Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Permintaan pak Herman


__ADS_3

Zahra meninggalkan Aidin yang masih diselimuti kemarahan. Ia memilih untuk bergumul dengan keluarga lainnya daripada melayani Aidin yang terus menyudutkannya. Ternyata pesta sudah berakhir. Para tamu berhamburan pamit pada sang tuan rumah.


Pak Herman yang duduk di antara tamu penting itu memanggil Zahra untuk berada disampingnya. Mendampingi sebagai menantu, seperti Keysa. 


"Darimana saja? Papa nyariin kamu dari tadi?" tanya pak Herman berbisik. Sebab, saat ini di depannya banyak kolega bisnis bersamanya. 


"Dari atas, Pa. Bicara dengan mas Aidin sebentar," terang Zahra gugup. Ini kali pertama pak Herman mengajaknya bergabung dengan orang-orang penting. 


"Ini istrinya Aidin?" Salah satu klien bertanya sembari menunjuk Zahra yang tampak menunduk malu. 


"Iya, namanya Zahra." 


"Wah, pak Herman hebat memiliki dua menantu yang sama-sama cantik dan sholehah," puji wanita tua, namun masih terlihat cantik dan anggun. 


Zahra hanya menanggapinya dengan senyuman manis. Meskipun sebentar lagi ia tak lagi menyandang status menantu Adijaya, setidaknya saat ini status itu masih tersemat untuknya. 


"Kapan Aidin menggantikan posisi, Anda?" tanya yang lain lagi kembali membahas pekerjaan. 


"Dia masih perlu banyak belajar. Jadi untuk satu atau dua tahun ini belum bisa," sanggah pak Herman. 


Percakapan itu terdengar renyah. Mereka membahas masalah pribadi dan terkadang diselingi pekerjaan. Zahra hanya diam dan menjawab saat ditanya. 


Sedangkan Aidin, ia hanya bisa menatap Zahra dari jauh karena saat ini ia pun bersama rekan kerja nya. 


"Din, aku pulang dulu. Kapan-kapan kita bertemu lagi," pamit Iqbal merangkul pundak Aidin. Ia memang sempat mendengar percakapan Aidin dan Zahra, namun memilih bungkam. 


Aidin mengangguk tanpa suara. Masih kesal dengan Iqbal yang tadi sempat mendekati Zahra. 


Satu persatu tamu meninggalkan rumah Darren. Kini hanya tinggal keluarga, termasuk Aidin dan Zahra. 


Setelah mengantar tamu di depan pintu, Pak Herman kembali menghampiri Zahra yang masih duduk di samping Darren dan Keysa. 


"Za, ikut aku!" 


Zahra mengangguk, mengikuti pak Herman dari belakang. Berharap yang dibicarakan bukan masalah serius. 


Mereka memasuki sebuah ruangan kosong yang terdiri dua kursi dan satu meja. Tiba-tiba saja hati Zahra bergemuruh, ia takut pak Herman akan mengintimidasi tentang hubungannya dengan Aidin yang kini sudah retak. 

__ADS_1


"Duduk, Za!" titah Pak Herman menunjuk kursi yang ada di depannya. Tempat yang ber ac itu terasa pengap bak tak berudara saat Zahra duduk di depan sang mertua. 


"Maafkan papa, Za," ucap pak Herman mengawali pembicaraan. 


Zahra masih diam belum tahu maksud dari ucapan mertuanya. 


"Papa kira Aidin akan membahagiakan kamu, tapi papa salah. Ternyata dia hanya menghancurkan hidupmu," ucap pak Herman penuh penyesalan. 


Kali ini Zahra paham dengan maksud pak Herman. Ia beranjak lalu bersimpuh di depan pria itu. Menggenggam kedua tangannya yang mulai keriput. 


"Papa tidak usah minta maaf. Ini bukan salah papa dan juga bukan salah siapa-siapa. Mungkin aku sebagai seorang istri tidak bisa menjalankan kewajibanku dengan baik. Dan tentang perceraian ini karena aku dan mas Aidin hanya berjodoh sampai  disini. Papa jangan sedih. Jangan terlalu dipikirkan, nanti papa sakit."


Zahra mencoba menenangkan pak Herman. Tidak hanya dirinya yang terluka, pasti kedua orang tua Aidin pun ikut malu dengan apa yang sudah diperbuat putra mereka. 


