
Aidin meletakkan ponselnya setelah menghubungi seseorang. Matanya Melirik ke arah amplop yang didapat dari Amera. Wajahnya redup bagaikan langit yang tertutup mendung. Dari lubuk hati terdalam enggan untuk membukanya, tapi ia harus tahu senjata yang digunakan untuk mengancamnya.
Tangannya mengulur menyentuh amplop itu. Kemudian membolak-balikkannya sebelum merobek ujungnya.
Aku harus bisa menghadapi semua ini, begitulah hatinya meyakinkan, hingga ia berani mengambil isinya.
Seketika itu tangannya gemetar melihat beberapa foto yang ada di tangannya. Matanya berkaca-kaca dengan dada yang terasa sesak.
Tak bisa membayangkan bagaimana jika Zahra yang melihat, pasti wanita itu akan hancur-sehancurnya.
Bukti yang ada di tangannya memang bisa dimusnahkan, tapi Aidin yakin masih banyak rencana Amera untuk menghancurkan dan mempermalukannya.
''Permisi, Tuan.''
Richard masuk tanpa mengetuk pintu.
''Ada apa lagi?'' Mengusap air matanya, tak ingin terlihat lemah di depan orang lain. Meskipun itu sekretarisnya sendiri.
''Ternyata Amera mempunyai masalah dengan sebuah perusahaan. Dia didenda dengan jumlah yang besar, jika tidak bisa membayarnya maka pihak perusahaan akan melaporkannya ke kantor polisi.''
Aidin tak terlalu menanggapi, ia hanya memikirkan bagaimana cara untuk mengambil semua bukti perselingkuhannya dari tangan Amera sebelum menyebar.
''Biarkan saja, aku gak peduli, lagipula itu bukan urusanku lagi.''
Kembali fokus dengan pekerjaannya yang masih menumpuk.
Sebuah pesan masuk yang mampu membuat Aidin tersenyum setelah beberapa saat dipenuhi rasa takut.
Kemudian ia membalas dengan sebuah pesan teks
Terima kasih, Ma. Nanti sore aku langsung ke sana.
Meraih gelas yang berisi air putih lalu meneguknya sedikit lega setelah mendapat kabar Zahra aman.
''Kamu suruh beberapa orang untuk mengawasi Amera, jangan sampai kita kalah cepat, aku gak papa dipermalukan, Tapi aku tidak mau Zahra ikut menanggung malu karena kelakuanku.''
''Baik, Tuan.''
Richard menghubungi beberapa orang untuk menjalankan perintah dari Aidin. Sungguh masalah yang terus menimpa Tuannya membuat Richard harus mengesampingkan urusan asmaranya.
Aidin kembali menatap layar laptop yang ada di depannya. Berharap semua baik-baik saja dan bisa dikendalikan.
''Ada apa lagi sih, Ma? Kenapa mama membawaku pulang ke sini?" Zahra dan Lela yaang menggendong Zea itu hanya berdiri di belakang pintu rumah Delia. Ia tak mengerti dengan maksud sang mama yang membawanya pergi secara paksa.
__ADS_1
Delia hanya tersenyum, sedikitpun tak merasa bersalah sudah membuat ibu satu anak itu kesal setengah mati.
''Mama gak akan misahin aku dengan mas Aidin, 'kan?'' tanya Zahra menyelidik.
Takut itu niat Delia, sedangkan untuk saat ini ia sudah menerima pria itu apa adanya.
''Sepertinya kamu sama Aidin itu memang harus bercerai, Za.''
Seketika itu mata Zahra digenangi cairan bening. Hatinya sakit mendengar ucapan mamanya. Sedangkan, Delia sendiri hanya bisa menahan tawa melihat kesedihan yang mendalam di wajah putrinya.
''Zahra kenapa, Ma?'' James yang baru datang menyungutkan kepalanya ke arah Zahra.
''Gak papa, paling nangisin Aidin,'' goda Delia. Bukannya prihatin dengan keadaan Zahra yang mulai kacau malah mengejeknya.
James kemudian beralih duduk disamping Zahra. Mengusap pucuk kepala putri tirinya itu.
''Ada apa? Katakan pada papa,'' ucap James lembut.
Zahra mengusap air matanya yang tak sengaja lolos. Menatap lekat pria paruh baya yang ada di sampingnya.
''Tolong katakan pada mama, kalau aku gak suka mama ikut campur rumah tanggaku.''
Zahra yang sudah tak tahan pun mendorong kursi yang diduduki ke belakang, lalu pergi meninggalkan Delia.
