Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Positif


__ADS_3

Zahra turun dari ranjang. Ia hendak keluar, namun bersamaan dengan dirinya yang hampir menyentuh knop, pintu dibuka dari luar, ternyata Aidin yang masuk. 


"Kamu mau ke mana? Mama dan papa sudah ke kamar." Aidin menutup pintunya lagi lalu melepas kemeja nya. Kini pria itu telanjang dada memamerkan tubuh atletisnya pada Zahra. 


Zahra duduk di samping Aidin. Ia masih ragu untuk bicara, tapi permintaan ayahnya tak bisa ditunda lagi, takut pak Adinata terlalu berharap padanya yang belum pasti akan mendapatkan uang. 


"Ayah butuh uang." Mengucap dengan kepala menunduk.


"Lalu, kenapa kau bilang padaku? Apa aku ini gudang uang," ucapnya ketus. Pria tampan yang bermanik mata biru itu menatap tajam Zahra yang memang sudah lancang berani meminta bantuan padanya. Terlebih bukan dirinya yang butuh, melainkan untuk Adinata yang secara tidak langsung sudah membuangnya. 


"Tapi ayah sangat membutuhkannya, Mas," lanjutnya. 


"Aku gak punya uang. Lagipula ngapain kamu urusin mereka, cukup urus diri kamu sendiri, bukan orang lain," terang Aidin sembari berlalu ke kamar mandi. 


Apa kubilang, pasti mas Aidin gak mau minjemin uang ke ayah. 


Zahra tak sepenuhnya menyalahkan Aidin yang juga bekerja dengan pak Herman. Terpaksa ia mengirim pesan pada pak Adinata bahwa Aidin tak bisa meminjamkan uang.


Zahra  menyiapkan baju tidur untuk Aidin. Dia yakin malam ini mereka akan tidur sekamar, mengingat di rumah ada pak Herman dan Bu Lilian yang menginap.


Tak berselang lama, Aidin keluar dan menghampiri Zahra yang menunggunya di depan jendela. 


"Kenapa ayah gak minta bantuan mama Delia? pasti dia punya banyak uang." 


Zahra meninggalkan Aidin tanpa menjawab ucapan pria itu. Ia memilih untuk berbaring di ranjang. "Kalau gak mau bantuin gak papa, jangan berbicara menyangkut mama." Menutup wajahnya dengan selimut hingga sekujur tubuhnya tak nampak. 


Aku kan cuma kasih pendapat. Kalau gak mau, kenapa harus marah.


Hampir satu jam lamanya, Zahra tenggelam di balik selimut membuat Aidin penasaran dengan apa yang dilakukan wanita itu. 


"Betah banget, apa dia gak sesak napas," gumam Aidin kecil. 


Tangannya mengulur, menarik selimut yang menutup wajah Zahra dengan pelan. 


"Ternyata sudah tidur."


Aidin tersenyum tipis. Menyangga kepalanya dengan satu tangan. Matanya tak teralihkan dari setiap jengkal wajah Zahra yang nampak teduh. Sekian lama bersama dan tinggal satu atap, ini pertama kali hatinya merasa tersentuh dengan kepolosan wanita itu. 

__ADS_1


"Kau sangat cantik, tapi sayang bukan orang yang aku cintai."  


Aidin memilih memejamkan mata. Menepis perasaan yang membuat dadanya bergemuruh. 


Tanpa disadari ia memeluk tubuh ramping Zahra.


Jam alarm berbunyi mengusik Zahra yang masih tertidur pulas. Ia meranggeh ponsel yang ada di nakas lalu mematikannya. 


"Perasaan baru satu jam tertidur, sudah jam tiga saja," gerutunya dengan suara serak. Tubuhnya sulit untuk digerakkan. Seperti ada sesuatu yang menindih perut dan pahanya. Hembusan napas menerpa pipi mulusnya membuat wanita itu menoleh ke arah samping. 


Mas Aidin, pekiknya dalam hati. 


Lantas, Zahra menyentuh tangan Aidin yang melingkar di perutnya juga kaki yang bertumpu di pahanya. 


"Kamu makan apa saja sih, Mas. Berat banget." Mencoba mengangkat tangan Aidin dengan pelan, lalu memindahkan kaki pria itu ke arah guling yang sebenarnya ada di tengah mereka. 


