
"Maafkan papa, Fathan. Bagaimanapun juga semua harus jelas." Aidin mengecup lembut kening bayi mungil itu. Tak segan menyematkan panggilan papa meskipun belum menemukan titik terang siapa ayah kandungnya.
Mencabut beberapa helai rambut bocah itu dan memasukkannya ke kantong plastik, kemudian menyimpannya ke dalam saku kemeja. Hari ini ia akan pergi ke rumah sakit. Selain untuk tes DNA, juga akan menemani pak Herman.
"Nanti kalau dia menangis, kamu segera hubungi aku!" titah Aidin pada pengasuh yang sudah berdiri di belakangnya. Ia menjaga penuh bayi itu layaknya putranya sendiri.
Wanita itu mendekat. "Baik, Tuan."
Aidin keluar dari kamar menghampiri pak Herman yang sudah menunggunya di ruang depan.
"Kok lama banget sih, kamu ngapain saja, menggendong Fathan?"
Aidin tersenyum, entah kenapa mamanya tak suka dengan bayi itu. Padahal, tidak ada yang salah dengan kehadirannya, jika boleh memilih, Fathan pun ingin keluarga yang hangat dan lengkap, bukan seperti ini.
"Tidak, Ma. Aku cuma membantu mbak Onah memberikan susu, gak salah, 'kan?"
Hampir saja pergi, terdengar suara tangis bayi lagi dari arah belakang.
Aidin bergegas menghampiri Keysa yang nampak kesusahan mendiamkan Shireen.
"Mau ikut Om?" Bertepuk-tepuk di depan sang keponakan yang sibuk menangis.
Seketika itu juga tangisan Shireen berhenti. Fokus menatap wajah Aidin, lalu beralih pada Darren yang berdiri agak jauh.
"Mau ikut om apa papa?" tawar Keysa seraya menunjuk Darren.
Shireen menatap sang papa dengan lekat. Kemudian menatap Aidin lagi, dari segi wajah mereka tak jauh beda, akan tetapi ia lebih terpesona dengan pria yang berdiri di depannya tersebut.
Mengulurkan tangannya ke arah Aidin. Tertawa senang, memamerkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.
Namun, pria yang dipanggil om tak langsung menerima uluran tangan Shireen, justru menggodanya dengan berbalik badan.
"Om mau pergi, jadi gak bisa ajak Shireen." Berpura-pura cuek.
Seketika itu juga tangis Shireen menggema memenuhi ruangan yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.
Merasa kasihan, terpaksa Aidin menggendongnya. Lagi-lagi teringat dengan Zahra dan anaknya yang entah masih berada dalam kandungan atau sudah lahir.
Tanpa sengaja, baju Aidin nyangkut di anting Shireen. Ia melepasnya pelan. Menyadari ada yang sedikit aneh dengan perhiasan bocah itu. Kemudian memeriksa gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa Shireen pakai emas murah, Kak?" Bukankah kemarin aku sudah beliin yang lebih bagus?" tanya Aidin menyelidik.
Keysa tersenyum mengingat seseorang yang memberikan benda itu. Menepati janji, memakaikan semuanya saat putrinya lahir.
"Itu semua pemberian Zahra. Mungkin harganya tak seberapa, tapi ketulusan dan keikhlasannya membuat benda itu menjadi berharga. Aku suka."
Mata Aidin berkaca-kaca. Setiap kenangan yang muncul pasti mencabik hatinya. Dulu ia tak pernah peduli pada wanita itu, hingga apapun yang akan dibeli harus menggunakan uangnya sendiri.
Mengusap lembut rambut Shireen yang bersandar di dada bidangnya. Sesekali mencium pipi gembul nya.
"Sekarang Shireen sama mama ya, om pergi dulu."
Hampir lima belas menit bersusah payah membujuk, akhirnya bocah itu mau kembali pada mamanya. Melepaskan Aidin dengan suka rela.
Aidin berlari menyusul keluarga yang sudah ada di mobil.
"Lama amat, Shireen gak mau lepas?" cetus Darren ketus. Cemburu dengan kedekatan Aidin dan putrinya yang melebihi dirinya.
