
Aidin terus mengelus tengkuk lehernya. Hari ini ia merasa tak enak badan hingga beberapa pekerjaan terbengkalai. Terpaksa menghubungi Richard untuk datang.
Tak lama kemudian sang sekretaris masuk ke ruangannya dengan beberapa map di tangannya.
"Ada apa, Tuan?" Richard menatap wajah Aidin yang tampak pucat.
"Apa Tuan sakit?" tanya nya lagi memastikan. Merapikan meja yang terlihat berantakan.
Hampir seharian penuh ia menjalankan tugasnya di luar, dan ini pertama kali Richard bertemu dengan bosnya.
"Gak, cuma pusing sedikit, tolong ambilkan obat." Suara Aidin mulai lemah.
Richard bergegas pergi meninggalkan ruangan Aidin untuk mengambil obat.
Kalau gak sembuh juga mana mungkin aku bisa menghukum Zahra.
Aidin semakin gelisah. Takut tak bisa menghukum Zahra di atas ranjang. Sebab, tak hanya kemarin ia gagal, tapi semalam juga karena Zea rewel.
Richard kembali membawa obat sakit kepala seperti yang diminta Aidin. Ia juga membawa makanan untuk pria itu.
Aidin hanya makan beberapa suap saja karena perutnya yang mual tak memungkinkan untuk menampung banyak makanan.
"Tuan istirahat saja, nanti saya yang akan menyelesaikannya."
Baru saja beranjak, ponsel yang tertinggal di meja berdering. Nama sang istri yang berkelip kembali membangkitkan semangat yang sempat runtuh.
"Halo, Sayang. Ada apa?" Aidin kembali duduk di kursi kebanggaannya.
"Lupa salam lagi?" cetus Zahra dengan tegas. Ia selalu mengingatkan saat sang suami mengabaikan amalan itu.
Aidin mengucap salam seketika yang langsung dijawab oleh Zahra. Mereka selalu membiasakan sesuatu yang terlihat enteng, akan tetapi sangat penting dan banyak manfaatnya.
"Cepat pulang!" pinta Zahra manja.
Tidak masalah bagi Aidin, kapanpun Zahra meminta pasti dia akan mengabulkan. Meskipun pekerjaan menumpuk keluarga tetap nomor satu.
"Baiklah, aku akan segera pulang."
Setelah sambungan terputus, Aidin mengurungkan niatnya untuk ke kamar, ia mengambil jas dan memakainya.
"Anterin aku pulang!" pinta Aidin sembari merapikan rambutnya.
Mobil berhenti di bawah lampu merah yang menyala. Aidin mengedarkan pandangannya ke arah jalanan yang dipenuhi dengan penjual asongan dan pengemis.
__ADS_1
Kali ini matanya menangkap jajanan yang membuat air liurnya ingin menetes.
"Kayaknya beli itu enak." Menunjuk pedagang kaki lima yang ada di seberang jalan.
Richard menatap ke arah mata Aidin memandang. Ia membaca tulisan yang ada di gerobak paling pinggir.
"Rujak?" tanya Richard memastikan.
"Iya, biasanya Zahra suka banget makan itu," timpal nya.
Richard memarkirkan mobilnya di depan penjual itu lalu turun.
Ada-ada saja, begitulah isi hatinya mengatakan saat sang bos meminta sesuatu yang sedikit aneh. Bahkan Richard rela mengantri dan berdesak-desakan demi mendapatkan rujak.
"Lima bungkus, Pak," ucap Richard sambil kipas-kipas menggunakan tangannya.
Penjual itu menatap penampilan Richard dengan tatapan intens. Jarang sekali ada pelanggan memakai jas rapi. Lantas, ia mendekati sang sekretaris dan bertanya, barangkali salah tempat.
"Istrinya hamil, Tuan?" tanya penjual yang sudah setengah baya.
Richard menggeleng tanpa suara. Menoleh ke arah pengunjung yang nampak menikmati hidangannya. Ternyata dari tadi mereka juga memperhatikannya.
Tak berselang lama, penjual itu membungkus rujak pesanan Richard. Menjawil istrinya untuk segera memberikannya.
"Kalau tiap hari mendapat pelanggan seperti itu, pasti kita cepat kaya, Pak," gumamnya menatap punggung Richard yang mulai menjauh.
