Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Kemarahan Darren


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, tidak ada pembicaraan apapun. Aidin sibuk dengan jalanan yang lumayan padat, sedangkan Zahra menatap ke arah luar. Memikirkan permintaan pak Herman yang seakan menuntut dirinya untuk kembali. 


Walaupun aku kembali, itu hanya akan membuat mas Aidin semakin membenciku, tapi kasihan papa, pasti dia kecewa. 


Melirik sekilas ke arah Aidin yang nampak tenang. Seperti waktu berangkat, saat ini Zahra duduk di jok belakang bagaikan majikan dan supir. Ia tak sudi duduk di kursi bekas selingkuhan suaminya. 


"Sial," umpat Aidin pelan, namun masih bisa didengar oleh Zahra.


Aidin benar-benar terjebak kemacetan parah, dan itu membuatnya tak sabar dan ingin terus mengumpat. 


Ponsel berdering memecah keheningan. 


Aidin segera mengangkatnya, ternyata itu dari Amera yang meminta dijemput. 


"Maaf, Me. Sepertinya aku tidak bisa menjemputmu, di sini macet parah." 


Tut Tut Tut 


Amera langsung memutus sambungannya tanpa menjawab. 


"Kalau bukan karena kak Darren, aku gak mau mengantarmu." Menatap Zahra dari pantulan spion. 


Zahra tersenyum sinis. "Tadi aku sudah menolak ajakan mu. Tapi kau yang terus memaksa ku. Seharusnya kita bilang saja pada kak Darren apa yang terjadi, tidak usah ditutupi lagi. Cepat atau lambat, dia akan tahu karena aku sudah bilang pada papa tentang perceraian kita."


Mata Aidin membulat sempurna mendengar ucapan Zahra yang sudah lancang. 


Lagi-lagi dering ponsel membuat Aidin mengalihkan emosinya. Ia segera menatap nama yang berkelip di layar. 


Kak Darren, ngapain menelponku?


Tiba-tiba saja jemari Aidin gemetar, namun ia tetap menggeser lencana hijau. Jantungnya berdetak dengan kencang, antara takut dan gugup. 


"Ha…halo, Kak," sapa  Aidin dengan ragu. Ada rasa takut yang membuat suaranya tertahan. 


"Nanti kalau Zahra sudah sampai rumah, kamu langsung pulang, ada yang mau aku bicarakan denganmu," ucap Darren dingin membuat otak Aidin mulai menerka-nerka.


Hampir lima belas menit, akhirnya jalanan sudah mulai longgar. Aidin kembali melajukan mobilnya. Namun, ia malah menghentikannya lagi di tepi jalan. 


"Turun!" titah Aidin. 


Zahra melihat kiri kanan jalan lalu menatap Aidin dari belakang. 


"Ini masih jauh, Mas. Sebentar lagi Maghrib," ucap Zahra bingung. 

__ADS_1


"Cepat turun!" titah Aidin meninggikan suaranya. Sedikitpun tak menerima protes dari wanita itu. 


Terpaksa Zahra membuka pintu dan keluar. Ia berdiri di tepi jalan seraya menatap mobil Aidin yang mulai menjauh. 


Zahra merogoh ponselnya yang ada di tas. Kebetulan sekali ponselnya kehabisan baterai. Terpaksa dia harus berjalan untuk mencari pangkal ojek. 


°


°


°


Darren menghampiri Aidin yang baru saja masuk. Ia langsung melayangkan pukulan pada pria itu.


Bugh Bugh Bugh 


Darren tak henti-hentinya memukul wajah dan perut Aidin. Tangannya terus mencengkram baju pria itu hingga tercekik. Seolah-olah saat ini ia sedang berhadapan dengan musuh bebuyutan dan tidak akan memberikan ampun. 


Bu Lilian menangis di pelukan pak Herman. Mereka hanya bisa melihat aksi brutal putra pertamanya. 


"Di mana otak kamu, hah?" rutuk Darren sembari menghempaskan tubuh Aidin di dinding. Lalu, menjambak rambutnya. Ada rasa kasihan melihat sang adik yang tak melawan sedikitpun, namun ia tak bisa mengendalikan emosi yang sudah membuncah di ubun-ubun. 


"Apa yang kurang dari Zahra?" ucap Darren dengan suara lirih. Setelah mendengar penjelasan Bu Lilian, dadanya semakin ingin meledak menampung kemarahannya. 


