Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Selalu ketahuan


__ADS_3

Aidin tak hanya membuktikan cinta tulusnya pada Zahra, namun juga pada Delia dan keluarga lainnya. Membuktikan bahwa ia bisa menjadi menantu idaman mereka. Seperti saat ini, ia sendiri  yang menjemput mertuanya ke bandara. Ingin menyambut kedatangan mereka yang sudah diharapkan oleh sang istri.


Aidin yang dari tadi menunggu berlari menghampiri Delia yang baru saja keluar. 


Layaknya seorang anak, ia pun bersalaman dengan Delia dan James. Sopan pada mereka seperti yang dilakukan Zahra pada setiap orang. 


"Zahra dan Zea baik-baik saja, 'kan? Apa kamu menjaga mereka sepenuh hati?" tanya mama Delia sedikit cemas. 


"Alhamdulillah, Ma. Mereka baik-baik saja. Sesuai janjiku, aku akan mengutamakan mereka sebelum diriku sendiri." Aidin menjawab apa adanya. Meraih koper yang ada di tangan James dan menariknya menuju mobil. 


Tanpa banyak bicara, Aidin langsung melajukan mobilnya menuju rumah, tak hanya Delia, ia pun ingin segera pulang dan bertemu keluarga kecilnya. Berpisah dengan mereka seakan kehilangan separuh hatinya. 


"Oh iya, kapan rencana kalian pulang? Jangan lama-lama, aku sudah ingin bersama cucuku."


Aidin yang sibuk dengan setir melirik ke arah Delia dari pantulan kaca spion. Kemudian tersenyum. 


"Saran dari dokter kalau umur Zea sudah menginjak tiga bulan, Ma. Takutnya masuk angin," papar Aidin seperti ucapan Dokter Vellin. 


Delia tak menjawab, ia menatap ke arah luar jendela. Dari segi bicara memang masih terlihat ketus, tapi itu tak masalah buat Aidin yang benar-benar ingin menempatkan diri di keluarga Zahra. 


Tak terasa mobil berhenti di depan rumah Aidin. Rumah yang dipersembahkan untuk sang istri tercinta. 


Dari jauh nampak Zahra melambaikan tangan ke arah Delia yang baru turun dari mobil. Senyum terukir di sudut bibir wanita itu. 


"Mama," panggilnya sembari berjalan menghampiri Delia yang juga berjalan ke arahnya. 


Keduanya berpelukan, meluapkan kerinduan yang mendalam. Satu bulan lebih berpisah membuat Delia maupun Zahra diselimuti rasa rindu yang menggebu. 


Delia melepas pelukannya memutar tubuh sang putri yang sedikit berubah. 


Buah dadanya saat dipeluk terasa menonjol serta pipi nya terlihat tembem. 


"Kamu makan apa saja, Za. Kok semakin gendut," tegur Delia, masih meneliti pinggul Zahra yang tak berbentuk. 


Aidin yang berdiri di samping James hanya menahan tawa melihat istrinya yang nampak malu. 

__ADS_1


Zahra menggeleng. Menatap Aidin sebagai kode meminta pertolongan, namun pria itu angkat tangan pertanda tak ingin membantunya. 


Dasar curang, gerutu Zahra dalam hati. Kesal dengan Aidin yang tak mau membantunya sedikitpun, hingga ia harus memutar otaknya untuk memberi jawaban pada sang mama. 


"Mungkin ini karena efek menyusui, Ma. Bukan karena makanan yang aku makan." 


Semua tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasan Zahra, kecuali Aidin karena ia belum tentu akan selamat jika ikut menertawakan wanita itu. 


"Gak ada orang menyusui itu gendut kalau makannya gak banyak, Sayang. Pasti kamu sering makan." 


Bu Lilian dan pak Herman keluar dan menyambut kedatangan Delia, sedangkan Keysa dan Darren keluar untuk berbelanja kebutuhan semua orang yang tinggal di sana. 


"Jangan dibahas, Ma. Aku malu." Zahra menundukkan kepalanya, tak berani menatap mereka yang seolah-olah mengejeknya. 


"Ya sudah, masuk yuk!" Bu Lilian menggiring Delia masuk, sedangkan Zahra hanya bisa melihat mereka berlalu tanpa ingin mengikuti. 


