
Tiga bulan Delia berjuang bersama dengan James. Akhirnya ia mendapatkan titik terang tentang orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Memporakporandakan keluarganya hingga luluh lantah. James menangkap orang itu hidup-hidup seperti keinginannya. Selama itu pula ia mulai mengenal sosok Delia lebih dekat.
Ternyata orang yang sudah menusuknya dari belakang adalah sahabat Delia sendiri. Siapa yang mau disalahkan jika seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur. Rumah tangganya tak bisa diselamatkan lagi. Kini ia harus menjalani kehidupan baru. Bersama orang baru dan status baru.
Plaakk
Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi seorang wanita yang duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat.
Delia meluapkan amarahnya yang semakin memuncak. Baginya, tidak ada kata ampun bagi orang yang sudah mengusik hidupnya. Tak ada rasa kasihan, siapapun itu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.
James pun mendukung. Sebab, saat ini yang ia inginkan hanya melihat Delia bahagia. Berawal dari keisengan ingin menggoda, kini wanita itu mulai mengetuk pintu hatinya yang sudah lama tertutup.
"Aku rasa ini tak seberapa dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan padaku," ucap Delia lirih. Mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu.
Bertukar pandangan dengan tatapan yang sama. Yaitu saling membenci.
"Sekarang katakan! Kenapa kamu melakukan itu?" Menggoyang-goyangkan lengan wanita yang ada di depannya.
"Karena aku sangat membencimu. Aku membencimu karena __"
Delia menghentikan ucapan wanita itu dengan sebuah tamparan. Alasan apapun sudah tak berarti lagi. Baginya semua sudah jelas dan tak perlu mencurigai siapapun.
"Buang dia, karena aku gak mau bertemu dengan dia lagi." Delia menghampiri James yang dari tadi mematung di ambang pintu.
Beberapa pengawal membuka ikatan tangan dan kaki wanita itu, lalu membawanya pergi seperti perintah Delia.
"Terima kasih." Hanya kata itu yang meluncur dari bibir Delia.
James mengangguk. Mengusap air mata yang membasahi pipi sang kekasih.
"Aku ingin bertemu dengan anakku," pinta Delia memohon.
Tiga bulan berpisah membuatnya rindu setengah mati. Dan ia ingin segera memeluk putri kecilnya yang pernah diabaikan.
James langsung mengantarkan Delia tanpa banyak tanya.
"Apa kamu sudah puas balas dendam padanya?" James mulai melajukan mobilnya menuju ke alamat rumah Adinata.
"Sudah, aku sangat puas. Akhirnya aku bisa menemukan orang yang sudah menghianatiku," jelasnya.
Tak pernah menyangka jika dalang dibalik kejadian itu adalah orang terdekatnya sendiri.
__ADS_1
Delia tak lagi dibayang-bayangi rasa penasaran dan siap menjalani hidup baru. Meski harus kehilangan keluarganya, berharap akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.
"Sebenarnya aku juga sudah punya anak," ungkap James yang mulai terbuka.
Ternyata ia bukan pria perjaka seperti anggapan Delia, akan tetapi duda yang sudah memiliki anak.
"Lalu anak kamu di mana?" tanya Delia penasaran. Pasalnya, selama ini ia tak pernah melihat James membawa anak kecil."
"Dia ikut oma nya."
Delia manggut-manggut mengerti. Melirik ke arah James yang sibuk dengan setirnya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil James berhenti di depan rumah Adinata. Rumah yang memiliki banyak kenangan antara Delia dan mantan suaminya. Hadirnya Zahra sebagai bukti cinta mereka, namun harus terpisah karena sebuah kesalahpahaman yang berlarut.
Delia tak menyesali perpisahan yang sudah terjadi, karena seburuk apapun ia tetap percaya bahwa jodoh ada di tangan Allah.
"Aku masuk dulu. Kamu tunggu di sini gak papa, 'kan?"
"Aku ikut," sergah James yang juga membuka pintu.
