Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Kemarahan di pagi buta


__ADS_3

Sapuan angin dari arah laut begitu sejuk menenangkan jiwa. Zahra dan Aidin masih menikmati kebersamaannya. Detik demi detik terlewati dengan indah. Seolah tak ingin meninggalkan malam yang sangat berarti itu. Tak henti-hentinya Aidin menyanyikan lagu merdu yang membuat Zahra semakin betah. 


"Kapan kamu belajar olah vokal?" tanya Zahra menghentikan nyanyian Aidin. 


"Waktu SMA, kebetulan aku suka menyanyi." Aidin merangkul pundak kecil sang istri. Mereka menatap ke arah yang sama. 


"Kenapa gak jadi penyanyi saja?" Zahra mendongak. Memandang  wajah Aidin yang sedikit redup. Walaupun mereka berdua di bawah lampu remang terlihat jelas ada guratan kesedihan di wajah pria itu. 


"Aku kecewa." Jawaban singkat itu sudah membuat Zahra paham, dan ia tak perlu membahasnya lagi. 


Aidin kembali menghubungi mbak Lela untuk menanyakan kabar tentang Zea. Harus memastikan bahwa putrinya baik-baik saja. 


"Malam ini aku bahagia banget bisa bersamamu. Aku berharap malam-malam selanjutnya akan tetap romantis seperti ini," ucap Zahra penuh harap. Sebagai seorang istri yang dicintai, ia merasa beruntung. Meskipun harus melewati jalan yang berliku, namun kini mendapatkan  cinta sepenuhnya dari Aidin. 


Aidin membisu, karena ia tidak akan mengucapkan janji, tapi akan membuktikan bahwa semua yang diinginkan Zahra akan dikabulkan.


"Lanjutkan nyanyi nya!"


Kali ini Aidin menyanyikan lagu yang berjudul Tiara. Lagu yang nge-hits dikalangan anak muda.


Meskipun terdengar sangat menyentuh, Zahra menyukainya. Ia menyandarkan kepala di dada bidang Aidin, menikmati suara merdu sang suami. 


Semakin lama Aidin merasa tubuh Zahra semakin berat hingga ia terpaksa bersandar dan menghentikan suaranya. Terdengar nafas yang teratur, itu artinya Zahra sudah terlelap di pelukannya. 


"Akan ada malam-malam yang lebih indah dari ini. Percayalah! Selama nafasku masih berhembus, apapun yang kamu inginkan akan aku penuhi. Meskipun tak sebanding dengan penderitaanmu, setidaknya aku diberi kesempatan untuk membuatmu selalu tersenyum."


Mencium kening Zahra dengan lembut hingga buliran bening menetes di dahi wanita itu. 


Menjadi suami Zahra adalah Anugerah terbesar dalam hidup Aidin. Meskipun terkadang merasa dirinya adalah benalu yang hanya mencoreng wanita itu, ia tetap bangga.


Aidin melambaikan tangannya ke arah pelayan yang melintas. Meminta bantuan wanita itu untuk membukakan mobilnya, sedangkan Aidin mengangkat tubuh Zahra. 


Membahagiakanmu sangat sederhana, meskipun terlambat, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Mengusap pipi Zahra yang terlelap. 


Demi kenyamanan wanita itu, Aidin membaringkannya di jok belakang. Menghimpitnya dengan bantal agar tak terjatuh. 


Zahra meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Kedua tangannya menjulur ke kiri dan kanan. Matanya terasa masih sangat berat, namun suara Adzan menggugah jiwanya untuk tetap terbangun. 


Menatap langit-langit kamarnya kemudian menoleh ke arah samping, nampak Aidin masih terlelap dengan satu tangan yang memeluknya. 

__ADS_1


"Mas bangun, sudah Shubuh," bisiknya. Zahra menggoyang-goyangkan lengan Aidin dengan pelan. Ia tak pernah putus asa sebelum pria itu membuka mata. 


Terdengar suara lenguhan. Itu artinya Aidin sudah terbangun.


"Aku ke kamar mandi dulu ya," pamit Zahra. 


Aidin hanya menjawab dengan anggukan kepala. 


Tak berselang lama pintu diketuk dari arah luar, sudah dipastikan itu putri cantiknya. Biasanya Zea memang sudah bangun lebih dulu daripada mereka. 


Aidin membuka pintu. Ia mengambil alih putrinya dari tangan mbak Lela dan membawanya masuk. Membaringkan di atas ranjang dan mendekapnya dari samping. 