"Ayo masuk!" ajak Aidin lembut. Merangkul pinggang yang menurutnya tetap ramping meskipun berat badannya memang naik lima kilo. 


Selama ini Aidin memang tak pernah protes pada Zahra yang sering makan. Juga tak peduli dengan postur tubuh wanita itu yang mulai berubah.


Meski lumayan sensitif, Aidin tak pernah lelah untuk membujuknya dengan berbagai cara.


"Siapa bilang kamu jelek, kamu cantik kok, jangan pikirkan apapun termasuk omongan mama. Dia cuma menggodamu saja." 


Mendapat pembelaan itu, Zahra sedikit lega, setidaknya Aidin berpihak padanya saat Delia menegurnya. 


Zahra dan Aidin menghampiri Delia dan yang lain di ruang tamu. Mereka tampak akrab saat berbincang tentang bisnis masing-masing, sedangkan Delia sendiri sibuk dengan Zea yang terus menampilkan senyum manisnya. 


Hampir seharian penuh Zahra berkumpul  dengan Delia dan keluarga yang lain, sedangkan Aidin sibuk di kamar berkutat dengan laptopnya, karena hari ini ada meeting penting yang tak bisa ditinggalkan. 


Sesekali menyesap kopi buatan Zahra yang mulai hangat untuk menemani matanya yang semakin mengantuk. 


"Sepertinya meeting kita hari ini sudah cukup," pamit Aidin lalu menutup laptopnya. Menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. 


Lima jam berlalu, namun Zahra tak kunjung datang juga membuat Aidin kesepian. 

__ADS_1


"Ke mana dia? Apa dia sudah gak inget aku lagi. Apa aku gak dianggap jika ada keluarga yang lain."


Membaringkan tubuhnya di sofa sambil menatap langit-langit kamarnya, tak terasa kedua matanya terpejam dengan sendirinya. 


Zahra yang dari tadi membantu di dapur itu pun segera pergi saat pelayan mulai menyusun makanan di meja makan. Ia menatap ke arah ruang tengah yang sangat ramai, namun tidak ada Aidin disana. 


"Apa mas Aidin belum selesai meeting nya?"


Zahra langsung ke kamar. Membuka pintu tanpa mengetuk, nampak kaki Aidin menjulur melebihi panjang sofa. 


"Ternyata dia tidur, aku kira meeting." Berjalan pelan menghampiri Aidin. Merapikan beberapa dokumen yang masih berserakan. 


Sebuah tangan melingkar dari arah belakang membuat Zahra terkejut. Meskipun itu bukan lagi hal yang tabu, tetap saja membuat dadanya selalu berdebar-debar. 


"Jadi kamu pura-pura tidur?" Zahra menatap mata Aidin yang masih terpejam. 


"Ini tidur beneran, Sayang. Tapi karena mencium mangsa jadi bangun." 


Tak ada hari yang tak indah selain menggoda Zahra. Sepertinya itu akan menjadi topik Aidin di sela waktu luangnya. 


"Sekarang kita makan dulu, Mama sudah nungguin di meja makan."


Aidin bangun dengan malas. Menarik tubuh Zahra dan membawa ke pangkuannya.


"Makan yang lain kayaknya lebih enak." Menatap intens bibir Zahra yang nampak merona. Entah kenapa, adik kecilnya selalu terbangun saat berada di dekat wanita itu. 


"Makan apa?" tanya Zahra yang belum mengetahui maksud Aidin, bahkan sedikitpun tak pernah berpikir dengan kemesuman pria itu. 


Jari Aidin mengusap bibir Zahra dengan lembut dan mendekatkan wajahnya. Namun, kali ini aksinya harus gagal saat pintu tiba-tiba terbuka. 


Aidin dan Zahra menoleh ke arah pintu. Menatap gerangan yang berdiri di sana. 


"Kalian mau ngapain, jangan bilang kalau__"


"Apaan sih, ini gak seperti yang Kakak lihat, tadi di bibir Zahra ada coklat, dan aku mau membersihkan nya." Aidin meraih tangan Zahra dan mengajaknya keluar. Melewati Darren yang masih penuh tanda tanya. Sebab, ia sempat melihat Aidin hampir menempelkan bibirnya. 

__ADS_1


__ADS_2