Delia sedikit cemas. Masih teringat jelas saat Adinata mengusirnya secara tidak hormat. Bahkan sedikitpun tak memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Semoga mas Adinata mau mengerti. Memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
"Nyonya…" sapa wanita paruh baya itu dengan ramah. Memeluk Delia yang nampak baik-baik saja.
Delia tersenyum tipis, matanya mengelilingi ruangan yang nampak sepi.
"Di mana mas Adinata, Bi?" tanya Delia ke inti.
Bibi mengendurkan pelukannya.
"Tuan pergi dengan Nona kecil. Sudah hampir satu minggu mereka tidak menempati rumah ini."
Delia membulatkan matanya. Ada rasa takut yang kembali menyelimuti.
Ke mana mas Adinata membawa Zahra pergi. Tidak mungkin dia menjual anaknya sendiri, 'kan?
Membalikkan badan, menatap James yang ada dibelakangnya.
"Aku akan membantumu mencarinya." Tanpa di kode, ia sudah tahu apa yang diharapkan Delia.
__ADS_1
James merogoh ponsel dari saku celananya lalu menghubungi seseorang. Memerintahkan untuk mencari mantan suami Delia.
"Apa mas Adinata menitipkan sesuatu, Bi?"
Bibi menggeleng tanpa suara.
Delia masuk ke rumah itu, tempat yang ia tuju adalah kamar Zahra. Matanya berkaca-kaca. Suara tangis itu seakan masih menggema memenuhi telinganya.
Kakinya melangkah pelan mendekati lemari. Ia mengambil beberapa baju dan memeluknya.
"Maafkan mama, Nak. Maafkan mama."
Menumpahkan air matanya lagi. Harapannya ingin bertemu putrinya kini pupus sudah, bahkan seolah Adinata sengaja membawa Zahra pergi supaya tidak bertemu dengannya lagi.
Delia membawa beberapa baju milik Zahra lalu keluar menghampiri James.
Tak ingin larut dalam kesedihan yang mendalam, sudah cukup kehilangan suami dan anaknya, kini Delia tak ingin kehilangan James, orang yang sudah berjuang untuknya.
"Tenang saja, kamu pasti akan bertemu dengan Adinata dan anakmu." James mengusap bahu Delia, menenangkan.
Sejak kepergian Adinata, Delia lebih banyak diam, ia hanya akan menjawab jika ditanya, selebihnya memilih menjadi pendengar setia.
Disaat itu pula James mengenalkan Delia pada kedua orang tuanya. Bukan lagi sebagai kekasih, melainkan calon istrinya.
Kaget bukan main, Delia yang belum ingin membina rumah tangga terkejut saat James melamarnya.
"Tapi aku belum ingin menikah, Mas?" Delia mengucap dengan ragu, takut James tersinggung, sedangkan ia banyak berhutang budi pada pria itu.
"Calon istri bukan berarti kita akan segera menikah, itu hanya sebagai simbol bahwa kamu milikku, dan tidak ada laki-laki lain yang boleh mendekatimu," terang James panjang lebar.
Delia mengangguk, setidaknya James memberinya waktu untuk berpikir dan memantapkan hatinya.
"Hanif, kenalkan ini calon mama."
James melambaikan tangannya ke arah bocah kecil yang baru saja keluar dari kamar.
Tak sulit bagi Delia untuk menaklukkan bocah itu. Sebagai seorang ibu ia banyak ide untuk membuat Hanif nyaman saat bersamanya. Meskipun bukan anak kandung, Delia tak membedakan, apalagi kehadiran Hanif menjadi obat karena sudah kehilangan Zahra.
"Main sama mana, yuk!" Pikiran Delia sedikit terpecah, bayangan Zahra kembali melintas saat Hanif tertawa. Berandai-andai bisa memeluk putrinya lagi dan merawatnya hingga dewasa.
Dimanapun kamu berada mama akan tetap menyangimu. Sampai kapanpun kamu adalah putri mama.
__ADS_1
Delia hanya bisa membendung kesedihan dan berharap akan terkikis oleh waktu yang terus berjalan.