"Semalam Zea tidur dengan mbak Lela, ya? Kasihan, mama sama papa ke pantai," goda Aidin menjawil pipi gembul putrinya. 


"Tenang sayang, lain kali kita akan ke pantai bertiga kok," ucapnya lagi menenangkan. 


Drrt drrt drrt 


Suara ponsel bergetar mengalihkan pandangan Aidin. Ia segera meraihnya dan menatap nama yang berkelip. 


"Ngapain mama Delia telpon pagi-pagi? Apa ada yang penting?"


Ternyata itu telepon dari mertuanya, dan tidak biasanya Delia menghubunginya secara langsung. 


"Mama," jawab Aidin singkat.


Aidin menggeser lencana hijau tanda menerima. Sebagai menantu yang baik ia menyapa dengan ramah dan sopan. 


"Hari ini kamu sibuk gak?" tanya Delia serius. 


Sibuk ataupun tidak, Aidin tetap mengutamakan mamanya. Mengesampingkan pekerjaannya. 


"Gak, Ma. Memangnya ada apa?" tanya Aidin sembari menatap Zahra yang berdiri di sisi ranjang.


"Bulan depan Hanif menikah, mama sudah  merekomendasikan beberapa tempat untuk pesta, tapi dia gak mau. Mama cuma mau tanya, barangkali kamu ada tempat yang bagus."


Mendengar itu, Zahra sudah kegirangan. Akhirnya kakaknya itu akan menikah juga.


Aidin mengingat-ingat beberapa tempat yang sering dikunjungi. Namun, menurutnya semua itu sama. Tidak ada yang lebih bagus untuk pesta kecuali ranjang bergoyang. 

__ADS_1


"Nanti aku tanya Richard deh, Ma. Mungkin dia lebih paham tentang beginian." Aidin benar-benar pasrah. Sebab, sedikitpun ia tak mengerti dengan tempat yang cocok untuk menggelar pesta. 


"Ya sudah kalau begitu, nanti kamu suruh Richard datang ke rumah saja, biar mama yang ngomong sendiri dengan dia." 


Setelah sambungan terputus, Aidin langsung menghubungi sang sekretaris. 


Satu panggilan ditolak membuat darah Aidin menghangat. 


Dua kali ditolak lagi darah Aidin mulai mengeluarkan uap. 


Dasar sekretaris kurang ajar, umpatnya dalam hati. 


Aidin mencoba sekali lagi. Jika bukan karena Delia, ia tidak sudi menghubungi Richard itu di pagi buta, karena sudah dipastikan pria itu masih tenggelam di alam mimpinya. 


Tiga kali panggilan ditolak juga membuat darah Aidin mendidih. 


"Tunggu hukumanmu, Chard." Aidin membanting ponselnya di samping Zea. 


Tak lama kemudian, Richard menghubungi balik. Sebenarnya Aidin sudah malas berbicara dengan pria itu, namun ia tak bisa abai pada Delia yang sudah memberi amanah padanya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau Anda yang menelpon," ucap Richard terputus-putus. Menahan takut karena sudah berani menolak telepon dari bos nya. 


"Memangnya di mana mata mu?"


Richard meminta maaf lagi sudah membuat Aidin marah.


"Nanti kamu disuruh datang ke rumah mama Delia," ucap Aidin ke inti. Tidak mau lama-lama berbicara dengan orang yang sudah tidak menghargainya sebagai bos, begitulah kira-kira anggapan Aidin. 


"Ada tugas apa, Tuan?" tanya Richard antusias, ia kaget sekaligus takut dengan panggilan itu. 


"Disuruh ngawinin anak bungsunya, cepetan keburu disambar orang," ucap Aidin asal, kemudian menutup teleponnya. 


Richard menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membuka beberapa chat dari Cherly yang semalam belum sempat ia buka. 


"Masa sih? Bukannya Cherly baru berumur lima belas tahun?"


Richard mencoba menghubungi Cherly, ia ingin memastikan bahwa ucapan Aidin itu tidak benar.


Hampir satu menit, Suara serak menyapa dari seberang telepon.

__ADS_1


"Belum bangun, Cher?"


Seketika Cherly membuka mata lebar-lebar mendengar suara itu. Ia yang malas bangun jadi bersemangat. Menganggap itu sambutan yang spesial.


__ADS_2