Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Cemburu


__ADS_3

Ada rasa nyeri di Ulu hati saat Zahra melihat lipstik yang tertinggal di sudut bibir Aidin. Seolah-olah pria itu sengaja mencabik-cabik organ tubuhnya hingga terasa memar. Butuh kekuatan supranatural untuk bisa melewati perjuangan yang ia lakukan saat ini, termasuk melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain.


"Tadi itu mobil siapa, Mas?" Meraih tisu lalu mengusap bibir Aidin dengan lembut. Sedikitpun tak menunjukkan kemarahan yang sebenarnya sudah memenuhi dadanya. 


"Bukan siapa-siapa," jawab Aidin malas lalu melajukan mobilnya.


Tak seperti saat di kantor yang terus mengomel, Zahra cenderung diam dengan tangan yang memegang perut. Aidin yang melihat sikap aneh itu pun bertanya. 


"Kamu kenapa? Capek ceramahin aku," sindirnya sambil nyengir. Merasa puas karena Zahra nampak menyerah. 


Zahra tersenyum paksa sambil menggeleng. "Perutku sakit, mungkin maag ku kambuh," jawabnya asal. 


Setelah sekian lama menahan air mata yang menumpuk di pelupuk, akhirnya cairan laknat itu luruh. Zahra mengalihkan pandangannya ke arah luar demi menutupi rasa sedihnya. Memalukan jika dirinya harus kalah dari seorang wanita murahan yang seharusnya tak berharga sama sekali. 


"Mas, kita berhenti di supermarket aku mau beli cemilan," pinta Zahra mencairkan suasana. 


Aidin langsung membelokkan mobilnya ke arah pusat perbelanjaan tanpa protes. 


"Cepetan, aku tunggu di sini!" ucap Aidin ketus. 


"Kamu gak mau nemenin aku?" Zahra kembali menggoda dengan mengedipkan mata. 


"Jangan manja, kamu bisa sendiri, kan?" Aidin memilih menyalakan musik daripada ikut turun. 


Terpaksa Zahra turun sendirian. Untuk saat ini ia tidak ingin merayu berlebihan, hatinya masih terlalu sakit mengingat apa yang dilakukan Aidin tadi. 


Zahra langsung menuju tempat camilan. Memilih beberapa makanan ringan dan meletakkannya di troli. Kembali mendongakkan kepalanya saat melihat jajanan kesukaannya berada di tempat paling atas. 


"Tinggi banget," keluhnya sambil menjinjit, Namun tetap saja tak bisa menjangkau keripik itu. Matanya menoleh ke kanan kiri, ternyata tidak ada pelayan yang melintas, dan itu harus membuatnya menunggu. 


"Mau yang ini?" Suara berat menyapa dari arah belakang. 


"Iya," jawab Zahra sembari menoleh ke belakang. Menatap seseorang yang tak asing di matanya. 


"Mas Iqbal, kamu di sini juga?"


Pria itu tersenyum tipis. "Iya, maklum belum punya istri, jadi butuh apa-apa harus beli sendiri, beda dengan Aidin."


Mas Aidin pun memilih dibelikan oleh selingkuhannya daripada istrinya sendiri. 

__ADS_1


Mendengar nama itu membuat senyum Zahra redup seketika. Untuk saat ini ia enggan membahas Aidin yang sedikit pun belum membuka hati untuknya. 


"Di mana dia?" tanya Iqbal yang dari tadi melihat Zahra hanya sendirian. 


"Di mobil." 


Zahra mendorong troli nya dan kembali memilih sesuatu yang akan dibeli. 


"Aku bantu." Iqbal meraih troli milik Zahra dan membantu mendorongnya. Sebenarnya Zahra tak enak hati berjalan  dengan pria lain, namun saat ini ia benar-benar butuh bantuan Iqbal untuk membawa belanjaannya. 


"Kayaknya ini sudah terlalu banyak." Zahra memeriksa snak yang sudah memenuhi troli. Meskipun ada beberapa yang belum dibeli, Zahra menyudahi belanjanya. Takut khilaf dan menghabiskan banyak uang. 


"Kalau kurang bilang saja, biar aku yang bawain," tawar Iqbal yang terlalu baik. 


"Gak usah, besok aku bisa beli lagi." 


Zahra langsung berjalan ke arah kasir. Sedang, Iqbal mengikutinya dari belakang. 


