Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Dugaan yang salah


__ADS_3

"Eh, Mama," sapa Zahra sedikit gugup. Menggeser tubuhnya sedikit ke samping saat bu Lilian nampak mencari sesuatu di kamarnya. 


"Aidin di mana?" Bu Lilian masuk tanpa dipersilahkan. Matanya langsung tertuju pada sprei yang berantakan serta bantal yang terletak di sembarang tempat. 


"Di kamar mandi, Ma." Mengikuti langkah bu Lilian dari belakang. 


"Bukankah beberapa menit yang lalu kamar ini seleesi dirapikan, kenapa berantakan lagi?" Meraih jubah Zahra yang teronggok di lantai.


Zahra pikir tadi sudah melemparnya di keranjang kotor, tapi entah kenapa tiba-tiba ada di samping ranjang. 


Zahra menepuk jidatnya. Semakin panik saat Bu Lilian menatapnya dengan tatapan selidik. 


"I—itu tadi mas Aidin yang __" Zahra menghentikan ucapannya yang terdengar ambigu, tidak mungkin ia jujur apa yang terjadi padanya dan Aidin, dan tidak mungkin juga ia berbohong pada sang mertua. 


Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi, sudah dipastikan Aidin sedang mandi. 


"Nifas mu sudah selesai, Za?" Akhirnya Bu Lilian melontarkan sebuah pertanyaan yang sedikit pribadi. Tidak masalah, ia adalah ibunya dan berhak tahu apapun yang ada pada putrinya. 


"Sudah, Ma." 


Bu Lilian manggut-manggut lalu menghampiri Zahra. Mengusap pucuk kepalanya yang tertutup hijab warna hijau botol. 


"Nanti kalau Aidin sudah keluar dari kamar mandi, katakan pada dia kalau mama ingin bicara."


Zahra mengangguk tanpa suara. Menatap punggung bu Lilian berlalu. 


Huh 


Menghembuskan napas lega, akhirnya ia bisa terbebas dari pertanyaan yang membuatnya gugup setengah mati. Kepolosan yang melekat terkadang membuatnya keceplosan. 


Baru lima menit duduk di tepi ranjang, pintu kamar mandi terbuka. Aidin mendekati Zahra yang nampak tercengang. 


"Mana Zea, Sayang?"


Zahra menelan ludahnya dengan susah payah saat Aidin berdiri di depannya. Mata sucinya harus ternodai oleh sesuatu yang seharusnya tak dilihat. Ia memalingkan pandangannya ke arah lain, takut terpesona dengan tubuh kekar sang suami yang terekspos. 


"Bukan Zea, Mas, tapi mama," jawab Zahra tanpa menatap. Tangannya mengulur mendorong Aidin supaya menjauh. Ia Tak mau terjerumus dan tergoda ciptaan Allah yang sangat sempurna itu. 

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, gak suka aku seperti ini?" Aidin menangkup kedua pipi Zahra, menghadapkan lagi ke arahnya. 


"Bukan gak suka, Mas, cepetan ganti baju, kalau handuk yang kamu pakai melorot bagaimana?" Wajah Zahra kembali bersemu, tak bisa membayangkan jika benar-benar terjadi. 


Aidin tertawa terbahak-bahak. Satu lagi yang membuatnya ingin selalu berada di dekat Zahra, yaitu suka dengan nada bicaranya . 


"Kalau handuk ini lepas." Menunjuk handuk yang melilit di perutnya. "Itu artinya isinya siap tempur, Sayang."


"Sudah, ah, jangan ngomongin itu terus." Zahra memilih pergi daripada terus menerima godaan Aidin. 


Setibanya di belakang pintu, Zahra menoleh ke belakang, menatap Aidin yang masih berdiri di samping ranjang. 


"Mama mencarimu, katanya ada yang mau dibicarakan." Membuka pintu lalu keluar. Tak peduli dengan tangan Aidin yang terus melambai ke arahnya. 


Setelah punggung Zahra menghilang di balik pintu, dengan nakalnya ia membuka handuknya dan membuangnya ke sembarang arah. Mengeringkan rambutnya yang maish basah.


"Masa gak mau lihat aku begini," gerutunya sembari mencari baju di dalam lemari. 


