
Tidak ada pembicaraan lagi setelah Aidin menerima permintaan Pak Herman. Zahra duduk di samping bu Lilian, sedangkan Aidin memilih keluar. Ia menyendiri di balkon menikmati dinginnya angin malam yang menampar.
Darren menghampiri sang adik lalu berdiri di samping nya. Mereka saling menatap jauh ke depan. Suasana berubah canggung. Aidin tak ingin menyapa lebih dulu. Mengingat apa yang dilakukan Darren membuatnya sakit hati.
"Maafkan aku," ucap Darren lebih dulu. Dari lubuk hati terdalam, ia menyesal sudah membuat wajah Aidin babak belur. Namun, juga tak bisa menahan emosinya yang membuncah mendengar kelakuan pria itu.
"Kenapa harus minta maaf? Bukankah kau sudah benar?" balas Aidin tanpa menoleh. Matanya fokus pada lampu yang berkelip menghiasi kota.
"Itu memang pantas aku terima, jadi kau tidak perlu minta maaf," tambahnya cuek.
Darren meletakkan tangannya yang saling terpaut di atas pagar. "Apa kau hanya pura-pura menerima Zahra?" tanya Darren.
Sama seperti Zahra, ia pun tak percaya dengan keputusan pria itu. Bukan tipe Aidin yang gampang luluh dengan permintaan orang lain. Apalagi itu masalah hati. Pasti akan dipikirkan secara matang. Namun dengan mudahnya menjawab setuju dalam kurun waktu yang singkat.
"Itu bukan urusanmu. Jadi mulai sekarang jangan ikut campur urusanku lagi."
Aidin pergi meninggalkan Darren. Hatinya sedang kacau dan tidak ingin berbicara dengan siapapun termasuk sang kakak yang pasti terus mempertanyakan tentang keputusannya yang menuruti permintaan pak Herman.
Zahra membuka pintu ruangan. Bertepatan dengan itu, Aidin melintas. Mereka saling tatap dan membisu. Hingga akhirnya seorang wanita paruh baya datang membuyarkan keduanya.
"Ini baju ganti untuk Tuan dan Nona." Memberikan tas ransel di tangan Aidin. Lalu masuk ke dalam dengan satu tas yang ada di tangan kiri nya.
Zahra mendekati Aidin. Memastikan pintunya tertutup rapat sebelum mengutarakan isi hatinya.
"Mas gak perlu khawatir dengan permintaan papa. Kita hanya akan pura-pura di depannya saja. Selebihnya terserah, aku akan tetap tinggal di kos-kosan dan akan datang kalau mas membutuhkanku. Aku juga tidak akan mengganggu hubungan mas dan Amera."
Panjang lebar Zahra menjelaskan. Sedikitpun tak ingin membuat Aidin salah paham dan menganggapnya terlalu senang dengan itu.
Tidak ada jawaban, Aidin meletakkan tas di kursi lalu duduk. Hari ini ia terlalu lelah hingga otaknya sudah tak bisa berpikir.
Hampir saja ingin melangkah pergi, pintu kamar terbuka membuat Zahra dan Aidin menoleh.
__ADS_1
"Za, kamu temani Mama di kamar, biar nanti Aidin tidur di tempat lain," pinta bu Lilian. Untuk yang kesekian kali terpaksa Zahra menerima permintaan orang tua Aidin. Dengan begitu, ia bisa membalas kebaikan mereka yang selama ini sudah mau menerimanya.
Bisa saja mereka memesan kamar untuk istirahat, namun Bu Lilian dan pak Herman malam ini ingin bersama dengan menantu tercinta.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, Zahra terbangun lalu membenarkan hijabnya. Ia menghampiri pak Herman yang nampak kesusahan mengambil air minum di meja.
"Pa, hari ini aku harus pergi bekerja, dari kemarin aku sudah bolos dan gak mungkin cuti lagi," ucap Zahra tanpa basa-basi.
Pak Herman menatap Zahra dengan lekat.
"Mulai hari ini kamu gak boleh kerja, Za. Aidin yang akan bekerja dan memenuhi semua kebutuhan kamu. Papa akan memberikan kursi kebesaran papa untuk dia."
Aku tidak bisa.