Hampir tiga puluh menit Aidin menunggu, belum ada tanda-tanda Zahra keluar. Akhirnya ia keluar dan berdiri di sisi mobil. 


"Apa saja sih yang dibeli, lama banget." Melihat lagi jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. 


Akhirnya yang ditunggu sudah menampakkan batang hidungnya. Zahra  dan seorang pria itu saling melempar senyum saat mereka melewati pintu utama.


Tak dapat dipungkiri, jika dada Aidin saat ini merasa terpukul melihat keakraban mereka berdua. 


"Terima kasih ya, Mas. Lain kali aku boleh minta tolong lagi, kan?" Zahra sengaja mengucapkannya dengan suara tinggi sembari melirik Aidin yang nampak datar. 


"Kapanpun kamu minta bantuan, aku siap," jawab Iqbal dengan santainya, seperti menyulut bara api yang sudah siap menyala. 


Aidin membuka bagasi dan berebut belanjaan Zahra dengan aksar. Sedikitpun tak ingin menyapa sang sahabat. Kemudian, menarik tangan Zahra dengan kasar lalu membuka pintu mobil bagian depan. 


"Kamu langsung mau pulang, Din?"


Aidin tak menjawab, ia memilih masuk ke mobil tanpa mengindahkan pertanyaan Iqbal. 


"Aku pulang dulu ya, Mas. Da…." 


Zahra yang sudah duduk melambaikan tangannya ke arah Iqbal yang masih mematung di dekat mobil Aidin. Begitu juga dengan pria itu yang membalas lambaian tangan Zahra hingga mobil yang ditumpangi wanita itu menghilang. 

__ADS_1


Sepertinya ada yang cemburu. 


Zahra cengengesan melihat perubahan wajah Aidin. 


"Sejak kapan kamu akrab dengan Iqbal?" tanya Aidin ketus. 


"Sejak tadi. Ternyata dia itu laki-laki yang baik dan suka menolong. Ngertiin perempuan yang kesusahan, seandainya __" 


Zahra menghentikan ucapannya. Ia terus mengucap istighfar dalam hati. Meskipun maksudnya hanya ingin membuat Aidin cemburu, tetap saja itu perbuatan yang tidak baik bagi seorang wanita muslimah. 


"Seandainya suami kamu seperti dia?" lanjut Aidin menebak lanjutan ucapan Zahra. "Tenang saja, nanti kalau sudah waktunya, pasti aku akan melepasmu," imbuhnya. 


Ternyata mas Aidin tetap ingin berpisah dengan ku. Jika tahu aku hamil, apa dia akan tetap menceraikan aku. Tapi gak papa, asalkan dia bahagia, aku akan mencoba ikhlas melepasnya. 


Zahra mengusir kegelisahan yang mengendap. Otaknya langsung traveling, mencari cara supaya bisa melupakan kesedihannya. Setidaknya ia terlihat bahagia di akhir kebersamaannya dengan pria itu. 


"Mas, aku mau mampir ke toko itu juga." Menunjuk toko baju yang ada di ujung jalan. 


"Memangnya kamu masih punya uang?" tanya Aidin mengingatkan. 


Zahra menggeleng tanpa suara. Membuka dompet di depan Aidin. Ternyata hanya tinggal beberapa lembar uang pecahan lima ribu.


"Bayarin ya, sekali saja, pliiiissss."


Zahra menangkupkan kedua tangannya dan memelas. 


Aidin mengeluarkan kartu yang ada di saku celana dan memberikannya pada Zahra.


Kali ini Aidin ikut turun dan menemani  Zahra saat memasuki toko. Ia terus mengikuti langkah wanita itu hingga ke sudut ruangan. 


"Kamu beli baju apa sih?" tanya Aidin penasaran. 


Zahra hanya cengar-cengir. Kedua tanganya sembunyi di belakang hingga membuat Aidin curiga. 


"Nanti kamu juga tahu, pokoknya mas tenang saja, aku akan membeli baju yang mas sukai."


Memangnya dia tahu baju yang aku sukai?


Ia memilih duduk daripada pusing memikirkan Zahra yang penuh dengan teka-teki.

__ADS_1


Zahra menghampiri salah satu pelayan yang ada di toko itu. Menanyakan harga baju yang ingin ia beli. Tanpa sengaja, ada seorang wanita juga membeli baju yang sama.


Amera! pekik Zahra dalam hati.


__ADS_2