
Sepekan berlalu. Semenjak pertanyaan tengah malam itu, Aidin lebih banyak diam. Ia terus introspeksi diri dan berusaha lebih baik lagi. Tuntutan Zahra membuatnya bingung, rasa apa yang selama ini dicurahkan untuk sang istri, bahkan di setiap doa selalu menyebut nama wanita itu dan ibunya. Ingin memuliakan mereka berdua seperti petuah dari Ustadz.
Tapi kenapa harus ada kata cinta, yang ia sendiri tak bisa mengartikannya. Perasaan yang selama ini membuncah, ucapan cinta yang seringkali terlontar untuk Amera nyatanya bisa hilang begitu saja.
Apakah salah pertanyaan Zahra? Tidak, wanita itu hanya butuh kepastian yang tak bisa diucapkan Aidin saat ini.
Lalu apa rasa untuk Zahra itu akan hilang juga dengan berjalannya waktu? Masih penuh dengan pertanyaan menjanggal yang membuat dadanya sesak.
"Besok papa pulang." Suara berat Darren dari arah belakang membuyarkan lamunan Aidin. Ia segera mengusap air mata yang lolos begitu saja. Jika dulu sangat sulit menemukan Zahra yang membuat dadanya terimpit, saat ini ia pun kebingungan menjawab setiap pertanyaan wanita tersebut.
"Alhamdulillah, akhirnya papa bisa sembuh dari penyakitnya. Semoga, setelah ini dia baik-baik saja."
Aidin menepuk sofa kosong yang ada di sisinya. Menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
"Bagaimana perasaan Kakak pada kak Keysa?"
Darren tertawa terbahak-bahak. Ia tak membaca keseriusannya di wajah sang adik dan menganggap itu pertanyaan konyol.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, aku mencintainya."
"Zahra mempertanyakan cintaku padanya. Dia takut aku akan meninggalkan dia jika aku menemukan perempuan yang lebih baik. Apa itu tandanya dia tidak mempercayaiku. Apa dia masih ragu menerimaku, atau terpaksa karena ada Zea? Aku tidak bisa kehilangan dia lagi, Kak."
Sungguh, kali ini Aidin cemas dengan masalah yang terdengar sepele, bahkan seringkali tak bisa tidur karana teringat ucapan itu.
"Perempuan seperti Zahra tidak perlu janji atau kata-kata manis. Dia hanya butuh bukti, sekarang kamu harus tunjukkan kesungguhanmu. Yakinkan dia kalau kamu tidak akan meninggalkannya sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun. Jika seseorang sudah terluka, memang sulit untuk percaya pada orang lain, tapi aku yakin Zahra hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan ini."
Menepuk bahu Aidin berulang-ulang.
Ceklek
Pintu terbuka, terdengar dengan jelas suara itu dari kamar Zahra.
Aidin bergegas mengusap sisa air matanya lalu berdiri dari duduknya. Menghampiri Zahra yang baru saja keluar. Sedangkan Darren, ia pun kembali ke kamar untuk mengunjungi Keysa yang ngambek gara-gara ulahnya semalam.
"Kamu dari mana saja, aku cari-cari gak ada."
"Ada urusan sedikit dengan kak Darren, kok kamu sudah bangun, bukannya baru tidur?"
Menutup pintu yang sedikit terbuka. Semakin hari kondisi Zahra mulai membaik, bisa berjalan sendiri meskipun pelan, tapi tetap dengan pantauan Aidin.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin pulang, kangen ayah."
Entah, semenjak hari ulang tahunnya Zahra terus kepikiran tentang Adinata.
Meskipun dulu sering diabaikan, tak menyurutkan rasa cintanya sebagai seorang anak.
"Gak bisa dalam waktu dekat. Aku janji, nanti setelah pulang, kita akan langsung ke rumah ayah." Sudah yang kesekian kali Aidin harus membujuk Zahra yang sering mengungkapkan kerinduannya pada sosok Adinata.
Seorang pelayan datang menghampiri Zahra dan Aidin. Mengatakan bahwa Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mereka.
"Kamu di sini saja, biar aku yang menemuinya."