Zahra terdiam sejenak. Teringat ucapan Aidin sebelum tidur. 


Sekarang aku memang bukan orang yang kamu cintai. Tapi suatu saat nanti aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, bahkan aku akan membuatmu menjadi satu-satunya perempuan yang kau lihat selain, Mama. Kau hanya akan melihatku seorang. 


Entah itu sebuah janji atau apa, Zahra yakin bisa menaklukan hati Aidin yang hingga saat ini masih menentang kehadirannya. 


Ya Allah, semoga hasilnya positif.


Ternyata ia mengambil tespek yang sudah disiapkan jauh hari. 


Zahra mulai memakai alat itu sesuai anjuran yang tertulis. Ia yakin hasilnya akan lebih akurat jika dilakukan pagi hari seperti sekarang. 


Setelah memasukkan alat itu ke dalam gelas yang berisi urine, Zahra berwudhu lalu melakukan sholat dua rokaat. 


Suatu saat nanti, kita pasti akan sholat berjamaah, aku akan menuntunmu menjadi laki-laki yang sholeh dan bertanggung jawab. Kelak bisa membimbing anak-anak kita.


Seperti biasa, Zahra menumpahkan segala isi hati lewat do'a. Mencurahkan apa yang selama ini ia hadapi. Dengan begitu harinya akan lebih tenang tanpa beban. Niatnya ingin berpisah kembali terkubur mengingat permintaan pak Herman. Bertahan demi orang yang ia sayangi meskipun harus mengorbankan kebahagiaannya. 


Zahra melipat mukena dan kembali ke kamar mandi untuk melihat hasil tespek nya. 


Ia mengucap lafadz Bismillah sebelum tangannya menyentuh benda itu. 

__ADS_1


Perlahan matanya, menangkap dua garis merah, meskipun yang satu masih buram, Zahra yakin itu adalah tanda positif. 


"Aku hamil." 


Menutup mulutnya dengan satu telapak tangan. Rasa syukur yang begitu dalam hingga tak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipi. 


"Akhirnya aku hamil." 


Zahra terus mengucap Alhamdulillah dalam hati. Ia segera keluar dari kamar mandi dan menatap Aidin yang masih terlelap. Ia sudah tak sabar ingin memberitahu kabar gembira itu pada sang suami. 


Namun, Zahra menghentikan langkahnya yang hampir mendekati ranjang. Ia berpikir sejenak lalu membuang alat itu ke tong sampah. 


"Bulan depan hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Aku ingin memberi kejutan padamu. Aku ingin ini menjadi hadiah istimewa." Zahra mengurungkan niatnya dan memilih bungkam dari semua orang. 


Zahra menghampiri Aidin dan mengusap kening pria itu dengan pelan. 


"Bangun, Mas! Sudah subuh," ucapnya lirih. 


Meskipun berulang kali Aidin membentak nya, Zahra tak kapok dan terus ingin menyadarkan pria itu untuk kembali ke jalan yang benar. 


Aidin melenguh, meregangkan otot-otot yang terasa kaku. "Jam berapa?" tanya nya pada Zahra. 


"Belum adzan sih, tapi sudah hampir subuh. Lebih baik kamu siap-siap, hari ini aku ingin menjadi makmum kamu," pinta Zahra bersungguh-sungguh. 


"Kamu sholat saja dulu, aku belakangan," tolak Aidin sembari memeluk guling yang sempat terlepas, ia malu karena tak begitu fasih dalam hal bacaan. Bahkan sedikit lupa dengan beberapa surat.


"Ya sudah, aku sholat dulu, tapi kapan-kapan janji ya, kamu harus menjadi imamku."


Aidin mengangguk berat. Menatap punggung Zahra yang menghilang dari balik pintu kamar mandi. 


"Sholat, kapan terakhir kali aku sholat?"


Seketika itu darahnya berdesir. Detakan jantungnya tak terkontrol yang membuat hatinya sedikit terasa kacau.


Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Ternyata itu adalah Amera.


Aidin menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat lalu menerima panggilan sang kekasih.

__ADS_1


''Maaf ya. Me. Sepertinya untuk beberapa hari ini kita gak bisa ketemu, Mama dan papa menginap di rumah."


__ADS_2