Menutup pintu sedikit keras menandakan kalau Zahra masih marah.
Delia pun bungkam dan lebih memilih menikmati makanannya. Mengabaikan James yang benar-benar tidak tahu pokok permasalahannya.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, dari kantor Aidin langsung pulang ke rumah delia. Dulu beberapa kali ia disambut dengan tidak baik di tempat itu, namun saat ini semua pengawal yang berada di depan membungkuk ramah padanya.
Aidin masih ingat siapa saja yang membuatnya babak belur.
"Gak mau memukul ku lagi, Brown?" Melirik ke arah penjaga yang berkulit hitam dan brewokan.
Pria yang berjenggot panjang dengan tato di tubuhnya itu hanya menundukkan kepala. Tak berani menjawab pertanyaan Aidin.
"Red, aku datang. Apa kamu gak mau menonjok muka ku?'' Aidin menunjuk wajahnya sendiri, seolah-olah mengingatkan pada pria tinggi dan berkulit putih itu saat menjadikannya sebagai sasaran tangannya.
Sama seperti sahabatnya, pria itu pun hanya menunduk tanpa sepatah katapun.
"Mama di mana?" tanya Aidin mengendurkan dasi yang seharian ini mencekik lehernya.
"Ada di dalam, Tuan" jawab Brown gagu.
__ADS_1
Aidin langsung masuk sembari mengucap salam. Menghampiri Cherly yang duduk bersama beberapa pelayan. Menyusuri sudut ruangan mencari Delia, namun sepertinya wanita itu tak ada.
"Kamar kak Zahra dimana, Cher?" tanya Aidin.
Sekalipun ia belum pernah menginap di rumah itu dan belum tahu kamar istri dan anaknya.
Cherly menunjuk ke arah lantai dua. "Kakak naik saja, kamar kak Zahra ada di tengah-tengah.''
Aidin langsung ke atas menatap beberapa pintu yang berjejer, kemudian mendekati pintu ruangan nomor tiga.
Pasti ini yang dimaksud Cherly.
Tangannya menyentuh knop lalu memutarnya. Ternyata ruangan itu dikunci dari dalam, terpaksa Aidin mengetuknya.
Tak ada sahutan dari dalam, Aidin mengulanginya lagi hingga beberapa kali.
"Untuk ap __"
Zahra yang tadinya kesal seketika berubah melihat sosok yang berdiri di depan nya. Senyum mengembang di sudut bibirnya. Menangkup rahang kokoh Aidin.
"Ini beneran kamu kan, mas?" tanya Zahra kembali memastikan, ia takut itu hanya sebuah mimpi belaka.
"Iya, ini aku. Memangnya kenapa?" Aidin sedikit bingung dengan Zahra yang nampak tak percaya dengan kehadirannya.
Tak menjawab, Zahra berhamburan memeluk sang suami dengan erat. Antara bahagia dengan kedatangan pria itu dan juga sedih dengan ucapan Delia yang masih memenuhi otaknya.
"Ada apa?"Mengecup kening Zahra, menggiringnya masuk dan mengunci pintu.
" Apa mama mau misahin kita lagi, Mas?" Zahra menyandarkan kepalanya di dada bidang Aidin.
Aidin mengerutkan alisnya. Tak mengerti maksud Zahra.
"Maksud kamu mishian bagaimana? yang nyuruh membawa kamu ke sini itu aku, bukan inisiatif mama sendiri."
"Kok gitu?" Kini Zahra yang semakin bingung.
Pasalnya, Aidin tak memberi tahu apapun tentang rencananya. Bahkan, pengawal Delia itu memaksanya seperti penculik yang mendapatkan targetnya.
"Ceritanya panjang, untuk sementara waktu kamu tinggal disini dengan mama sampai semua masalah selesai."
"Masalah apa?" Bukan Zahra jika tak ingin tahu semua tentang suaminya.
"Ini tentang aku dan Amera." Dengan berat hati Aidin mengatakan sejujurnya. Ia tak mau menutupi apapun dari Zahra. Takut ada kesalahpahaman lagi.
__ADS_1
"Apa ini serius, sampai kamu menyembunyikan aku disini?" Zahra menatap manik mata Aidin. Dari sana ia bisa membaca kecemasan seorang Aidin Adijaya.
Aidin menceritakan tentang foto yang ia terima dan juga menjelaskan semuanya rencana Amera yang ingin menghancurkan rumah tangganya.