
Sejak kejadian itu, Aidin tak pernah lepas dari rumah Delia. Siang malam ia selalu memantau bangunan mewah yang pernah membuatnya terkapar. Tidak ada tanda-tanda Zahra di tempat itu, namun tak menyurutkan tekadnya yang ingin tetap mencarinya.
Beberapa kali Aidin pun memaksa masuk melawan penjaga. Tapi percuma, karena ia tak bisa melawan mereka hingga terkadang harus dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.
Jika siang ia harus menyuruh anak buah untuk berjaga, malam hari Aidin sendiri yang datang ke rumah itu untuk mencari petunjuk keberadaan sang istri.
"Mau sampai kapan kau di sini?" Darren menepuk punggung sang adik yang terlihat kurus. Prihatin dengan musibah yang menimpa. Pasalnya, hari-hari Aidin hanya diisi dengan menyendiri dan melamun, merenungi nasibnya yang kian memburuk.
Tujuh bulan bukan waktu yang sebentar. Sebuah penantian yang tak ada titik terang. Aidin sudah mengeluarkan banyak biaya hanya untuk mencari Zahra. Namun, wanita itu seakan lenyap bak ditelan bumi. Penyesalan yang semakin mendalam itu menggerogoti relung hati terdalam.
"Sampai Zahra ketemu." Hanya itu jawaban yang meluncur.
"Sebentar lagi papa operasi, dia memintamu untuk menemaninya." Darren mengingat kan. "Kamu harus bisa melewati ini, jika Zahra jodohmu, pasti Allah akan mempertemukan kalian." Meyakinkan Aidin untuk tetap kuat.
Berat hati Aidin mengangguk. Tak bisa mengabaikan permintaan sang papa.
Kepergian Zahra tak hanya membuat Aidin merasa kehilangan, namun juga keluarga yang sangat merindukan wanita itu. Tutur sapa yang lembut seakan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka.
Angin malam berhembus sangat dingin. Darren masuk ke mobil setelah tak mendapatkan hasil apa-apa.
"Sekarang kita pulang, kasihan Fathan. Dia suka nangis kalau malam."
Tanpa berpikir panjang, Aidin menyalakan mesinnya, tak mau merepotkan pengasuh yang ada di rumah.
Hampir satu jam membelah jalanan yang lumayan sepi, Aidin menghentikan mobilnya di depan rumah Bu Lilian. Ia melangkah masuk ke rumah. Menghampiri kedua orang tuanya yang masih ada di ruangan tengah.
"Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang Zahra?"
Aidin menggeleng pelan. Wajahnya kusut menandakan jika pria itu kelelahan.
"Fathan di mana, Ma?" Menatap pintu kamar yang baru dibuat sehari yang lalu.
"Sudah tidur, tadi nangis sebentar. Kapan kamu tes DNA. Cepat selesaikan urusanmu dengan Amera dan anak itu. Kalau dia bukan cucuku, kamu bawa saja ke panti asuhan." Bu Lilian berbicara dengan nada ketus, tak suka dengan anak Amera yang diberikan padanya, sedangkan wanita itu memilih pergi entah kemana.
"Aku setuju pendapat mama. Kalau dia bukan anakmu, bawa ke panti asuhan, jangan sampai ini akan menimbulkan masalah baru untuk kamu dan juga Zahra nantinya."
__ADS_1
Terpaksa Aidin setuju pendapat mereka. Berulang kali Delia memintanya untuk bercerai, tetap saja itu tak bisa berlanjut saat kedua belah pihak tak ada yang mendukung.
"Tapi kalau itu anakku, aku akan tetap merawatnya." Meninggalkan mereka. Ada rasa iba melihat sosok mungil yang harus terabaikan.
Aidin membuka pintu kamar dengan pelan. Matanya langsung mengarah pada sosok bayi laki-laki yang terlelap di dalam box.
"Saya permisi, Tuan," pamit sang pengasuh saat melihat Aidin masuk.
Berjalan pelan menghampiri makhluk lemah yang tak berdosa. Tangannya mengulur, membelai pipi gembul bocah itu dengan lembut. Kemudian duduk di tepi ranjang. Mengambil foto Zahra yang sengaja di pajang di sana.
