Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Membeli kado


__ADS_3

Aidin memiringkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Hampir tiga jam terbaring tak juga membuatnya ngantuk. Justru hatinya semakin gelisah mengingat Zahra yang hanya membaca pesan darinya. Mengabaikan bukan sifat wanita itu dan membuat Aidin bertanya-tanya.


Ia terbangun dan menyibak selimut lalu meraih ponselnya. Tidak ada panggilan selain dari Amera.


"Sudah jam sepuluh, pasti Zahra sudah tidur." Keluar dari kamar dan duduk di sofa. Menyalakan tv untuk menghilangkan rasa cemas nya. Ia pikir tak bertemu Zahra akan membuatnya tenang, namun salah, Aidin justru terus memikirkan wanita itu. Tutur sapa lembut dengan segala tingkahnya yang menggemaskan mampu menggoyahkan hati Aidin yang sekeras batu karang.


"Kamu belum tidur?" Agha yang dari tadi belum tidur itu pun ikut keluar setelah mendengar berisik dari ruang tengah. 


Ya,  saat ini Aidin menginap di rumah pria itu, selain menenangkan diri, juga ingin memantapkan hatinya untuk memilih diantara dua wanita yang hadir dalam hidupnya. 


"Aku gak bisa tidur. Zahra tidak membalas pesan diriku." Mengucap dengan nada berat. Kembali meraih ponsel yang beberapa saat diletakkan di atas meja. 


"Mungkin dia sudah tidur." 


"Tapi aku mengirim pesan sebelum pulang dari kantor tadi, dia juga baca kok." Menunjukkan tanda centang dua yang berwarna biru di depan mata Agha yang sedikit sayu. 


"Kayaknya ada yang mulai khawatir nih?" goda Agha menaik turunkan alisnya dengan cepat.  


"Apaan sih." Wajah Aidin bersemu. Lantas memilih menonton tayangan tv. Menghindari Agha yang terus ingin menggodanya. 


"Sebenarnya kamu itu cinta sama Zahra, Din. Tapi kamu gak nyadar aja dan lebih mementingkan Amera karena dia yang lebih dulu hadir." 


Aidin diam meresapi setiap kata yang dilontarkan Agha, juga membolak-balikkan perasaannya selama ini yang tak karuan. 


"Tapi aku terlalu kotor untuk Zahra, Gha. Aku sudah pernah tidur dengan Amera, aku menghianati pernikahanku. Aku pernah mendengar surga istri ada pada suami, dan aku tidak bisa memberikan itu untuk dia. Dosaku sudah terlalu besar, aku malu jika tetap bersamanya. Aku malu, jika suatu hari nanti aku bersatu dengan dia dan dikaruniai anak. Apa yang akan aku katakan? Ibunya bidadari sebening embun, sedangkan ayahnya hanya noda hitam yang pasti akan mencemarkan nama baik keluarga."


Buliran bening lolos begitu saja membasahi pipi Aidin. Penyesalannya kian merasuk mengingat Zahra, gadis yang suci itu harus terperangkap menjadi istrinya. Menjadi pelampiasan akan ambisinya yang ingin memiliki warisan dari kedua orang tuanya. 


"Aku pernah mendengar kalau istrinya raja Firaun itu adalah wanita muslimah. Sedangkan Firaun sendiri orang kafir, tapi mereka tetap berjodoh. Bukankah semua rahasia Allah, mungkin ini waktunya kita untuk berubah dan mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Setidaknya kita mati dalam keadaan khusnul khotimah."


Sejak kapan pria pecicilan dengan sejuta pesona itu bijak dan membaca buku sejarah. Bukan saatnya membahas semua itu, karena ada yang lebih penting. 


Setelah panjang lebar berbicara, mereka tertawa terbahak-bahak. "Tak banyak orang yang beruntung seperti kita, mungkin Zahra adalah pintu hidayah bagimu menuju jalan yang lebih terang. 


Aidin hanya menanggapinya dengan anggukan. Kini ia lebih yakin akan mengikuti kata hatinya yang selama ini terombang-ambing. 

__ADS_1


Ponsel milik Aidin berdering. Nama Amera yang berkedip di layar. Jika biasanya ia langsung mengangkatnya, kali ini enggan dan kembali mematikannya. 


"Kenapa gak diangkat?" tanya Agha antusias. 


