Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Kekuatan cinta


__ADS_3

Dada Aidin terasa sesak bak terimpit batu besar. Tak kuat melihat Zahra yang terus mengeluh kesakitan. Mendekatkan wajahnya tepat di wajah sang istri yang juga dipenuhi air mata. Kata sakit yang terus terlontar dari bibir ranum itu terus menyayat hati. 


"Baru pembukaan lima, Dok. Masih lama," kata seorang suster pada dokter yang baru saja masuk. 


"Kita tunggu tiga puluh menit lagi, kalau tidak ada perubahan terpaksa harus dioperasi."


Seketika itu juga Zahra menggeleng. "Aku tidak mau dioperasi, bagaimanapun caranya aku harus melahirkan secara normal," ucapnya diiringi dengan tangis. 


Aidin hanya bisa membisu, seharusnya sebagai seorang suami ia bisa memutuskan, akan tetapi malah bingung harus melakukan apa. Di satu sisi ingin mengikuti saran dokter, namun di sisi lain tak ingin memaksa keinginan istrinya yang nampak bersikeras menolak untuk dioperasi. 


Zahra meringkuk, sedetik pun tak melepaskan tangan Aidin untuk menyalurkan rasa nyeri yang kembali menyerang. 


Semua dokter menatap Aidin dengan lekat. 


Dari sorot matanya seperti meminta bantuan pria itu. Sebab, itu tak bisa dibiarkan terus menerus takut terjadi sesuatu pada bayi dan juga ibunya.


Aidin melepas tangan Zahra dengan pelan. Menghampiri para tim medis yang berdiri sedikit jauh. 


Zahra menatap punggung mereka yang berdiskusi, dari sekian yang ada di sana, hanya ada satu orang yang paling tinggi. Tak hanya bodinya yang seperti laki-laki, namun juga langkah lebarnya. 


Namun, Zahra yakin dokter memenuhi permintaannya yang ingin ditangani semua dokter wanita. 


"Bagaimana, Tuan? Apa yang harus kami lakukan?"


"Lakukan yang terbaik. Aku tidak mau istri dan anakku dalam bahaya. Berapapun biaya nya pasti akan aku bayar."


"Tapi kalau nyonya Zahra tidak mau dioperasi kita harus melakukan metode lain, yaitu memberikan obat perangsang. Dan ini akan lebih sakit dari biasa." 


Apa yang harus aku lakukan?


Aidin kembali mendekati Zahra, ia tak bisa memilih di antara dua jalan itu. 


Ingin sekali membuka masker, namun itu urungkan, takut Zahra kaget dengan kehadirannya dan akan berpengaruh dengan kelahiran bayi mereka. Akhirnya tangan Aidin mengelus perut buncit sang istri lalu melantunkan doa dengan suara lirih, "La ilaha illallahul 'adzimul halim. La ilaha illallahu rabbul 'arsyil 'adzim. Laa ilaha illallahu rabbus samawati wal ardli wa rabbul 'arsyil 'adziim."


Kemudian, membaca surat Insĥiqāq ayat 1-5 seperti yang disarankan Ustadz Haidar itu dalam hati. 


Ada sebuah getaran aneh yang Zahra tak mengerti, entah kenapa hatinya terasa sejuk saat melihat mata yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. 

__ADS_1


Tatapan itu tak asing baginya, namun Zahra menepis perasaan yang menyelimuti. 


Aku tidak boleh mengingat mas Aidin, dia tidak mungkin peduli padaku. 


Tak lama kemudian, Zahra merasakan  kontraksi lagi, bahkan kali ini rasa sakit itu semakin menyeruak. Aidin mengangkat kepala Zahra dan mendekapnya erat. 


"Sudah pembukaan sepuluh, Dok," ucap suster sedikit berteriak, senyum mengembang di sudut bibirnya dengan hal yang tak terduga tersebut.


Wajah yang tadinya penuh dengan kegelisahan kini berbinar. Semua tim dokter mengangkat jempol ke arah Aidin yang masih setia berada di samping sang pasien. 


"Nyonya Zahra harus mendengar instruksi dari saya," ucap Dokter Vellin. 


Zahra mengangguk setuju. Harus kuat demi sang buah hati yang sebentar lagi akan hadir ke dunia. 


