Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Pulang


__ADS_3

Tiga bulan semenjak bertemu di Sydney  


Zahra menangis sesenggukan setelah salam dari sholatnya. Ini sudah beberapa kali ia menjadi makmum Aidin. Pria yang dulu selalu menolak ajakannya kini justru membuatnya kagum dengan ayat-ayat yang dilantunkan. Pasalnya, Aidin hafal beberapa surat yang Zahra sendiri tak menghafalnya. 


 


Benar, tidak kata terlambat bagi orang yang mau bertaubat. Allah selalu membuka jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh. Seperti yang terjadi pada Aidin saat ini, akan tetapi tak semua orang bisa beruntung seperti dia. Maka dari itu gunakan waktu sebaik mungkin untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.


Mendengar itu, Aidin menoleh ke belakang. Merengkuh tubuh Zahra yang bergetar menahan tangis. Mencium pucuk kepala wanita itu yang tertutup mukena. Mengusap kedua tangannya dengan lembut. 


"Jangan menangis, aku gak suka." Aidin mengusap pipi Zahra yang dipenuhi dengan air mata. 


"Ini itu tangisan bahagia, Mas." Zahra memberi tahu, menangkup rahang kokoh Aidin, menatap lekat wajah tampan itu. 


Peci yang menghiasi kepalanya seakan itu adalah mahkota yang menghiasi membuat Zahra bangga. Kini ia sudah merasa nyaman di dekat Aidin, dan tak ada lagi kata ragu menyelinap.


"Kapan kamu membeli mukena ini?" Melepas mukena yang dari tadi membuatnya terpana.


Banyak mukena baru yang ada di lemari, tapi ia baru menemukannya kemarin saat membongkar baju yang akan dibawa pulang. 


Mukena yang terbuat dari kain sutra itu sangat cantik dan indah, anggun saat dipakai. Zahra tak menyangka Aidin membelikannya barang-barang mahal. 


"Sehari sebelum kamu ulang tahun. Bukankah ini yang kamu inginkan sejak dulu?" 


Tanpa sengaja, Aidin pernah melihat gambar yang ada di ponsel Zahra saat wanita itu ketiduran. Mungkin dulu ia memang terlalu abai dan tak pernah memenuhi permintaannya, namun sekarang saatnya membuktikan sebuah ketulusan yang ia miliki.


Menyelipkan rambut Zahra yang menutupi pipi. Memandangi wajah cantik alami itu. Tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati kepada Allah karena sudah diberi kesempatan untuk bisa bersanding dengan bidadari itu. 


"Tapi ini sangat mahal." 


Sekali lagi menjewer mukena yang berharga jutaan rupiah tersebut. 


Aidin mengangkat dagu Zahra dengan jarinya. Mensejajarkan wajah wanita itu dengan wajahnya. 


"Jangan pernah protes dengan apa yang aku berikan. Cukup nikmati saja," jawab Aidin menekankan. Menarik ceruk lehernya dan mendekatkan bibirnya 


Cup cup cup

__ADS_1


Kecupan mendarat di bibir Zahra hingga berulang-ulang. Hanya itu yang Aidin lakukan, karena masih takut untuk memberikan yang lebih lagi.


"Sekarang cepat siap-siap, sebentar lagi kita pulang." Aidin melepaskan pelukannya. Merapikan sajadah dan mukena lalu membantu Zahra memilih baju. 


"Mau pakai yang ini apa yang ini?" Menunjuk dua gamis warna hitam dan pastel dengan model yang berbeda. 


"Pastel saja, lebih cerah," jawab Zahra. Membantu memasukkan baju ke dalam koper. 


"Nyonya, dedeknya haus." 


Suara di balik pintu membuat Aidin menghentikan aktivitasnya. Lalu, membukanya dan mengambil alih putrinya yang sedikit merengek. 


"Dedek haus, ya?" Menutup pintunya, mencium pipi gembul sang putri yang semakin hari nampak cantik jelita. Membawanya menghampiri Zahra yang sibuk melipat baju. 


"Nanti kalau kita sudah sampai langsung anterin ke rumah ayah ya, Mas," tagih Zahra mengingatkan. 


"Istirahat dulu, baru ke rumah ayah." 


