
Richard datang ke rumah Delia atas perintah wanita itu. Ia masuk, meminta pembantu untuk mengantarkannya ke kamar Cherly.
"Biasanya jam segini Cherly sudah bangun apa belum ya, Bi?" tanya Richard lagi. Ini pertama kalinya ia akan datang ke kamar seorang gadis.
"Sudah, Tuan," jawab bibi yang terus mengayunkan kakinya menaiki anak tangga.
Setelah tiba di depan kamar Cherly, Richard mengetuk pintu, namun tetap ditemani pelayan.
Satu kali ketukan tak ada balasan hingga Richard kembali mengulanginya lagi.
"Ngapain sih dia, lama banget," gerutu Richard dalam hati dan kembali mengetuk pintunya lagi.
Ceklek
Pintu terbuka lebar
Richard dan Cherly saling tatap.
"Kak Richard?" sapa Cherly terkejut.
Richard terdiam, matanya tak teralihkan dari wajah cantik gadis itu. Bahkan, matanya pun lupa untuk berkedip.
"Kakak gak papa?" Cherly melambaikan tangannya di depan wajah Richard yang membuyarkan lamunan pria itu.
Richard tersenyum malu. Baru kali ini ia bingung dengan hatinya sendiri. Entah, setiap kali berada didekat Cherly dadanya selalu berdebar-debar.
"Aku cuma mau bilang kalau keberangkatanmu ditunda," ucap Richard seperti yang diucapkan Delia.
"Apa? ditunda?" Cherly mengulangi ucapan Richard, tak percaya.
"Iya, tadi malam Nona Zahra melahirkan, dan Tuan Aidin tidak bisa mengantarkanmu."
Senyum merekah menghiasi bibir Cherly. Bukan hanya karena kabar Zahra melahirkan, akan tetapi ia masih bisa melihat Richard walaupun hanya sebentar.
"Sekarang kak Zahra di mana, Kak? Aku mau lihat keponakanku." Menggoyang-goyangkan lengan kekar Richard.
"Di rumah sakit. Memang tujuanku ke sini mau menjemputmu." Tubuh Richard bergerak mengikuti tangan Cherly.
"Sebentar, aku ganti baju dulu." Tanpa menutup pintu, Cherly masuk ke dalam.
Dasar bocil.
Richard memilih turun dan menunggu di bawah. Tak mau berlebihan, takut menimbulkan masalah yang tak diinginkan. Meskipun diberi wewenang untuk menjemput, bukan berarti bisa bebas melakukan apa saja yang ia mau.
Setelah dari rumah Delia, Richard pun melanjutkan tujuannya, yaitu ke rumah Adinata untuk menjemput Zea dan adik-adik Zahra yang lainnya. Kini tugasnya merangkap menjadi sekretaris sekaligus sopir di keluarga besar Aidin.
__ADS_1
Tak seperti di rumah Delia yang harus menunggu Cherly dandan, ternyata ketiga adik Zahra dan juga Zea sudah menunggu di depan.
Cherly yang duduk di depan menatap Rima dari kaca spion.
"Bagaimana keadaan kak Zahra, Kak?" tanya Rima mengawali pembicaraan. Tutur sapanya lebih lembut daripada Cherly.
"Alhamdulillah, semua baik-baik saja, Nona kecil juga baik, kok. Terima kasih karena semalam kamu sudah menelponku."
Richard melirik sekilas ke arah Rima kemudian melajukan mobilnya.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu hingga mobil Richard tiba di depan rumah sakit.
"Sini! Biar aku yang gendong Zea.
Richard menggendong Zea. Menggiring mereka masuk ke dalam. Sedikit malu dilihat beberapa suster yang nampak menertawakan nya.
Aku sudah seperti bapak-bapak saja. Padahal belum punya istri, gumamnya dalam hati.
Kehadiran Cherly dan yang lain menambah suasana ruangan semakin ramai. Cherly yang paling centil di antara semua nya selalu membuka topik baru yang mengundang gelak tawa.
"Zea, adiknya untuk onty ya?" goda Cherly memeluk Zada.
Bocah bayi yang berumur hampir satu tahun itu mengangguk, matanya tak teralihkan dari wajah imut sang adik.
