamer kemesraan dengan Amera, lebih baik kita tidak bertemu. Aku tidak ingin anakmu melihat ayahnya berjalan dengan perempuan lain."
Mengelus bayi yang masih bersemayam dalam perutnya. Mengambil tas lalu merogohnya, tanganya terus meraba sesuatu.
"Di mana dompet ku?" Membuka lebar-lebar, mengeluarkan semua isi tas itu. Benar saja, dompet yang ia cari tidak ada.
"Jatuh di mana?" Zahra kembali keluar menghampiri Deswita dan Hanif yang masih ada di ruang makan.
"Apa tadi kalian lihat dompet ku?"
Mereka menggeleng, karena sekalipun tak pernah melihat dompet Zahra, apalagi menyentuhnya.
"Padahal ada kartu-kartu penting. Bagaimana kalau hilang?" Zahra gelisah. Seumur hidupnya baru kali ini kehilangan barang yang sangat penting.
"Apa mungkin ketinggalan di hotel?"
Zahra langsung teringat saat ia mengeluarkan uang dari dompet yang akan diberikan pada cleaning service yang membersihkan kamarnya.
"Oh iya, aku taruh diatas meja samping ranjang." Menepuk jidatnya.
"Tapi __" Hanif tak melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa, Kak? Cepetan ambil, ada kartu penting di sana."
"Tapi ada Aidin, bagaimana kalau dia mengenaliku?"
Wajah Zahra meredup. Benar juga kata Hanif, Ia tak mau lagi berurusan dengan Aidin yang pasti akan membuat hatinya sakit bak disayat.
"Ya udah, aku ikhlasin, kalau masih rezeki pasti akan kembali padaku."
Baru saja memutar badan, Zahra merasakan perutnya sedikit sakit yang membuatnya meringis.
Aaawww
Zahra memegang kursi yang ada di sampingnya. Mencari pegangan untuk menopang tubuhnya. Deswita membantu Zahra untuk duduk. Sedangkan Hanif, menuang air minum ke dalam gelas.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Za?" tanya Deswita khawatir.
"Perutku sakit, Des. Kayaknya aku mau melahirkan."