Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Salah paham


__ADS_3

Berubah dari rencana awal. Seharusnya hari ini Zahra dan Aidin pulang ke rumah, namun karena sakit yang tak kunjung sembuh membuat mereka mengurungkan niatnya. Membuka mbah google. Mencari tahu obat yang bisa menyembuhkan luka Zahra. 


Setelah menemukannya dari beberapa dokter ahli, Aidin berinisiatif untuk membelinya, takut luka itu akan semakin parah. 


"Sayang, aku pergi sebentar. Mau nitip apa?" tanya Aidn menghampiri Zahra dan Lela yang sibuk melipat baju Zea. 


Kali ini Zahra sudah berani keluar dari kamar dan bertemu dengan yang lain, meskipun jalannya lumayan pelan. 


"Mau ke mana?" tanya Zahra tanpa menatap. 


"Mau ke apotik. Beli obat." 


Mendengar itu membuat Zahra menggeleng. Pasalnya, apotik dan rumah berjarak cukup dekat dan tidak ada penjual apapun di sana. 


Sebelum melajukan mobil, Aidin kembali menghubungi Vellin lebih dulu, memastikan jika obat yang akan dibeli sudah benar. 


"Memangnya ada masalah dengan jalan lahir Zahra?" tanya Vellin yang ada di seberang sana. 


"Ada lecet sedikit, mungkin karena jahitannya yang kurang rapat." 


Vellin menjauhkan ponselnya dari telinga. Menatap betul-betul nama yang ada di layar. Benar, itu adalah nama Aidin, suaminya Zahra yang pernah ia tangani saat melahirkan. 


"Bukan jahitannya yang kurang rapat, Tuan. Tapi, mungkin ada benda tumpul yang menendangnya."


Sebagai seorang wanita dokter Vellin paham dengan apa yang dikatakan Aidin. 


Aidin terkekeh. Ia lebih leluasa berbicara dengan wanita itu daripada curhat dengan Richard yang belum tahu apa-apa tentang solusi masalahnya. 


"Apa obat yang aku maksud sudah tepat?" Tanpa rasa malu Aidin terus bertanya. Tak ingin terjadi sesuatu yang lebih fatal pada istrinya. 


"Gak usah diobati juga akan sembuh sendiri, lain kali jangan rakus, ingat seorang perempuan tak hanya untuk tempat pelampiasan." 


Menutup teleponnya karena ada pasien yang datang. 


Hanya butuh waktu lima belas menit Aidin sudah tiba di depan apotik. Ternyata tempat itu sangat ramai membuatnya enggan turun. Ia memilih berada di dalam mobil sambil melihat setiap orang yang keluar masuk. Menunggu tempat itu sedikit sepi. 


Mengambil masker dari dashboard dan memakai nya. Tak lupa memasang kacamata hitam supaya tidak ada yang mengenalnya. 


Mengacak rambutnya untuk menutupi kening nya. 


Kini ia benar-benar seperti orang lain, bukan Aidin Adijaya. 


"Kayaknya udah sepi." 


Turun dari mobil dan berjalan lenggang tanpa menoleh sedikitpun. Berdiri di depan pelayan. 


"Mau cari apa, Tuan?" tanya pelayan dengan ramah. 


Aidin menyebut nama obat dengan dengan suara pelan. Takut orang mendengar dan mengetahui obat apa yang ia beli. Pasti akan menjadi bahan lelucon. 

__ADS_1


Wanita itu tersenyum kemudian mengambil obat yang diminta Aidin. Memberi tahu cara pakai yang benar sesuai petunjuk dokter. 


"Karena kalau kebanyakan bisa menimbulkan iritasi," imbuhnya seraya mengambil uang kembaliannya. 


"Baik, terima kasih," ucap Aidin malu. Untung saja wanita di depannya itu tidak mengenalnya hingga ia sedikit lega. 


Baru saja memutar badan, seorang wanita terhuyung dan memeluknya dari depan. 


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap wanita itu dengan penuh penyesalan. 


"Gak papa," jawab Aidin mengambil kantong kresek yang jatuh. Setelah itu pergi dari tempat itu. 


Aidin langsung pulang. Mengingat luka Zahra yang harus segera diobati membuatnya tak tenang berada di luaran lama-lama. 


Ruangan tengah masih sangat ramai. Hanya ayah mertuanya yang tak nampak di rumah itu. 


Aidin melambaikan tangannya ke arah  mbak Lela yang  ada di ruang makan. 


"Panggilkan ibu, suruh ke kamar." 


Mbak Lela langsung menghampiri Zahra daan mengatakan perintah sang Tuan. 