Beberapa menit kemudian 


Aidin keluar dari kamarnya. Langkahnya berhenti saat mendengar suara tawa dari arah ruang tengah. Kakinya yang hampir mengayun ke kamar bu Lilian dialihkan menghampiri sang istri yang bertepuk tangan, entah apa yang terjadi hingga Zahra terlihat bahagia. 


Ditemani sang pengasuh yang mengajari cara merawat bayinya. 


"Gak ada apa-apa." Melirik ke arah baju Aidin yang sangat rapi. Tak hanya itu, aroma parfum pria itu pun lebih tajam menusuk indra penciuman. 


"Mau ke mana?" tanya Zahra ketus. 


"Gak ke mana-mana, mau ke kamar mama." 


"Tapi kok wangi banget," tegur Zahra dengan lugas, curiga dengan penampilan Aidin. 


"Aku wangi untuk istriku, bukan orang lain. Memangnya gak boleh?" 


Tak menanggapi justru Zahra mengusir Aidin, malu jika kemesraannya disaksikan orang lain. "Ya sudah cepat sana, mama sudah menunggu."


Aidin segera beranjak, takut terkena omelan sang putri ratu yang sudah mulai uring-uringan karena ulah konyol nya. 

__ADS_1


Aidin menemui Bu Lilian yang duduk di teras samping. "Mama mau bicara apa?" 


Bukan jawaban yang diterima melainkan sebuah toyoran di jidat. 


"Ada apa ini, Ma?" protes Aidin yang tak tahu kesalahannya. 


Bu Lilian melipat kedua tangannya. Memasang wajah pias. Seolah-olah pria di depan itu yang akan menjadi pelampiasannya. 


"Kamu apain Zahra?" tanya Bu Lilian menekankan. 


Aidin mengernyit, semakin bingung dengan pertanyaan mamanya. 


"Maksud mama apa sih? Aku gak apa-apain dia. Memangnya apa yang Zahra katakan?"


Bu Lilian berdecak, menatap Aidin sinis. Ia bukan hanya seorang ibu, tapi juga istri, bisa membaca situasi yang terjadi di sekelilingnya. 


Beralih menjewer telinga Aidin dengan kasar. "Jangan pura-pura bodoh, mama tahu kalau kamu tadi minta jatah. Ingat ya, Din. Zahra itu baru saja melahirkan, jangan sampai kamu menyakitinya karena hawa nafsumu. Istri itu bukan hanya menjadi ladang untuk bercocok tanam saja, tapi juga harus dijaga dengan baik. Setidaknya tunggu sampai dia pulih."


Aidin hanya mencerna ucapan sang mama, meskipun ia tak merasa menyakiti. Tetap saja memilih diam daripada berdebat yang ujung-ujungnya kesalahan tetap ada padanya. 


Setelah puas meluapkan amarahnya, bu Lilian kembali duduk. 


Kini giliran Aidin yang berlutut di depan wanita itu, sejahat apapun bu Lilian tetap wanita yang membawa surganya. 


"Tadi aku gak minta jatah, Ma," pungkas Aidin, namun itu saja masih tidak membuktikan apa-apa. 


"Jangan bohong!" Bu Lilian bukan orang yang gampang percaya, apalagi dengan pria semacam Aidin yang berkali-kali menipunya. 


"Kalau gak percaya tanya Zahra. Untuk apa aku berbohong, tadi kami cuma melakukan pemanasan, lagipula aku juga belum tega untuk meminta hakku, dan aku akan menunggu sampai dia benar-benar sembuh." 


"Kamu yakin?" Bu Lilian masih bernada ketus. 


"Aku berani bersumpah." Mengangkat kedua jarinya ke atas. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menjaganya tanpa imbalan apapun. Jadi, aku tidak akan menuntut sebuah hak seperti yang dia lakukan dulu padaku. Aku akan berusaha membuatnya nyaman saat di dekatku."


Teringat lagi di awal pernikahan saat Aidin tak pernah memberikan apapun pada Zahra. Mungkin saat ini waktu yang tepat untuk menebus semuanya. 


Melihat keseriusan Aidin, Bu Lilian mulai percaya, tapi tetap memberikan wejangan supaya tak mengingkari janji yang diucapkan tanpa paksaan siapapun. 

__ADS_1


Pak Herman yang dari tadi mendengar dari balik pintu hanya geleng-geleng kepala. Tapi tetap salut pada istrinya yang sangat perhatian pada kedua menantunya. 


__ADS_2