Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Akhir cerita


__ADS_3

Mengajak kedua putrinya jalan-jalan ke taman yang ada di dekat rumah sudah menjadi aktivitas Aidin di pagi hari. Menggendong Zea dan mendorong stroller sesekali menceritakan pada mereka tentang pemandangan di sana. Ia mengabadikan setiap momen penting yang terjadi dalam hidupnya. 


Kehadiran Zea dan Zada tak hanya membuat hubungannya dengan Zahra semakin erat, namun juga memberi warna tersendiri. 


Apakah Aidin ingin memiliki anak laki-laki? Jawabannya tentu, tidak. Ia sudah bersyukur dan tidak akan menuntut Zahra untuk memiliki anak, sebab rezeki tak bisa ditolak juga tak bisa diminta.


Ia duduk di bangku yang ada di tengah taman. Menurunkan Zea, membiarkannya berlarian. Menyanyikan lagu anak yang dihafalkan kemarin sore. Rasanya begitu indah saat melihat tumbuh kembang mereka. 


Seorang wanita datang mendekati Zea dan meminta foto, dia adalah tetangga Aidin. Meskipun tak mengenal dekat, mereka sering lihat saat keluar dari rumah masing-masing. 


Zahra yang ada di balik gerbang hanya bisa memanyunkan bibirnya melihat suaminya kecentilan dan senyum-senyum pada wanita lain. 


Awas saja kalau pulang, aku pastikan kamu akan tidur di luar. Masuk ke dalam. Matanya sakit melihat aksi tetangganya yang sok dekat itu. 


Setelah mendapat telepon dari istri tercinta, Aidin segera pulang. Ia tak mau wanita itu marah karena terlalu lambat. 


Ada apa ya? Begitulah hatinya bertanya. Tak biasanya Zahra memintanya pulang, dan dilihat dari pesan teks yang singkat sepertinya wanita itu sedang marah. 


"Sayang, aku pulang." 


Mbak Lela mengambil Zada dan Zea sekaligus, sedangkan Aidin langsung masuk ke kamar mencari seseorang yang sudah menyuruhnya pulang. 


"Ada apa, Sayang?" tanya Aidin sembari melepas baju lalu duduk di samping Zahra. 


Zahra membisu, sedikitpun tak ingin melihat Aidin yang percaya diri memamerkan tubuh atletisnya. 


"Kok diam sih? Katakan dong!" Tanpa meminta izin, Aidin mencium pipi Zahra dengan lembut dan lama. 


"Tadi kamu selfi-selfi dengan siapa?" tanya Zahra ketus. Ia sudah tak bisa membendung amarahnya lagi saat melihat suaminya itu dekat dengan wanita lain. 


"Oh, itu, kalau gak salah namanya Maya," papar Aidin dengan jelas.


Astagfirullah, ternyata mas Aidin juga tahu namanya. 


Zahra semakin kesal dan tak bisa menahan dadanya yang hampir meledak. Menatap Aidin dengan tatapan tajam. 


"Sejak kapan kamu berhubungan dengan dia?" pekik Zahra menahan air matanya yang menumpuk di pelupuk. 


"Maksud kamu apa?" Aidin semakin tak mengerti. 

__ADS_1


"Katakan sejujurnya. Sebenarnya selain mengajak anak main, apa tujuanmu ke taman?" tanya Zahra menyudutkan. 


Aidin mencoba untuk memeluk Zahra, namun wanita itu terus menepis tangannya dan menghindar. 


"Aku gak ada tujuan apa-apa. Aku hanya mengajak mereka main, itu saja," jawab Aidin meyakinkan, sedikitpun tak ada niat lain selain itu. 


"Tapi tadi aku lihat kamu foto sama wanita yang namanya mayang atau siapa itu." Bibirnya terlalu kaku untuk menyebut nama wanita asing.


Aidin tersenyum, ia bisa melihat guratan cemburu di wajah Sang istri. Itu artinya, kini ia tak hanya mencintai, namun juga dicintai. Setelah sekian lama akhirnya ia tahu isi hati Zahra, walaupun wanita itu tak mengungkapkan dengan kata-kata, Aidin yakin bahwa itu adalah tanda cinta. 


Aidin meraih tangan Zahra dan menempelkan di dadanya yang bidang. 


"Dia cuma foto dengan anak kita, bukan aku," jelas Aidin. 