"Biasa, seperti nya anakmu memang jatuh cinta padaku, Kak." Membanggakan dirinya yang merasa lebih tampan dari kakaknya.
Bu Lilian menoyor jidat putra bungsunya yang bicara ngawur.
Setiap kali datang ke rumah sakit, Aidin selalu ingat saat pertama kali ia mengetahui Zahra hamil, momen itu terpahat di otaknya dan sampai kapanpun akan menjadi kenangan indah sekaligus pahit. Pahit karena saat tahu fakta itu, justru kehilangan yang diterima hingga saat ini belum ada petunjuk apapun.
"Kira-kira papa mau operasi di mana?"
Darren menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit, memastikan Negara yang akan menjadi tempat tujuan pak Herman berobat.
"Kayaknya di Australia, papa punya kenalan dokter jantung di Sydney."
Darren menghela napas kasar. Menatap kedua orang tuanya dari pantulan cermin. Sayang sekali ia tak bisa menemani mereka pergi karena harus mengurus kantor.
"Aku percaya kamu bisa menjadi penyemangat untuk papa." Menepuk pundak Aidin, mempercayakan amanah besar itu pada sang adik.
"Ma, Pa. Aku ke ruangan dokter Alfa dulu. Nanti kalau sudah selesai mama hubungi aku," pamit Aidin yang tiba-tiba ingin berbicara dengan dokter itu tentang kehamilan Zahra.
Mereka berpisah diujung lorong dengan tujuan yang berbeda.
"Tuan Aidin mencari Nona Zahra?"
__ADS_1
Aidin mengangguk tanpa suara. Membenarkan pertanyaan dokter Alfa.
"Maaf, Tuan. Dia tidak pernah periksa di sini lagi," jelas dokter Alfa.
Hampir setiap minggu Aidin memang datang hanya untuk memastikan.
"Bukan dokter, aku hanya mau tanya saja." Aidin duduk di depan dokter Alfa, saling berhadapan.
"Kalau dari hasil pemeriksaan, kira-kira kapan prediksi Zahra melahirkan?"
Dokter Alfa kembali membuka data saat Zahra periksa. Menghitung usia kandungan wanita itu.
"Kalau menurut hitungan dari saya minggu-minggu ini, tapi kita sebagai tim dokter juga tidak bisa memastikan sepenuhnya, karena semua kehendak Allah. Kadang bisa maju, kadang juga bisa mundur. Ada juga yang prematur, tergantung kesehatan janin dan ibunya. Kalau mereka tidak memiliki riwayat penyakit apapun bisa normal."
Ya Allah, berikanlah kesehatan untuk istri dan anakku. Itulah doa yang selalu Aidin panjatkan setelah selesai menjalankan kewajibannya. Sekarang terucap dalam hati lagi.
"Apa Nona Zahra mempunyai riwayat penyakit?"
Aidin berpikir sejenak, teringat saat Zahra sering mengeluhkan sakit perut, dan kala itu bahkan ia sempat membaca keterangan yang menjelaskan bahwa istrinya memiliki penyakit asam lambung.
"Sepertinya Zahra memiliki penyakit asam lambung, Dok."
Wajah wanita itu mendadak redup lalu menundukkan kepalanya.
"Apa itu bahaya, Dok?" tanya Aidin lagi. Melihat perubahan wanita yang duduk di depannya membuatnya takut.
"Lumayan berbahaya."
Dada Aidin terasa sesak mendengar itu.
Kenapa baru tahu sekarang, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada bayi dan istrinya, apa dia bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.
"Karena itu, penyakit asam lambung pada ibu hamil sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan berlarut tanpa penanganan tepat, asam lambung naik bisa menyebabkan komplikasi pada kehamilan. Ada berbagai jenis komplikasi yang bisa muncul, diantaranya: Ulkus Esofagus."
Rasa bersalah itu kian mencuat, rasa takut kembali menyelimuti setelah mendengar pernyataan dokter. Meskipun begitu Aidin mencoba tetap yakin bahwa istri dan anaknya baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya.
"Saya permisi, Dok."
Aidin meninggalkan ruangan itu dengan membawa perasaan cemas, takut jika apa yang dikatakan dokter itu terjadi pada Zahra.
__ADS_1