Zahra hanya menjawab dalam hati, tidak mungkin ia membantah mengingat kondisi pak Herman yang masih lemah.
"Ya sudah, aku sholat dulu, nanti aku bantu papa ke kamar mandi." Zahra keluar dari ruangan itu setelah membangunkan bu Lilian dan Darren.
Nampak Aidin sedang tertidur dengan posisi duduk. Dari semalam, Zahra penasaran dengan luka di wajah sang suami, namun ia tak berani bertanya dan memilih diam.
"Aku minta maaf, Mas. Aku hanya mau mengambil baju," ucap Zahra pelan.
Aidin cepat-cepat melepaskan tangan Zahra dan membantunya membuka tas. Lalu, mengeluarkan semua baju milik wanita itu.
"Sudah waktunya subuh. Sholat dulu, setelah itu boleh tidur lagi." Zahra kembali mengingatkan sebelum masuk ke dalam.
Aidin mengusap wajahnya kasar saat mengingat mimpinya semalam. Ia bermimpi memiliki anak dengan Zahra. Dan itu adalah hal yang paling dibenci. Seakan itu adalah nyata yang terus membuatnya cemas.
Mimpi hanya bunga tidur. Aku tidak boleh terkecoh. Amera, ya hanya dia yang berhak mengandung anakku.
Tak berselang lama, Darren keluar dan duduk di samping Aidin. "Kamu dipanggil papa."
__ADS_1
Aidin bergegas masuk. Sebuah pemandangan yang menyejukkan mata, melihat Zahra dan Bu Lilian saling bersalaman usai menjalankan sholat.
Ia berdiri disamping brankar menatap pak Herman yang nampak lebih bugar.
"Nanti jam delapan kamu pimpin rapat di kantor. Mulai hari ini papa akan berhenti bekerja."
Kedua mata Aidin membulat sempurna. Setelah kemarin ia di cap akan dikeluarkan dari nama Adijaya, justru jabatan yang lebih tinggi akan diduduki.
"Maksud papa?" tanya Aidin memastikan.
"Kamu akan menjadi presdir di perusahaan papa, jadi gunakan kesempatan itu dengan baik. Buktikan kalau kamu bisa dan mampu mengembangkan perusahaannya lebih baik lagi," sahut Darren yang baru keluar dari kamar mandi.
Zahra dan Bu Lilian saling peluk. Ia ikut bahagia dengan kabar itu, namun juga waswas kalau Aidin tidak bisa memegang amanah yang menurutnya sangat besar.
"Tapi dengan satu syarat," imbuh pak Herman.
"Apa itu?" tanya Aidin lagi.
"Kamu harus setia sama Zahra. Menjadi suami yang baik untuk dia. Papa tidak mau kamu berhubungan lagi dengan Amera atau perempuan manapun. Sekali lagi kamu menyakiti menantu papa, tidak akan ada kesempatan untuk masuk ke keluarga Adijaya. Cinta ada karena terbiasa. Dan mulai sekarang kamu harus terbiasa memperlakukan Zahra dengan baik."
Aidin hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan papanya kali ini. Ia sudah merasa terjebak dengan ucapannya sendiri dan tidak bisa mundur lagi.
"Za, sekarang kamu siapkan baju Aidin."
Bi Lilian mengusap lembut lengan Zahra.
"I—iya, Ma," jawab Zahra gugup. Ia mengambil baju Aidin yang ada di tas. Bu Lilian sengaja mengatakan pada pembantu untuk membawa baju kantor. Sebab, rencana itu sudah dibicarakan saat Zahra dan Aidin belum tiba.
Semoga rencana ini berhasil. Dan semoga Aidin bersungguh-sungguh untuk menerima Zahra menjadi istrinya. Bu Lilian.
Aku gak tahu, sampai kapan hubungan ini berakhir, tapi aku akan bersabar dan menerima dengan ikhlas apapun yang ditakdirkan Allah.
__ADS_1
Aidin yang ada di kamar mandi pun menatap bayangan wajahnya dari pantulan cermin.
"Maafkan aku, Za. Untuk saat ini Amera tidak akan tergantikan, tapi tenang saja, aku akan berusaha melepasmu secara terhormat.