Percaya ataupun tidak, itulah yang sebenarnya terjadi. 


"Yakin?" Zahra mengangkat jari kelingkingnya. 


Aidin menautkan kelingkingnya dan mengangguk. 


"Ada kabar terbaru dari Agha." Aidin mengalihkan pembicaraan. 


"Ternyata Rima itu sahabat adiknya dia, dan mereka sudah kenal dekat." 


Aidin juga menceritakan kejadian di restoran, mendorong Agha dan Rima untuk bersatu. 


Bukan tanpa alasan, karena ia tak melihat cinta dari Richard untuk Rima. 


Aidin tak ingin kejadian yang lalu terulang lagi. Menikah dengan orang yang tidak dicintai itu sangat menyakitkan, dan itu tidak boleh terjadi pada adik-adiknya nanti. 


"Aku percaya kamu pasti akan memberikan yang terbaik untuk adikku." Mengusap rahang kokoh Aidin. 


Kini Zahra sudah yakin menyerahkan hidupnya pada Aidin. Meskipun banyak yang lebih baik. Tetap suaminya adalah pria yang dipilih Allah untuk menemani hidupnya. 


Sudah cukup penderitaannya selama ini, dan kini ia menuai apa yang ditanam. 


"Tidak hanya pada adik-adik. Aku akan memberikan yang terbaik untuk kamu dan anak kita." Aidin mencium kening Zahra. Ternyata rasa cemburu tadi semakin menguatkan hubungan mereka. 


Wajah cantik Cherly sudah terpampang jelas saat Zahra menerima video call dari Delia. Meskipun hanya lewat telepon genggam, mereka bisa saling sapa lebih leluasa.

__ADS_1


"Cucu mama mana?" Delia menanyakan cucunya yang imut dan menggemaskan.


Aidin segera keluar dan membawa kedua putri cantiknya masuk demi bisa dilihat oleh sang mertua.


Zea melambaikan tangannya ke arah layar ponsel. Matanya tak teralihkan dari wajahnya sendiri yang terpampang lebih besar dari pada Delia.


"Zea, oma punya sesuatu untuk kamu, Nak." Delia menunjukkan boneka besar yang ada di belakangnya. Saat ini mereka ada di mall. Tak hanya Delia dan Cherly, namun juga Richard yang sesekali terlihat punggungnya.


"Cepat pulang, Ma. Kasihan papa James, pasti dia kedinginan," goda Zahra.


"Kata siapa?" Delia menggeser layar ponselnya ke samping. Terpampang jelas wajah ayah tiri Zahra ada di sana. Itu artinya pria itu juga pergi ke Swiss.


"Ya sudah, pokoknya cepat pulang," pinta Zahra penuh harap.


Delia mengangkat jempol, karena jadwal keberangkatannya untuk pulang pun sudah di atur.


Menutup teleponnya dan melemparkan ke sembarang arah. Aidin membawa kedua putrinya keluar karena mereka waktunya mandi.


Zahra memeluk Aidin layaknya orang berdansa.


"Aku ingin mendengar sebuah kata romantis darimu, Mas." Zahra menyandarkan kepalanya di dada Aidin. Entah, pagi ini ia ingin dimanja, meskipun setiap hari sudah diperlakukan spesial, tapi pagi ini ingin yang lebih daripada istimewa.


Aidin memutar otak. Ia bukan pria yang pandai merangkai kata indah, namun karena itu adalah sebuah permintaan dari Zahra, ia mencoba untuk membuatnya.


Semoga ini tidak terlalu konyol.


Berdehem dulu sebelum mengucap kata mutiara seperti yang diinginkan Zahra.


"Terima kasih karena kamu selalu memberikan yang terbaik untuk membahagiakanku dan anak-anak kita. Kamu bagian dari diriku yang selalu aku butuhkan. Istriku, ketika kamu mencintaiku, maka cintailah aku apa adanya."


Air mata Zahra lolos begitu saja. Ia menjinjit mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aidin. Memberikan hadiah ciuman karena pria itu sudah berhasil membuatnya tersentuh.


Zahra memaafkan semua kesalahan Aidin, karena manusia tidak berhak mengadili. Hanya Allah lah yang memiliki sifat Adil


Selesai


Jangan lupa baca yang ini besok mulai Update setiap hari.


Terima kasih dan salam sehat selalu

__ADS_1



__ADS_2