Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
20 tahun yang lalu


__ADS_3

Darah Adinata mendidih melihat orang yang dicintai itu berada di pelukan pria lain. Kedua tangannya mengepal dan menghantam dinding yang ada di sampingnya. Rahangnya mengeras sempurna sebagai bukti kemarahan yang tak bisa ditahan lagi. 


Pria yang baru menikah tiga tahun dan dikaruniai satu anak berumur enam bulan itu tak bisa menahan emosinya yang membuncah memenuhi ubun-ubun. Ia menghampiri pria itu dan meninjunya dari arah samping hingga jatuh tersungkur.


Pria itu terbangun. Mengusap darah di sudut bibirnya, sedangkan sang wanita tertawa dan meracau. 


"Siapa kamu?" tanya pria itu menantang. 


Adinata tersenyum sinis. Matanya tak teralihkan dari wajah sang istri yang tampak pucat. 


"Aku suaminya." Menunjuk wanita yang beberapa saat dipeluknya. 


"Kamu suami Delia?" Pria itu mengulang ucapan Adinata. Seolah tak percaya dengan penuturannya. 


"Gak mungkin, dia itu pacarku. 


Delia yang samar-samar mendengar suara perdebatan itu hanya bisa menggeleng pelan. Memberi kode pada Adinata bahwa ucapan pria itu tidak benar. 


Bugh 


Adinata kembali menyerang disaat pria itu lengah. Menghajarnya habis-habisan sampai babak belur. 


"Jangan berani-berani kamu menyentuh istriku! Dasar laki-laki pengecut."


Memberikan pukulan terakhir yang membuat pria itu tak sadarkan diri. 


Beberapa orang datang melerai pertikaian itu. Namun, mereka terlambat karena Adinata sudah memenangkannya. 


Adinata mencoba menahan dadanya yang menguap. Jijik melihat tanda merah yang bertebaran di leher Delia. Namun, ia tak bisa membiarkan wanita itu di klub sendirian. 


"Ayo kita pulang!" ucapnya dengan nada datar. Menyeret tangan Delia dengan paksa. 


Tak peduli dengan rintihan wanita itu yang mengatakan sakit, Adinata terus menariknya paksa dan memasukkannya ke mobil. 


"Berani-beraninya kamu mengkhianatiku, Del." Memukul setirnya berulang kali. Menatap wajah istrinya dari pantulan spion. Jika bukan karena teringat putrinya di rumah, ia pasti sudah tak peduli dengan wanita itu. 


Sesampainya, Adinata hanya menurunkan Delia yang sudah mulai sadar sepenuhnya. Wanita itu bisa melihat amarah di wajah Adinata. 


Menepuk-nepuk kepalanya yang masih terasa pusing. "Aku ada di mana, Mas?" tanya nya duduk bersimpuh. Mendongakkan ke atas, menatap Adinata yang berdiri di depannya. 


"Masuk!" ucap Adinata datar dan meninggalkan Delia yang masih tak tahu apa-apa. 


Terpaksa Delia berjalan terseyok-seyok demi bisa masuk ke rumahnya. Ia langsung berjalan ke arah kamar. Sebelum tiba, langkahnya berhenti saat tangannya dicengkal dari arah samping. 

__ADS_1


"Ikut aku!" Ternyata itu adalah Adinata yang menggandeng tangannya menuju belakang. 


"Masuk!" Adinata menyuruh Delia masuk ke kamar mandi belakang. Itu adalah kamar mandi pembantu. 


"Ada apa ini, Mas?" Masih tak mengerti dengan tujuan Adinata. Akan tetapi, Delia tetap menuruti permintaan pria tersebut. 


Tanpa aba-aba Adinata menyiram tubuh Delia dengan air dingin. 


"Masih bertanya kenapa?" teriaknya, mencengkram dagu Delia dengan kasar, menampar nya berulang kali hingga wanita itu meringis. 


"Aku benar-benar gak tau, Mas," ucapnya tersendat, menahan air matanya untuk tidak luruh, namun rasa sakit di pipi dan hati yang diciptakan Adinata memaksa cairan bening terus saja mengalir. 


"Apa yang kamu lakukan di tempat tadi?" tanya Adinata menekankan. Benar-benar ingin sebuah penjelasan dari mulut Delia. 


Delia terdiam, mengingat-ingat terakhir kali ia berada. 


"Aku belanja di mall," jawabnya lirih. 