"Tidak ada yang kurang dari dia. Tapi aku tidak mencintainya," jawab Aidin tenang. Sedikitpun tak menyimpan penyesalan karena sudah menyakiti wanita itu bertubi-tubi. 


"Lalu kenapa kau menikahinya?" tanya Darren kemudian. 


Aidin menatap pak Herman yang berdiri di belakang sang kakak. 


"Karena papa memaksaku untuk segera menikah, dan disaat itu hanya Zahra satu-satunya wanita yang mau menikah denganku."


Pak herman sudah tak tahan lagi dengan ucapan Aidin. Ia menunjuk ke arah pintu depan. "Pergi dari sini, jangan pulang! Karena hari ini juga aku cabut nama kamu dari keluarga Adijaya. Kembalilah setelah kau sadar dan mau menerima Zahra." 


Aidin maju satu langkah, sedikitpun tidak ada rasa takut akan kehilangan nama itu. Seakan ia bisa berdiri sendiri tanpa marga dari orang tuanya. 


"Aku akan pergi dari rumah, silakan papa cabut namaku, aku  tidak peduli."


Aidin segera pergi meninggalkan rumah itu tanpa menghiraukan panggilan bu Lilian. 


Bertepatan saat pintu tertutup rapat, pak Herman memegang dadanya yang terasa nyeri, tak lama kemudian ia ambruk. 


Bu Lilian menjerit, begitu juga dengan Darren yang sangat panik. Mereka berhamburan memeluk pak Herman yang tak sadarkan diri. 

__ADS_1


"Key, panggil dokter Amar!" teriak Darren pada istrinya yang ada di ruang tengah. 


"Di mana hp nya, Mas?" Keysa ikut panik dan mondar-mandir mencari benda pipih suaminya. 


Darren menunjuk ke arah meja lalu mengangkat pak Herman ke kamar. 


Tak berselang lama dokter Amar datang. Ia langsung ke kamar pak Herman untuk memeriksa pasien. 


"Mama gak mau terjadi apa-apa dengan papamu, Ren. Kasihan dia, selama ini sudah berkorban besar untuk kita, tapi disaat sekarang waktu nya istirahat, harus menanggung masalah besar," ucap Bu Lilian di sela-sela tangisnya. 


Ia terus mengingat perjuangan sang suami. Meniti karir dari nol dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, namun sekarang harus menghadapi sikap Aidin yang kekanak-kanakan. 


"Mama tenang saja, aku yakin papa akan baik-baik saja."


Pria yang berumur tiga puluh tujuh tahun itu terus menenangkan bu Lilian. 


Hampir lima belas menit, dokter Amar keluar dengan wajah redup nya. 


"Bagaimana keadaan papa, Dok?" tanya Darren antusias. 


"Pak Herman harus menjalani perawatan intensif. Tekanan darah beliau rendah. Saya takut ini akan berpengaruh pada kondisi jantungnya yang sangat lemah." 


"Baik, Dok." Tak banyak kata. Darren langsung menyuruh supir untuk menyiapkan mobil. Ia tak mau mengambil resiko dengan kesehatan papanya. 


Air mata terus membanjiri pipi bu Lilian. Dadanya sesak mengingat masalah yang menerjang keluarganya. Masalah Aidin belum terselesaikan, namun timbul masalah baru yang lebih menyedihkan. 


"Ren, kamu telpon Aidin, dia harus tahu papanya di rumah sakit," ucap Bu Lilian saat mobil yang ditumpanginya masuk gerbang rumah sakit. 


Kali ini Darren tak mau egois. Ia mengesampingkan amarahnya pada sang adik. Baginya pak Herman jauh lebih penting dari apapun. 


"Baik, Ma. Aku akan menghubunginya."


Darren mengikuti ke mana dokter membawa pak Herman. Setelah itu ia menghubungi Aidin. 


Beberapa kali Darren mencoba menghubungi nomor Aidin, Namun ia tak mendapatkan jawaban apapun karena pria itu tak menjawab panggilannya. Bahkan, yang terakhir Aidin mematikan ponselnya. 


"Nomornya gak aktif, Ma." 


Bu Lilian tak bisa membendung air matanya. Ia terus menangis di pelukan Darren.


"Dari siapa, Me?" tanya Aidin pada Amera yang dari tadi memegang ponselnya.


"Bukan siapa-siapa, gak penting."

__ADS_1


Amera kembali mendekati Aidin dan membantu mengobati luka di wajahnya.


__ADS_2