Tak seperti tadi, kali ini rasa sakit itu tak kunjung reda, hingga Zahra mencengkeram apapun yang ada di sekitarnya, tak segan untuk mencakar dan melukai mereka tanpa ampun. 


"Sekali lagi Nyonya, kepalanya sudah terlihat."


"Sekali lagi, Sayang. Kamu pasti bisa." Suara berat itu lolos begitu saja menghiasi telinga Zahra. Bukan saatnya fokus pada siapa orang itu melainkan bayinya yang seolah ingin segera keluar. 


Zahra mengeratkan gigi. Mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejan. Kedua tangannya berpegangan dengan kuat hingga suara tangis bayi itu membuatnya tersenyum tipis. 


"Apa jenis kelamin bayi saya, Dok?" tanya Zahra dengan bibir bergetar. 


Selama ini ia memang tak mau dokter menyebutnya dan ingin sebuah kejutan di saat bayinya benar-benar sudah lahir. 


"Bayi Nyonya perempuan, cantik sekali." Dokter itu membantu membuka kancing baju Zahra bagian atas. 


Dibalik masker pun bibir Aidin mengulas senyum. Meskipun belum bisa leluasa untuk mencurahkan kasih sayangnya, setidaknya bisa melihat momen terpenting. Menyaksikan kelahiran putri nya. 


Putriku, ini Papa, Nak. Akhirnya papa bisa melihat kalian. 


Mengepalkan tangannya, memendam keinginan untuk mencium kedua wanita yang saat ini ia cintai. 


"Di mana papanya? Putri Anda harus segera di adzani." Sang dokter pura-pura tidak tahu.


Wajah Zahra meredup. Mengusap rambut putrinya yang masih mencari sesuatu di dadanya. 

__ADS_1


"Papanya gak ada di sini, Dok. Tapi ada kak Hanif, biarkan dia yang mengadzani."


"Siapa yang berkata papanya tidak ada di sini." Aidin membuka masker dan penutup kepala yang membuat Zahra terkejut bukan kepalang. 


Mas Aidin 


Hanya mengucap dalam hati. Mengalihkan pandangannya ke arah lain. Takut terhanyut dengan cinta yang mungkin tak akan terbalas. Tujuh bulan menjauh, nyatanya tak bisa membuatnya menghapus rasa cinta yang bersemayam.


Itu artinya, tadi aku gak salah dengar, jadi, dari tadi dia yang memberi semangat padaku. 


Zahra terpaku, apakah ia harus bahagia dengan kehadiran pria itu, ataukah bersedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah. 


Sebuah kecupan mendarat di kening Zahra tanpa permisi. "Aku ada di sini untuk kamu dan putri kita." 


Zahra terdiam mengingat apa saja yang ia lakukan pada pria itu termasuk mencakarnya sekuat tenaga. 


"Dan aku yang akan mengadzani putri kita." 


Zahra bergeming. Ia hanya bisa menyaksikan saat dokter memberikan putrinya kepada sang suami. 


Lantunan Adzan begitu merdu menghiasi telinga, sejuk hingga membuat semua orang terharu.


Setelah selesai, ia membaringkan bayi mungilnya di samping Zahra. Kemudian mengambil gambar mereka lalu mengirimkan ke ponsel Bu Lilian. 


Seketika itu juga Bu Lilian yang ada di ruangan lain melakukan video call yang langsung diterima Aidin. 


"Mama ingin bicara dengan kamu." Mengarahkan layar ponselnya di depan Zahra. 


Zahra tersenyum saat melihat wajah bu Lilian dari layar ponsel. Seandainya bisa, ia ingin memeluk dengan erat dan mengutarakan kebahagiaannya.


"Mama kangen sama kamu, Nak." Bu Lilian menangis tersedu-sedu. Tangannya menyentuh layar ponsel miliknya. 


"Aku juga kangen sama Mama, aku akan segera pulang." 


"Mama ada di rumah sakit ini," sahut Aidin dengan suara lembut. Menjelaskan pada Zahra yang belum tahu tentang keberadaan orang tuanya. 


"Ngapian, Mas?" tanya Zahra antusias. Matanya kembali menatap pak Herman yang berbaring di atas ranjang. 

__ADS_1


"Papa sakit, apa jantungnya kambuh lagi?"


Aidin tersenyum tipis, tidak ingin Zahra khawatir. "Tenanglah, papa baik-baik saja."


__ADS_2