Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Seperti mimpi


__ADS_3

Seperti biasa,  Zahra menyetel kajian subuh dan meletakkan ponselnya di meja sisi ranjang. Itu cara dia membangunkan Aidin, juga ingin menyadarkannya sebelum pergi untuk selama-lamanya. 


Tak berselang lama, Aidin membuka mata dengan pelan. Namun, ia enggan untuk turun dari atas pembaringan. Matanya terus mengamati setiap pergerakan Zahra yang sibuk merapikan baju di dalam lemari. Mematikan ponselnya yang menurutnya sangat berisik kemudian duduk bersandar di headboard. 


Masa sih, Zahra pake lingerie? 


Antara percaya dan tidak dengan apa yang ia lihat semalam, seakan seperti sebuah mimpi, namun juga terasa nyata. Akan tetapi mustahil bagi Zahra memakainya. 


Zahra yang merasa diperhatikan memilih untuk pura-pura tidak tahu dan melanjutkan aktivitasnya. Berulang kali untuk tidak besar kepala dengan sikap Aidin. Takut terjatuh dan tak bisa bangun lagi.


"Hari ini aku ada janji dengan Kirana, Mas. Mungkin akan pulang sore," ujar Zahra tanpa menoleh. Sengaja menghindari tatapan Aidin, takut terpesona dan kembali berharap dengan sesuatu yang hanya sia-sia. 


"Yang penting kamu sudah ada saat aku pulang." 


Suara Aidin terdengar berat namun lembut. Ia menyibak selimut lalu turun. Menghampiri Zahra yang dari tadi menyibukkan diri. 


Tanpa meminta izin, ia memutar tubuh Zahra hingga keduanya saling tatap. 


"Ada apa, Mas?" tanya Zahra lugas. Mengusir rasa gugup yang sebenarnya sudah memenuhi dadanya. Jarak yang begitu dekat membuatnya sesak nafas hingga berulang kali harus mensuplai oksigen supaya kembali normal.


"Apa semalam kamu pakai lingerie?"


Deg 


Jantung Zahra berdegup kencang. Wajahnya merona saat Aidin terus menatap nya dengan tatapan selidik. 


Wanita itu lantas tersenyum getir. "Tidak,  dari semalam aku piyama ini." Menjewer baju yang saat ini masih membalut tubuhnya. 


"Memangnya kenapa?" tanya Zahra lagi. 


Aidin mengulurkan tangannya. Membuka hijab yang menutupi kepala Zahra lalu melemparnya ke arah meja. 


Ditatapnya wajah cantik alami itu. Kedua matanya terpancar sebuah cahaya yang menyejukkan.


Ternyata Zahra sangat cantik kalau seperti ini,  puji Aidin dalam hati. 


"Gak papa, mungkin aku hanya mimpi." 


Iya, Mas. Apapun yang berhubungan dengan ku pasti kamu anggap mimpi. Karena aku hanya bayangan bagimu,  dan tidak mungkin nyata. 


Drt Drt Drt 


Bunyi ponsel dari arah nakas membuyarkan mereka. 

__ADS_1


Aidin segera mengambil benda pipihnya,  takut ada yang penting, dan ternyata itu adalah telepon dari sang sekretaris. 


"Ada apa, Chard?" tanya Aidin sembari duduk di tepi ranjang. 


Zahra menyiapkan baju kantor Aidin lalu merapikan selimut yang berantakan. Sedikitpun tak ada rasa penasaran dengan siapapun yang berhubungan dengan pria itu, sekalipun dengan Amera.


"Ada tawaran dari beberapa perusahaan, Tuan. Mereka akan bergabung dengan perusahaan kita."


Aidin tersenyum senang. Ternyata promosi yang dilakukan lewat sosmed membuahkan hasil, bahkan semenjak mengganti pak Herman, ia sudah mendapatkan job yang melebihi target. 


"Pokoknya kamu atur semuanya, aku akan segera ke kantor."


Aidin kembali menghampiri Zahra. "Kamu dengar sendiri kan, banyak perusahaan yang mau bekerja sama denganku,  itu artinya aku sudah mulai berhasil."


Zahra tersenyum sembari mengangkat tangannya. 


"Selamat ya,  semoga kamu semakin sukses dan dikenal baik oleh semua orang."


Reflek, Aidin meraih tubuh ramping Zahra dan mendekapnya. 


