Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Pak Herman pulang


__ADS_3

Bahagia dirasakan pak Herman. Setelah sekian lama dirawat, akhirnya pria itu bisa menghirup udara segar. Berkumpul dengan keluarganya adalah momen yang paling ia rindukan. Menimang kedua cucu cantiknya adalah impian yang sejak lama terpendam, dan kini semua itu akan terwujud. 


Darren dan Aidin sendiri yang menjemput kedua orang tuanya ke rumah sakit. Mereka terlihat akur saat berada di ruangan sang papa yang sudah siap untuk pulang. 


"Mama yakin tidak ada yang ketinggalan?" Aidin memeriksa koper yang sudah rapi di depan pintu. Darren membantu pak Herman duduk di kursi roda. 


"Yakin, lagi pula kemarin baju mama dan papa sudah dibawa ke laundry, hanya tinggal beberapa saja."


Selamat tinggal rumah sakit. 


Sekujur tubuh pak Herman terasa sejuk. Berharap tidak akan menjadi penghuni tempat seperti itu lagi. 


"Terima kasih, Dok." Aidin memeluk dokter Gilbert, pria tampan yang menjadi pahlawannya. 


"Semoga Allah memberi kesehatan dan melancarkan rezeki, Dokter."


"Aamiin."


Tak hanya pada dokter Gilbert, Aidin juga berterima kasih pada dokter Vellin. Dokter yang sudah membantu Zahra melahirkan dan membantunya bisa masuk dan menemani sang istri berjuang. 


Mereka yang terhebat. Tanpa orang-orang baik, Aidin tidak mungkin bisa melihat putrinya lahir ke dunia secara langsung. 


"Jangan lupa main ke sini."


"Insya Allah, doakan saja aku dan istriku bisa berkunjung dan silaturahmi ke rumah, Dokter." 


Aidin menangkup kedua tangannya di depan Dokter Vellin. Ucapan terima kasih saja tak cukup dibandingkan dengan perjuangan mereka. 


Tidak ada pembahasan yang membuat pak Herman tertawa selain tingkah lucu Shireen dan juga Zea. Meskipun umur bayi itu baru hitungan hari, tapi sangat menggemaskan,  bahkan Aidin selalu memotretnya saat wajah imutnya terlihat kesal dan ingin menangis. 


"Aku sudah gak sabar ingin menggendong mereka berdua." 


"Memangnya Papa sudah kuat?" 


Pak Herman mengangkat tangannya. Membanggakan dirinya, padahal sangat lemah dan butuh istirahat yang ekstra. 


Tin Tin 

__ADS_1


Suara klakson membuat Keysa dan Zahra yang sibuk memilih baju itu meletakkan ponsel masing-masing. Berjalan ke arah pintu depan yang sudah terbuka lebar. 


Seperti dugaannya, yang datang adalah sang mertua. Aidin yang turun lebih dulu berlari kecil menghampiri Zahra, sedangkan Darren dan beberapa pelayan membantu pak Herman, menurunkan semua barang bawaannya masuk. 


Kedatangan pak Herman membawa warna tersendiri. Kini Zahra bisa merasakan keluarga yang lengkap. Meskipun Adinata belum mengakuinya secara langsung, dari kado yang diberikan, ia merasa bahwa pria itu menyayanginya.


"Zea gak nangis, kan?" tanya Aidin khawatir, takut Zahra kesusahan saat dirinya pergi. Apalagi di rumah sakit hampir dua jam lamanya karena menunggu dokter Gilbert yang sedang menangani pasien. 


Zahra menggeleng diiringi dengan senyum manis. Matanya tak teralihkan dari pak Herman yang juga mengulas senyum ke arahnya dan Keysa. 


"Papa, apa kabar?" Keysa berhamburan memeluk sang mertua. Disusul Zahra dengan posisi berdiri. Kemudian memeluk Bu Lilian. 


"Baik, berkat doa kalian semua papa bisa melewati ini semua."


Mungkin bisa dikatakan menantu kesayangan. Pak Herman mengusap punggung tangan Zahra dengan lembut, tak lama kemudian meraih tangan Keysa karena tak ingin wanita itu merasa iri. 


"Papa berterima kasih pada kalian yang mau menuntun anak-anak papa ke jalan yang lebih baik lagi. Tanpa kalian mereka tidak akan bisa apa-apa. Terlebih kamu, Za. Kamu sudah terlalu sabar menghadapi sikap Aidin. Mau menerima dia apa adanya. Terima kasih anakku." 