Aidin berjalan menuju depan, sedangkan Zahra menunggu di tempat.
Nampak seorang pria berseragam itu berdiri di depan pintu gerbang. Sebab, Aidin memang tak sembarang menerima tamu dan melarang penjaga membukanya jika tak mengenal.
"Apa Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Aidin dari balik gerbang yang terkunci. Dilihat dari penampilannya, pria itu hanya seorang pegawai ekspedisi, namun ia tetap waspada.
"Nyonya Zahra nya ada, Tuan?" Pria itu membuka buku kecil yang ada di tangannya. "Ada paket untuk beliau, dari Indonesia."
"Istri saya masih lemah, jadi saya yang menerima."
Setelah itu Aidin tanda tangan bukti penerimaan yang sah.
"Dari siapa ini, kenapa banyak banget?" Melihat satu persatu kotak kado yang berjejer rapi di atas lantai.
Aidin mencoba membuka satu kotak untuk memastikan bahwa tidak ada yang bahaya.
"Bawa ke dalam!" titahnya pada sang penjaga.
Sama seperti Aidin yang masih bingung, Zahra pun tampak terkejut dengan barang-barang itu.
"Ini apa, Mas?"
Aidin menggeleng tanpa suara. Membantu meletakkan kotak itu di atas meja.
"Ada yang mengirim ini untuk kamu, dari Indonesia."
"Siapa?" tanya Zahra penasaran.
__ADS_1
Mengabsen nama sahabatnya yang bekerja di restoran. Jarang-jarang ia mendapat kado sebanyak itu. Kelihatannya juga barang mahal.
"Gak ada namanya, mungkin saja dia meninggalkan pesan di dalam."
Zahra mulai membuka kotak itu. Baru kotak pertama ia sudah bisa menebak siapa orang yang sudah mengirim itu.
"Ini pasti dari ayah." Mengangkat sebuah bantal berwarna pink yang berbentuk hati.
Masih ingat dengan jelas, bagaimana ia meminta sang ayah membelikan benda tersebut namun tak dituruti karena ibu tirinya melarang. Hingga akhirnya semua permintaannya tak pernah terpenuhi.
Mungkin saat ini sudah tak berarti lagi, mengingat Aidin bisa membelikan apapun yang diinginkan, tapi tetap saja itu adalah sebuah kado yang istimewa bagi Zahra. Pemberian dari orang tersayang yang kini jauh di mata.
Zahra memungut selembar kertas yang ada di dalam kotak itu dan membacanya.
Selamat ulang tahun Zahra kecilku. Maaf ayah terlambat memberikan ini. Jika kamu suka peluklah seperti saat kamu memeluk boneka pemberian mama mu, tapi jika tidak, buang saja. Ayah tidak pernah memaksa.
Ayah juga ingin minta maaf karena tidak bisa hadir di hari ulang tahunmu.Tapi ayah akan selalu berdoa, semoga panjang umur dan bahagia.
Aidin mengusap cairan bening yang membasahi pipi sang istri. Ia tidak tahu isi surat itu, tapi sudah dipastikan bahwa itu adalah ucapan dari ayahnya.
Zahra meletakkan kertas itu lalu mendekap bantal di dadanya.
"Tidak ada kata terlambat untuk sebuah cinta dan kasih sayang. Iya kan, Mas? Apa kamu sekarang juga mencintaiku seperti kedua orang tuaku?"
Sebuah pertanyaan yang harus Aidin jawab meskipun selama ini tak pernah diungkapkan.
"Aku mencintaimu. Aku tidak memintamu untuk percaya padaku, tapi berikan waktu padaku untuk membuktikan itu."
Zahra bersandar di dada bidang Aidin. Menggenggam tangan pria itu dengan erat. Mengusir semua masa lalu yang terkadang masih menghantuinya.
Sholawat demi sholawat yang terus terlantun perlahan membuatnya tenang dan bisa menerima semuanya.
Huaaa Huaaa
Suara tangisan itu sudah dipastikan akan menganggu Aidin. Ia memejamkan mata sambil memeluk Zahra untuk menghindari bocah tengil tersebut.
Halo halo halo, baca juga novel yang sangat bagus untukmu
__ADS_1