Air matanya lolos begitu saja membasahi pipi. Wajah yang selalu mengingatkannya tentang dosa. Membawa setiap langkahnya ke dalam kebaikan. Meninggalkan maksiat yang dulu menjadi kebiasaannya.
Kau di mana? Apa anak kita sudah lahir? Apa dia baik-baik saja. Maafkan aku, maafkan papa yang tidak bisa menemani Kalian.
Masih banyak pertanyaan yang terselip memenuhi ruang hatinya yang hampa. Mendekap foto itu lalu berbaring. Mengurai rasa lelah karena seharian beraktivitas.
"Ren, antarkan aku ke rumah Delia." Pak Herman beranjak dari duduknya. Selama ini ia berdiam diri, namun kali ini terhenyak ingin membantu putranya yang nampak putus asa.
"Tapi ini sudah terlalu malam, Pa. Tante Delia juga gak mungkin menerima tamu."
Darren mengangguk, meskipun ia sendiri tak yakin bisa bertemu dengan Delia, setidaknya berusaha menuruti permintaan pak Herman.
"Aku pamit Keysa dulu."
Darren ke kamar. Menghampiri sang istri yang sudah terlelap bersama putranya yang baru berumur enam bulan.
"Sayang, aku pergi dulu ya, mau anterin papa ke rumah tante Delia." Mengucap dengan pelan, takut wanita itu terkejut.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."
Mencium kening Keysa dan Shireen bergantian sebelum keluar dari kamar.
Tiga kali dalam sehari Darren berkunjung di rumah itu. Kondisinya tetap sama, hanya ada penjaga yang berada di gerbang dan tempat sekitarnya.
Pak Herman turun dari mobil. Menyeret kakinya hingga ke gerbang.
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengan nyonya Delia," ucap Pak Herman tanpa basa-basi.
"Nyonya Delia tidak mau menerima tamu, Tuan."
"Katakan saja ada pak Herman."
Mendengar nama yang tidak begitu asing membuat penjaga saling tatap. Kemudian membuka gerbang tanpa melaporkan pada sang majikan.
Pria itu mengantarkan pak Herman dan Darren masuk. Mempersilakan mereka duduk di ruang tamu lalu memanggil Delia.
Tak lama berselang, Delia keluar bersama dengan James dan duduk di depan sang besan.
"Ada apa Bapak ke sini?" tanya Delia ramah
Ia tahu pria di depannya itu adalah pahlawan bagi putrinya. Disaat semua orang membencinya, justru Zahra mendapat kasih sayang dari pria itu.
"Maaf, Bu. Aku hanya ingin memastikan kalau Zahra dan cucu ku baik-baik saja."
"Dari mana Bapak tahu kalau Zahra hamil?"
"Dari Aidin."
Jadi Aidin tahu kalau Zahra hamil.
Pak Herman menceritakan apa saja yang dilakukan Aidin semenjak kepergian Zahra. Sampai pada akhirnya tahu bahwa wanita itu mengandung. Dari pagi sampai pagi lagi hanya dia yang menjadi tujuan hidup putranya saat ini.
"Tapi Zahra tidak tinggal di sini, Pak. Sekarang dia sudah bahagia dengan hidup barunya. Ada laki-laki yang mau menerimanya dengan tulus. Mau menjadi ayah dari anaknya. Aku mohon jangan ganggu dia."
Demi apapun pak Herman kecewa dengan penuturan Delia. Tidak adakah kesempatan untuk Aidin bersanding dengan Zahra. Kenapa harus berpisah disaat putranya mati-matian berjuang menjadi lebih baik dan semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
"Kalau itu memang pilihan Zahra, kami dan sekeluarga hanya bisa mendukung, tapi berikan kesempatan mereka untuk bertemu, izinkan Aidin menggendong anaknya walau hanya sekali," pinta pak Herman dengan mata berkaca-kaca.
Dalam hati berat mengatakan itu, tapi apa daya semua itu kehendak yang menjalani.
Delia tersenyum tipis." Nanti akan aku bicarakan lagi dengan Zahra."
__ADS_1
Pak Herman pamit pulang, setidak nya ia sudah meluapkan uneg-uneg yang selama ini menyesakkan dada.