Kembali memeluk Zahra. Menumpahkan air matanya di pundak wanita itu. Sebagai seorang ayah, pak Herman sempat kacau saat mengetahui kelakuan anaknya, dan disaat itu hanya butuh hidayah dari Allah dan kebesaran hati sang menantu. 


Setiap momen yang bersangkutan dengan Zahra pasti membuat Aidin terenyuh dan membisu. Ia tak mengerti dengan pemikiran wanita itu hingga mau bersanding dengannya lagi yang sudah bernoda hitam pekat. 


Bu Lilian merasa saat ini keluarganya lengkap dan berharap tidak ada lagi masalah-masalah yang menerpa putra bungsu nya. 


"Zea Almaira Adijaya." Pak Herman dan bu Lilian naik ke atas ranjang. Mereka duduk di sisi kiri dan kanan bayi mungil yang terlelap itu. 


"Cantik ya, Pa." Membelai lembut pipi gembul sang cucu yang sedikitpun tak terusik dengan kehadirannya. 


"Iya, seperti mamanya." 


"Mama mama..."


Lagi-lagi suara itu mencairkan suasana yang sedikit hening. 


Ssstttt… 


"Dedeknya tidur, Nak. Jangan ramai."

__ADS_1


Keysa mendaratkan jari di bibir, diikuti bayi yang berumur hampir sepuluh bulan itu. 


Sedangkan Aidin, ia bergegas berdiri di samping Zahra untuk menghindarinya. 


Namun, mata tajam si kecil mampu menangkap sosok yang ia gandrungi. Tangannya menarik hijab Zahra hingga membuat sang empu memekik.


Aidin yang terkejut langsung menoleh, membantu melepas cengkraman tangan mungil itu. 


"Lepasin hijabnya onty Zahra," pinta Aidin sambil membuka mulutnya lebar-lebar kode menggigit. 


Semua orang hanya bisa tertawa. Entah dulunya waktu hamil ngidam apa, yang pasti Shireen seperti orang yang jatuh cinta pada adik papanya hingga tak mau ditinggalkan. 


"Lepasin nggak, atau om gigit nih." Ancaman Aidin berhasil. Shireen melepas hijab Zahra, namun tangannya beralih meraih tangan Aidin yang merapikan hijab sang istri. 


Setelah rapi. Ia langsung ambruk di atas lantai bak orang pingsan. 


Trik jitu yang sudah terbukti hasilnya. Pasalnya, kemarin saat Aidin pura-pura tertidur Shireen pun mengurungkan niatnya untuk ikut, dan sepertinya itu adalah senjata ampuh untuk mengelabui bocah tersebut. 


"Om Aidin pingsan." Darren pura-pura kaget. 


"Gak pingsan, Kak. Setiap ucapan itu adalah doa, Mas Aidin terlalu ngantuk, dia ketiduran," tegur Zahra dengan suara lembut. 


Aidin yang masih meringkuk di bawah menggunakan kesempatan itu untuk merangkul kedua kaki Zahra. Memberi kode untuk terus bersamanya sampai sandiwara usai. 


''Tentang Syukuran Zea bagaimana, Din. Apa kamu sudah mengurusnya?"


"Sudah, Ma. Kemarin aku transfer uang ke mama Delia untuk mengurus semuanya, dan semalam dia sudah mengirim dokumentasinya," jawab Aidin tanpa pindah posisi. Takut Shireen mengganggunya.


Bukan karena tak mampu membiayai acara itu. Mama Delia hanya menjalankan permintaan menantunya yang berstatus sebagai seorang ayah, yang memang harus bertanggung jawab penuh atas putrinya. Jika yang lain pun menyambut dengan syukuran, itu urusan pribadi mereka, dan Aidin tak ingin meninggalkan kewajibannya.


Merasa aman, Aidin membuka matanya pelan lalu berdiri.


"Nanti kalau kamu hamil lagi, biar Aidin yang ngidam lagi, Za."


Zahra mengerutkan alisnya. Tak mengerti dengan ucapan Bu Lilian.


"Maksud, Mama?"

__ADS_1


Bu Lilian menceritakan bagaimana saat Aidin ngidam hingga lemas dan sakit. Setiap hari muntah dan mengurung diri di kamar karena kondisinya yang sangat memprihatinkan.


__ADS_2