Tanpa menunggu waktu lagi, Zahra segera memenuhi panggilan suaminya. 


"Ada apa, Mas?" Menghampiri Aidin yang duduk di tepi ranjang. 


"Obati lukanya, takut infeksi." Memberikan salep yang baru dibeli. 


Seketika itu juga salep yang ada di tangannya terjatuh. 


Sekujur tubuhnya lemas dengan mata berkaca-kaca. Dadanya meletup-letup di penuhi dengan bara api, yang sedikit saja tersulut akan berkobar. 


Siapa lagi perempuan simpanan mas Aidin, kenapa dia mengingkari janjinya? 


"Kamu kenapa, Sayang?" Aidin memungut salep dan berdiri. Menatap bola mata Zahra yang mulai digenangi cairan bening. 


Hampir saja tangannya menyentuh pipi wanita itu, Zahra menepisnya dengan kasar hingga membuat Aidin terkejut bukan kepalang. 


"Ada apa?" tanya Aidin antusias. 


Zahra tak bicara, tapi terlihat dengan jelas wanita itu memendam sesuatu. Air mata yang tumpah itu menunjukkan betapa kacaunya wanita yang ada di depannya. 


"Kenapa kamu membohongiku lagi, Mas?" Tangis Zahra akhirnya pecah. Ingatannya kembali ke masa lalu, dimana ia juga melihat tanda itu hampir di setiap baju Aidin. 


"Membohongi apa?" Aidin masih tak mengerti dengan ucapan Zahra yang seolah-olah menuduhnya. 


"Jangan pura-pura gak tahu, apa ini?" Menunjuk lipstik yang berbentuk bibir di kemeja Sang suami. 


Aidin menundukkan kepala mengikuti jari Zahra menyentuh. 

__ADS_1


Alisnya berkerut dengan bibir membisu, mengingat-ingat kejadian saat ia berada di apotik. 


Apa mungkin ini bibir perempuan tadi?


Selain bertabrakan dengan wanita di depan apotik, Aidin tak berdekatan dengan siapapun. Ia yakin itu adalah bekas bibir wanita tadi. 


"Tadi ada perempuan yang hampir jatuh, Sayang. Mungkin saja ini bekas bibir dia." 


"Jangan bohong, Mas? Aku gak mau tersakiti lagi, apa ketulusanku selama ini belum cukup membuatmu berubah. Jika kamu memang tidak mencintaiku kenapa memintaku untuk kembali?" Suara Zahra semakin lirih dan itu mampu membuat Aidin tersayat. 


Wanita itu ambruk diikuti Aidin yang duduk di depannya. Kini ia mengerti, sebaik apapun, kesalahan di masa lalu tetaplah akan menjadi noda permanen dan membuat orang lain meragukan kesungguhannya. 


"Aku tidak berbohong, Sayang. Ini hanya salah paham." Aidin merengkuh tubuh Zahra yang bergetar karena tangis. 


"Lepaskan!" pinta Zahra mencengkal tangan kekar Aidin, namun tenaganya yang lebih kecil tak mampu untuk melawan pria itu. 


"Aku tidak akan melepaskanmu, aku akan menjelaskan semuanya." Mencium pucuk kepala Zahra dengan lembut. Sedikitpun tak memberi celah untuk Zahra yang mencoba lepas dari pelukannya. 


Keduanya membisu, Aidin belum berbicara apapun dan menunggu hati Zahra tenang. 


Hingga beberapa menit  terdengar suara sisa isakan dari Zahra yang ada di depan Aidin. 


"Istirahat dulu, nanti aku akan menceritakan semuanya." 


"Sekarang," sentak Zahra tersendat. 


Dalam hati masih tak percaya dengan elakan Aidin. 


Karena memaksa, Aidin menceritakan apa yang terjadi di apotek. Bahkan berani bersumpah di depan Zahra bahwa ia tak memiliki wanita manapun selain dirinya. 


"Besok aku akan bawa cctv yang ada di apotik, dan kamu bisa melihat kejadiannya sendiri."


Tanpa sengaja Sesi bisa mendengar perdebatan sengit antara Aidin dan Zahra. Ia yang ada di luar hanya bisa menatap pintu kamar yang sedikit terbuka. tak ingin ikut campur dengan urusan mereka yang mungkin bersifat sensitif. 


Untuk akun di bawah ini silahkan DM aku ya, kalian berhak mendapatkan pulsa








Bagi Kalian yang belum beruntung silahkan baca novel di bawah ini, akan ada bagi-bagi pulsa untuk Kalian lagi, terima kasih sudah setia.

__ADS_1


Yang belum follow silahkan, supaya mendapat info novel selanjutnya.



__ADS_2