Richard kembali melajukan mobilnya menuju rumah Aidin. Hari ini ia sangat lelah dan butuh istirahat. Sudah beberapa hari diselimuti pekerjaan yang menggunung hingga terkadang harus berada di depan laptop sampai larut.
Bertepatan saat mobil Richard berhenti di halaman, sebuah mobil mewah pun masuk dari arah gerbang.
Aidin tersenyum dan menghampiri mobil itu lalu membukakan pintu.
"Sore, Ma," sapa Aidin ramah. Ternyata yang datang adalah Delia.
"Kalian baru pulang?" tanya Delia kemudian.
Richard ikut mendekat dan membungkuk sopan. Melirik Cherly yang berdiri di belakang papa nya.
"Iya, Ma," jawab Aidin singkat. Mempersilahkan Delia dan James serta adik iparnya masuk.
"Oma datang, Sayang." Zahra berlari kecil menghampiri Delia yang baru saja masuk. Tak lupa menyambut suami tercintanya. Pejuang nafkah yang tak mengenal lelah.
Richard meletakkan rujak di meja makan. Diikuti Cherly dari belakang. Gadis itu penasaran isi kantong kresek yang dibawa sang sekretaris.
"Ini apa, Kak?" tanya Cherly antusias.
__ADS_1
"Rujak," jawab Richard singkat, jika waktu itu ia masih berani basa-basi dan tersenyum pada Cherly, saat ini harus menjaga jarak. Ia tak mau Delia salah sangka dan menganggapnya ingin merayu gadis itu.
"Kamu mau?" tawar Richard membuka satu bungkus.
"Boleh," dengan senang hari Cherly menerima tawaran pria itu.
Zahra yang baru keluar dari kamar itu mengulas senyum melihat keakraban Richard dan Cherly. Apalagi sekarang Delia tak terlalu membatasi pergaulan adiknya, hingga gadis itu sedikit lebih leluasa, namun tetap dengan pengawasan yang ketat dan memilih teman yang tepat supaya tidak terjerumus ke dalam lubang yang salah.
"Siapa yang beli rujak?" tanya Zahra ikut tergiur. Aroma sambal kacangnya yang menguar menggugah selera.
"Tuan Aidin, Nona." Richard yang menjawab, sedangkan Cherly mulai mendesis sambil mengunyah potongan mangga muda.
"Aku mau minum," teriak Cherly menepuk tangan Richard.
Richard menahan tawa melihat reaksi Cherly. Mengambil segelas air dingin dan memberikannya dengan cepat. Tak menyangka, ternyata gadis itu tak bisa memakan makanan pedas.
Cherly meneguknya hingga kandas. Mengusap keringatnya yang membasahi dahi.
Delia yang melihatnya pun hanya bisa mencibir putri bungsunya. "Maka nya, kalau gak doyan pedas jangan sok-sokan."
Wajah Cherly merona menahan malu.
Kini bukan Cherly yang menjadi pusat perhatian, melainkan Zahra. Wanita itu juga menikmatinya dengan lahap.
"Kamu hamil, Nak?" tanya Delia menyelidik.
Zahra menggeleng. Sebab, sudah jelas-jelas ia melihat hanya ada satu garis merah di tespek kemarin.
"Kirain?"
Aidin yang ada di kamar mandi tak sanggup untuk keluar. Tubuhnya semakin lunglai setelah mengeluarkan isi perutnya. Keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-pori.
Sebenarnya penyakit apa yang menyerangku.
Aidin menatap wajahnya dari pantulan cermin. Teringat saat merasakan hal yang sama. Kala itu ia juga sering pusing dan mual, tapi dokter tidak menemukan penyakit apapun.
Pintu diketuk dari arah luar membuat Aidin menoleh. Menyeret kakinya yang terasa berat demi bisa membukanya.
Ternyata Zahra yang datang. Aidin langsung menarik tubuh ramping sang istri dan mendekapnya. Disaat sakit seperti ini ia hanya butuh orang terdekat untuk tetap bisa semangat.
"Kamu kenapa, Mas?" Zahra mengusap punggung Aidin yang terasa dingin.
Aidin terdiam. Tak mungkin mengatakan bahwa dirinya sakit, takut Zahra akan khawatir oadanya.
"Gak papa, kok. Cuma capek saja," ucap Aidin meyakinkan.
__ADS_1