"Kebetulan sekali, nanti ulang tahun Zea bertepatan tujuh hari Zada, dan kita akan mengadakan syukuran besar-besaran," ucap Aidin di tengah keluarga.
Zahra meraih tangan Aidin yang hampir pergi. Dari tadi ia ingin sekali mengatakan sesuatu, namun karena ada yang lain, ia urungkan, dan ini mungkin saatnya waktu yang tepat untuk itu, karena semua orang keluar.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Aidin mengusap kening Zahra. Mendekatkan wajahnya hingga keduanya saling merasakan hembusan napas lawan.
"Jangan tinggalin aku," pinta Zahra memelas. Mengusap rahang kokoh sang suami yang sangat dekat dengan pipinya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
Aidin merangkul pundak Zahra dan membawa ke pelukannya. "Aku tidak akan pernah ninggalin kamu. Sampai kapanpun kita akan selalu bersama." Aidin kembali mencium pucuk Zahra dengan lembut.
"Aku takut kamu kecewa padaku," ucap Zahra lagi.
"Kecewa karena apa?" tanya Aidin antusias.
Ingin mendengar penjelasan Zahra.
"Karena anak kita perempuan lagi."
Aidin tertawa. Menyatukan keningnya hingga keduanya saling menatap.
__ADS_1
"Perempuan atau laki-laki itu sama saja. Mereka sama-sama ciptaan Allah. Jadi jangan bicara macam-macam, hmmm."
Zahra mengangguk. Mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.
Richard yang hampir masuk terpaksa mengurungkan niatnya. Ia berjalan mundur, namun langkahnya berhenti saat kakinya menginjak sesuatu.
Aawww
Suara rintihan itu membuat Zahra dan Aidin menoleh. Mereka menatap punggung Richard yang berjongkok dan juga Cherly yang membungkuk.
"Maaf, aku tadi gak lihat," ucap Richard meniup kaki Cherly yang memerah.
Cherly mencoba untuk menarik kakinya, namun usahanya sia-sia karena Richard memegangnya kuat-kuat.
"Gak papa, Kak. Aku yang salah." Merasa terhuyung, Cherly menarik pundak Richard, ia tak mau jatuh dan lebih memalukan lagi.
Sekarang saja wajahnya sudah merona karena perlakuan Richard, apalagi saat jatuh nanti, pasti akan lebih memalukan.
Memegang dadanya yang terasa nyut-nyutan. Detakan jantungnya mulai berirama lebih cepat, seolah-olah ada sesuatu yang memompanya.
"Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?"
Cherly kembali menepis perasaan itu. Bagaimanapun juga sebentar lagi ia akan pergi ke Swiss, lagipula ucapan Adinata masih terngiang-ngiang dan buktinya Richard juga tak menolaknya. Itulah yang membuatnya tak begitu mengharapkan pria itu lagi.
"Gak papa, Dek?" tanya Zahra dari arah ranjang. Masih saling berpelukan. Memamerkan kemesraan di depan adik dan sekretarisnya.
"Gak papa sih, Kak. Tapi sakit."
Richard hanya menahan tawa lalu berdiri. Saling tatap lagi, tenggelam adalah pikiran masing-masing, entah apa yang ada di otak Cherly, tapi Richard yakin gadis itu memikirkan dirinya.
"Lain kali jangan seperti hantu, tiba-tiba nongol di belakang," cetus Richard lebih berani menggoda.
Cherly hanya tersenyum sambil nyengir saat Richard mengusap kepalanya yang dibalut hijab berwarna pastel.
"Minggu depan kakak mau mengadakan pesta untuk Zea dan Zada. Apa kamu mau pergi juga?" Zahra bangun dengan bantuan Aidin. Kakinya menjulur lurus, mengikuti saran Delia.
"Aku nungguin pesta itu, baru bisa pergi dengan tenang."
Aidin mundur satu langkah. Berdiri di samping Richard memberi ruang Zahra dan Cherly untuk bisa lebih leluasa berbicara.
Lebih mendekatkan wajahnya pada sang sekretaris seperti seseorang yang hendak mencium
Namun, Richard tahu itu tidak mungkin hingga ia tetap tenang.
"Kawinin saja biar gak jadi pergi," bisiknya kemudian.
__ADS_1
Richard hanya bisa diam. Tidak terlalu menanggapi ucapan absurd bos nya yang terdengar konyol.