"Aku bingung harus bicara apa. Aku ingin tenang dulu." Menscroll ponselnya. Mengunjungi aplikasi belanjaan seperti yang sering dilihat di ponsel milik Zahra. Membeli beberapa barang lewat online.


Mungkin istirahat akan menjernihkan pikirannya lagi. 


Tidak ada yang spesial selain hari ini. Semangat Aidin begitu besar. Bangun sendiri tanpa ada drama kajian atau apa, bahkan sebelum Adzan menggema pria itu sudah bersiap untuk menjalankan kewajibannya. 


Sungguh, apa yang ditanam Zahra mulai terpahat di kepala Aidin, seolah-olah mulai menempati relung hati terkecil sekalipun. Membangkitkan iman yang selama ini terpendam oleh dosa dan napsu.


Bangunin dia mungkin akan lebih seru. 


Aidin mulai mengetik tulisan yang akan dikirim untuk Zahra. Akan tetapi, ia urungkan takut Zahra tak merespon pesan darinya seperti kemarin. 


"Kamu gak sarapan?" sapa Agha dari ruang makan. 


Aidin menghentikan langkahnya. Menatap sang sahabat yang nampak menikmati hidangannya. Hidup seorang diri membuat Agha mandiri dan masak sendiri.


"Nasi goreng dijamin halal, plus telor mata sapi ala Agha Wijaya." 


Aidin mencicipinya, walaupun tak seenak masakan Zahra, ia tetap menghabiskannya. Bahkan tak meninggalkan sebutir nasi pun. 


"Rakus amat kamu, berapa hari gak makan?" 


Agha menggelengkan kepala heran. Tak biasanya Aidin makan dan tak menyisakan nasi. 


"Bukan berapa lama gak makan, tapi barokah dari makanan itu ada pada suapan terakhir. Itu kata Zahra." 


Agha berdecak dalam hati menatap aneh Aidin yang terlihat rapi. 


Sepertinya sebentar lagi akan ada ustadz baru. 


"Mau ke mana? Ini baru jam enam. Karyawan juga belum ada yang datang."

__ADS_1


"Hari ini aku gak ke kantor. Mau beli kado. Temani aku!"


Agha bergegas ganti baju setelah mendengar permintaan Aidin. 


Pertama kali Aidin masuk ke sebuah toko perhiasan. Seperti ucapan Richard, biasanya wanita memang suka berlian mahal dan mewah yang pastinya limited edition. 


"Selamat datang Tuan Aidin, apa ada yang bisa saya bantu?"


Seorang manajer menyambut kedatangan Sang pewaris Adijaya. 


"Aku mau beli satu set berlian yang belum pernah dipakai perempuan manapun."


"Baik, Tuan. Akan saya ambilkan."


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa pesanan Aidin. Ia juga menjelaskan tentang perhiasan yang saat ini ada di depan pria itu. 


"Baiklah, aku ambil yang ini. Bungkus sekalian yang rapi." 


"Itu untuk siapa?" 


Agha menyungutkan kepalanya ke arah emas itu. 


"Untuk Amera. Memangnya kenapa? Apa ini kurang bagus? "


"Terlalu bagus untuk ukuran selingkuhan," cetus Agha meninggalkan Aidin. 


Sementara itu di rumah Aidin,  Zahra bermandikan air mata. Ia memasukkan semua bajunya ke dalam koper. Kepergian Aidin semalam sudah cukup memberikan bukti, bahwa pria itu benar-benar tidak menginginkannya. 


"Seharusnya malam ini kita bahagia karena aku akan memberimu kejutan, tapi aku salah, Mas. Ternyata kamu lebih memilih Amera daripada aku." Mengelus perutnya yang masih rata. Hatinya hancur berkeping-keping bak butiran debu mengingat perjuangannya yang sia-sia. 


Meskipun hatinya terasa perih, Zahra tetap membuat kue. Berharap Aidin mengingat pertemuan terakhirnya kali ini. Sebab, jika sampai malam ini pria itu tak pulang, maka tertutup sudah pintu hati Zahra untuknya.


Bukan berharap penuh, ia hanya ingin berpisah dengan kenangan manis. Memberikan momen yang tidak akan terlupakan bagi anaknya kelak. Disayang ayahnya sebelum menjadi milik orang lain.


 

__ADS_1


__ADS_2