"Aku gak nyangka, ternyata memimpin perusahaan tak sesulit yang aku bayangkan." Melepaskan pelukannya dan bergegas ke kamar mandi.


Sayangnya bukan aku orang yang akan menyaksikan kesuksesan kamu, Mas. Tapi orang lain. Tapi gak papa, asalkan kamu bahagia, aku akan terus mendukungmu. Cinta tak harus memiliki, begitulah denganku tang tak bisa menggapai cinta mu.


Ceklek 


Pintu kamar terbuka. Zahra segera menyimpan susu nya di lemari dapur lalu duduk di ruang makan. Alih-alih tidak terjadi apa-apa. 


"Hari ini aku hanya membuat nasi goreng, kalau kamu gak mau sarapan, nanti aku antar ke kantor."


Aidin duduk. Menyeruput kopi nya yang mulai menghangat. 


"Gak papa, lagi pula nanti aku ada acara makan siang dengan klien,  jadi kamu gak usah repot-repot ke kantor."


Zahra mengangguk mengerti, ia pun tahu pasti Aidin menolak tawarannya, dan itu sengaja diucapkan hanya sekedar bualan belaka. 


Ting tung 


Suara bel rumah berbunyi. 


Zahra beranjak dari duduknya meninggalkan Aidin yang mulai menikmati hidangannya. 


Ternyata orang yang datang adalah Kirana. 

__ADS_1


"Masuk dulu, Ki. Aku belum ganti baju." 


Zahra merasa tak enak karena harus menyuruh Kirana menunggu. 


"Aku tunggu di luar saja." Kirana memilih duduk di teras depan sembari menghirup angin pagi yang menenangkan. 


Tak butuh waktu lama,  Zahra hanya mengganti baju dan memakai make up tipis. Pagi ini ia nampak cantik dengan tampilan baju gamis longgar berwarna biru tua, namun tetap terlihat modis dan anggun.


"Aku berangkat dulu ya, Mas," pamit Zahra pada Aidin yang masih duduk di ruang makan. Meskipun tekadnya sudah bulat ingin pergi,  Zahra tak mau memutus tali silaturahmi dengan pria itu. Seseorang yang pernah hadir di sisinya hampir satu tahun. 


Aidin hanya mengangguk tanpa suara. Kali ini hatinya sedikit terasa berat saat menatap punggung sang istri yang mulai menjauh.


"Kita ke mana dulu, Ki?" tanya Zahra merapikan penampilannya.


"Ke mall saja,  melihat-lihat sambil cuci  mata, cari oppa-oppa."


Zahra tertawa lepas. Seolah-olah tidak punya beban hidup. 


"Itu namanya bukan cuci mata, tapi nambah dosa," cetusnya. Hingga membuat mereka tertawa keras. 


Aidin pun ikut keluar setelah mendengar suara motor berlalu. 


Baru saja masuk ke mobil, ponsel yang ada di saku jas nya berdering. Terpaksa Aidin merogoh dan mengangkat sebelum melajukan mobilnya. 


"Sayang, hari ini temani aku belanja," sapa seseorang dengan suara khas nya. 


"Iya, nanti jam makan siang aku akan jemput kamu."


"Baiklah, aku tunggu."


Dibalik kesuksesan suami, ada istri yang selalu menengadahkan tangan di depan sang Pencipta. Maka, janganlah sombong jika Allah memberimu banyak harta. Karena sesungguhnya harta uany berharga bukan lah berupa uang atau kekayaan, tapi istri yang solehah. Jadi pertahankan dia sebelum dia sendiri yang mengatakan lelah dan tidak sanggup.


Kajian yang sukses menggetarkan jiwa dan raga Aidin itu seolah-olah terus terngiang-ngiang di telinganya.


''Seharusnya aku memperlakukan Zahra lebih baik lagi. Dia dibuang oleh ayahnya, tapi di rumah ini harus menerima perlakuan yang sangat buruk.''


Setibanya di ujung jalan, Kirana menghentikan motornya saat ada sebuah mobil mewah berhenti mendadak di depan motornya.


"Mobil siapa, Ki?" tanya Zahra cemas, takut itu mobil perampok yang sengaja menghadangnya.


Nampak pria tampan yang memakai jas hitam pekat turun dari mobil itu.


Wajahnya yang tak asing membuat Zahra mengernyit.

__ADS_1


"Iqbal...." Zahra memekik sembari melihat Kirana yang hanya bisa mengangkat bahu.


__ADS_2