"Tapi papa masih mengharapkan kamu sebagai menantu papa, Za." 


Ucapan itu seakan permintaan dari orang tua pada anaknya. Yang sukses membuat  hati Zahra kembali bimbang. 


"Tapi mas Aidin tidak mencintaiku, Pa. Dan aku tidak bisa memaksanya untuk terus bersamaku. Itu hanya akan membuat hubungan kami semakin keruh."


Buliran bening mengalir dari mata pak Herman dan membasahi telapak tangan Zahra. Sebagai orang tua ia merasa gagal mendidik Aidin. 


"Za, kalau kamu berpisah dengan Aidin, kamu masih mau kan menginjakkan kaki di rumah ini. Kamu juga mau memanggilku dengan sebutan papa, kan?" tanya pak Herman serius. 


Sejak bertemu dengan Zahra, Pak Herman selalu berdoa supaya wanita itu menjadi istri Aidin untuk selamanya, namun sepertinya doa itu tidak akan terkabul. 


"Selamanya papa dan mama Lilian akan menjadi orang tuaku. Kalian orang terbaik yang pernah aku miliki. Kita hanya akan berpisah tempat dan status. Aku akan berdoa mas Aidin memiliki istri yang lebih baik dariku." 


Setiap kata yang diluncurkan Zahra membuat hati pak Herman semakin tersayat hingga ia tak mampu untuk membendung air matanya. Sangat disayangkan, sebentar lagi Zahra akan hengkang dari kehidupannya dan akan menjadi milik orang lain. 


"Sekarang papa istirahat, aku mau pulang."


"Biar sopir yang antar." 


"Tidak usah, Pa. Aku bisa pulang sendiri," sergah Zahra, kemudian menuntun tangan pak Herman keluar ruangan. 


Mereka kembali ke ruang keluarga menemui yang lain. 

__ADS_1


"Kakak, kayaknya aku langsung pulang saja, sudah sore," pamit Zahra melihat jam yang melingkar di tangannya. Lalu menatap mereka bergantian. 


Sedangkan Aidin tetap sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Din, istri kamu mau pulang," celetuk Darren menepuk paha sang adik. 


Suasana menjadi canggung, Aidin bingung mau menjawab apa, dan akhirnya ia ikut pamit mengikuti langkah Zahra menuju pintu depan. 


Kenapa mereka aneh begitu, apa ada masalah? 


Darren hanya mengucap dalam hati. Sebagai lelaki, ia bisa membaca raut wajah Aidin yang nampak datar saat menatap Zahra. 


Setelah Zahra dan Aidin menghilang dibalik pintu, Darren mendekati Pak Herman. 


"Tadi papa bicara apa dengan Zahra?" tanya Darren beralih membahas adiknya. 


Pak Herman tersenyum kecut. "Bukan apa-apa, hanya masalah pribadi," jawabnya lirih. 


Keysa yang dari tadi sibuk membongkar kado, akhirnya kembali duduk di samping Darren. Ia membawa kotak yang tak asing di mata pak Herman dan Bu Lilian. 


"Itu kado dari Zahra?" terka Darren yang tadi sempat menghafal bungkus kado tersebut. 


Keysa tersenyum dan bergegas membukanya. 


Betapa terkejutnya mereka saat keysa memungut sepasang gelang mungil dari dalam kotak itu. Tidak ada yang salah, karena dari hasil usg anak Keysa memang berjenis perempuan, itu sudah cocok. 


Namun, ada yang menjanggal bagi seorang istri direktur memberikan aksesoris pasaran. 


Semua hanya diam, lalu Keysa mengambil selembar kertas kecil yang ada dibawahnya. 


Maaf ya kak, aku hanya bisa kasih gelang ini untuk dedek bayi nya. Lagipula, bukankah hadiah tidak diukur dari harganya, tapi dari keikhlasan orang yang memberi. 


Keysa tersenyum lalu menyimpan gelang itu kembali. 


"Mas, nanti kalau anak kita lahir langsung pakai kan gelang ini," pinta Keysa pada Darren yang masih tampak bingung. 


"Sebenarnya ada masalah apa dengan Zahra dan Aidin, Pa?" Terpaksa Darren bertanya apa yang menjanggal di hatinya. 

__ADS_1


"Mereka akan berpisah," jawab Bu Lilian yang membuat semua orang tercengang. 


__ADS_2