Kini Zahra sudah mulai terbiasa memberikan asi di depan Aidin, bahkan beberapa kali ia mandi dengan bantuan pria itu. 


Tidak hanya Aidin dan Zahra yang berkemas, Bu Lilian dan Darren pun sudah siap untuk segera pulang ke tanah kelahiran. Meskipun aktivitasnya terhalang oleh tingkah Shireen tak menyurutkan pria itu tetap sigap dan membantu Keysa yang masih sibuk berdandan. 


"Sudah, Ma." Aidin menarik koper yang sudah penuh dengan baju-bajunya, satu tangannya menggandeng tangan Zahra yang menggendong Zea. 


Mereka berkumpul di depan. Menunggu Darren dan Aidin memasukkan barang-barang bawaannya. Kemudian menjemput istri masing-masing masuk ke dalam mobil. 


"Sini, biar aku yang gendong." 


Bayi cantik yang memakai baju senada dengan sang mama itu tersenyum memamerkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi. 


''Kedatangan papa ke sini mendapatkan hadiah berkali-kali lipat."


Pak Herman tidak akan melupakan apa yang terjadi di Negara itu, di mana sakitnya adalah jalan dipertemukannya Aidin dan Zahra. Hingga mereka kembali menjalin cinta.


Shireen yang ada di jok depan bersama sang papa itu menatap ke arah belakang, di mana Aidin dan Zahra sibuk menggoda Zea yang terus tertawa. 


Zahra yang menyadari akan itu menyenggol lengan Aidin dengan sikunya. 

__ADS_1


"Mau ikut om." Mengulurkan tangannya ke arah Shireen. Seketika itu Shireen turun dan beralih ke belakang. 


"Tapi janji ya gak boleh gangguin dedek Zea."


Shireen mengangguk. Jari mungilnya memegang kaki Zea yang menendang-nendang ke arah nya. 


Bocah yang baru bisa berjalan itu mulai paham dengan apa yang Aidin katakan. 


"Dede," ucapnya dengan nada gagu. 


Kakinya turun ke bawah, merambat ke arah Zea yang ada di pangkuan Aidin lalu mencium pipi gembulnya gemas. Aksinya pun menciptakan gelak tawa bagi seluruh penumpang mobil. 


Setelah perjalanan beberapa jam yang cukup menegangkan, akhirnya Zahra bisa bernapas lega melihat sang putri baik-baik saja. Awalnya ia masih enggan untuk pulang, takut Zea kenapa-napa, namun setelah mendapat penjelasan dari dokter, rasa takut itu lenyap dan yakin jika putri kecilnya kuat. 


Tak seperti tadi yang hanya menaiki satu mobil, kali ini mereka berpencar dengan mobil  masing-masing. Zahra masuk ke mobil jemputan begitu juga dengan bu Lilian dan Darren. 


"Gak ada yang berubah ya, Mas." Zahra menikmati pemandangan dari dalam mobil. Masih tetap sama, suasana kota itu nampak ramai. 


"Ada," jawab Aidin singkat. 


"Apa yang berubah? Tidak ada bangunan baru, hanya ada beberapa yang direnovasi doang, 'kan?" 


Aidin menggeleng. Meraih tangan Zahra dan menempelkan di dada bidangnya. 


"Hatiku yang berubah, dan semua ini karena kamu. Ternyata kehilangan orang yang kita cintai itu lebih sakit daripada luka sayatan yang nyata."


Zahra terharu, kata-kata itu menyentuh hatinya hingga terasa sejuk. 


"Kita akan langsung ke rumah ayah, atau pulang ke rumah?" Zahra mengalihkan pembicaraan, tak mau terbawa perasaan yang pasti membuatnya kembali teringat masa lalu. 


"Ke rumah dulu lah, kasihan Zea, takutnya masuk angin."


Memeriksa suhu tubuh sang putri yang nampak terlelap, padahal saat berada di pesawat bocah itu tak ingin tertidur dan memilih untuk menanggapi Shireen. 


"Makasih ya, Mas. Kamu sudah sabar menungguku, mau membantuku untuk melupakan semuanya. Sekarang kita akan memulai hidup baru bersama Zea."


"Dan adik-adiknya kelak," timpal Aidin yang membuat Zahra tersenyum lebar, karena saat ini ia sudah siap mengandung lagi. 

__ADS_1



__ADS_2