"Jangan bohong!" Adinata semakin murka dan menjambak rambut Delia. 


"Apa yang kamu lakukan di klub, hah? Jelas-jelas dia mengakui kamu sebagai pacarnya."


Delia menggeleng, ia tak merasa datang ke klub seperti yang diucapkan suaminya. 


Byuuurrrr


Adinata kembali menyiram Delia hingga rasa dingin menembus tulang. Kemudian  membawa wanita itu keluar. 


Beberapa pembantu hanya bisa menyaksikan di balik lemari. Mereka tidak berani menolong majikannya yang sudah kedinginan. 


"Pergi dari sini!" Mendorong tubuh Delia hingga ke teras. 


Delia tak tinggal diam. Ia merangkak mendekati Adinata. Menangkup kedua tangannya memohon. 


"Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa, Mas. Percayalah padaku!" Kembali mengucap serius. 


Namun, apa yang Adinata lihat sudah membuktikan semuanya hingga sedikitpun tidak ada rasa percaya. Apalagi sebelumnya ia sudah mendapat kabar tentang keburukan Delia, dan itu sudah cukup memperjelas semuanya. 


"Kamu pikir aku bisa percaya begitu saja. Sekarang kamu pergi dari sini, atau aku __" Adinata menghentikan ucapannya. Lalu masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan tangisan Delia yang bersujud di kakinya. 


Tak berselang lama pria itu keluar dengan bayi mungil di tangannya. 


"Bawa anakmu." Meletakkan bayi itu di pangkuan Delia yang basah kuyup. 

__ADS_1


Bayi kecil yang terlelap itu menggeliat, wajahnya teduh kembali membuat Delia menangis dan meminta belas kasihan pada Adinata. 


Ke mana aku membawa bayiku? Tidak mungkin aku mengajaknya di luar malam malam begini? Begitulah pikirnya. 


Demi putrinya Delia rela bersujud di kaki Adinata. 


Namun, sepertinya pria itu sudah tak peduli lagi dan tetap tak memberi kesempatan pada Delia untuk masuk. 


"Aku talak kamu, dan mulai malam ini kamu bukan istriku lagi. Dasar pela cur. Enyah kamu dari dunia ini." Menutup pintunya. 


Terpaksa Delia membawa putrinya pergi dari rumah itu. Kakinya mengayun pelan, selain menahan dingin, ia juga tak tahu kemana tujuannya pergi. 


Berhenti di bawah pohon saat putri kecilnya menangis. 


"Sssstttt, tenanglah, Sayang. Mama di sini." Mengusap air matanya. 


Mencoba untuk kuat demi anaknya. 


Setelah bayinya kembali terlelap, Delia mengingat-ingat semua ucapan Adinata yang seolah-olah menuduhnya menjadi wanita malam. 


"Pasti ada orang yang mau menjebakku. Tidak mungkin mas Adinata mengada-ada." 


Yakin jika apa yang terjadi adalah sebuah skenario yang sudah direncanakan. 


Ya, orang itu sudah berhasil menghancurkan keluarganya. Tapi Delia tak tinggal diam, bahkan ia langsung berencana untuk mencari tahu dalang dibalik semua itu. 


Ia kembali ke rumah Adinata. Mencium kedua pipi bayinya dengan lembut. 


"Maafkan mama ya, Nak. Tapi suatu saat nanti mama akan menjemputmu. Papamu lebih bisa membahagiakanmu daripada mama." 


"Zahra Aulia Adinata, Mama akan selalu berdoa semoga kamu menjadi perempuan sholehah yang disayangi semua orang." 


Meletakkan bayinya lagi di depan pintu. 


Meskipun hatinya berat, ia tetap meninggalkan bayi itu demi misinya.


Air matanya tumpah mengiringi langkahnya yang mulai menjauh. Dari lubuk hati terdalam ingin terus bersama putrinya, namun keadaan memaksa untuk meninggalkannya. 


Suara tangis menggema membuat Adinata kembali membuka pintu. Betapa terkejutnya melihat bayinya itu ada di bawah.


Mengedarkan pandangannya ke arah kegelapan. Tidak ada siapapun, Delia pun sepertinya sudah pergi dari tempat itu.


Menatap lekat bayi nya.

__ADS_1


Kamu memang putriku, tapi ibumu sudah menghianatiku, jadi jangan harap kelak aku akan menyayangimu sepenuhnya.


__ADS_2