
"Kalau lama-lama seperti ini, aku beneran gila." Aidin menjambak rambutnya, frustasi. Bertemu dengan Cherly pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Padahal, sudah jelas gadis itu tinggal di rumah mewah mertuanya, tapi juga sulit ditemui, apalagi dengan Zahra yang belum tentu tinggal di sana.
Sungguh, ia kelimpungan dan tak bisa tenang, berharap mendapatkan titik terang sebelum pergi mengantar pak Herman ke Australia, namun nyatanya itu seperti jauh digapai. Seolah-olah ujiannya masih sangat panjang dan berliku.
Ponsel yang ada di saku celananya berdering membuyarkan lamunan Aidin. Ternyata Darren yang menghubunginya.
"Ada apa, Kak?" tanya Aidin, matanya tak teralihkan dari pintu rumah Delia.
"Kamu di mana? Papa sudah siap?" Darren semakin geram dengan Aidin yang selalu menghilang saat dibutuhkan. Bahkan beberapa malam ini tak pulang ke rumah.
"Iya, aku akan segera pulang." Memukul setirnya. Ternyata dewi keberuntungan belum memihak padanya hingga pulang dengan membawa hati yang hampa.
"Aku tidak akan menyerah. Sampai kapanpun akan tetap mencarimu." Melajukan mobilnya menuju rumah.
Delia yang dari tadi mengintip di balik jendela itupun menutup gorden. "Akhirnya kau menyerah juga."
Seperti yang dikatakan Darren, Pak Herman dan Bu Lilian sudah siap berangkat. Aidin bergegas ke kamar menyambar jaket yang sudah di siapkan juga koper. Tak lupa membawa foto Zahra yang selama ini mengantarnya tidur.
"Semoga pulang dari Australia aku bisa menemukanmu." Mengecup foto sang istri. Kemudian memasukkannya ke dalam saku.
"Memangnya kamu dari mana saja tiga hari ini gak pernah pulang? Berjaga di rumah tante Delia?" Darren melayangkan pertanyaan yang bertubi-tubi namun hanya mendapat satu jawaban, iya. Dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
"Apa sudah ada tanda-tanda tentang keberadaan Zahra?" Bu Lilian ikut menyahut.
Aidin menggeleng, ia menceritakan pertemuan singkatnya dengan Cherly, gadis yang sempat menyebut nama Zahra.
"Apa mungkin itu anak tante Delia?"
Aidin menggeleng lagi, ia pun belum tahu tentang status gadis itu. Ada kemiripan di antara mereka walaupun hanya hidungnya saja.
Tak terasa mobil yang dikemudi Darren tiba di bandara internasional. Berat hati mereka harus berpisah untuk sementara waktu demi kesembuhan pak Herman.
"Jaga mama dan papa dengan baik." Merangkul sang adik sebelum mereka pergi.
"Aku pasti akan merindukan putrimu, Kak. Nanti kalau dia nangis, katakan om nya akan segera pulang." Disaat yang lain bersedih akan pergi jauh, justru Aidin kecentilan menggoda sang kakak.
__ADS_1
Darren memukul lengan Aidin dengan pelan. Lalu melambaikan tangannya ke arah keluarganya yang berjalan semakin menjauh.
Perjalanan yang cukup melelahkan. Setibanya di kota Sydney, Aidin dan kedua orang tuanya langsung ke hotel. Mereka beristirahat sebelum ke rumah sakit. Sebab, sebelumnya sudah membuat janji untuk bisa langsung bertemu dengan dokter Gilbert.
Setelah sekian lama terhanyut dengan masalah Zahra yang tak kunjung usai, kini Aidin kembali dihadapkan dengan masalah baru, yaitu pak Herman yang akan menjalani operasi besar.
Mengusir rasa was-was yang menyeruak. Yakin jika papanya akan segera sembuh dan bisa normal seperti dulu kala.
"Papa jangan takut, ada aku dan mama yang akan bersama papa." Aidin kembali menenangkan pak Herman yang sedikit pucat. Seperti menahan takut yang sering diutarakan.
Membuka pintu kamar. Membantu pelayan meletakkan barang bawaannya sebelum masuk ke kamarnya.
Aidin menghempaskan tubuhnya di tempat pembaringan, meskipun raganya ada di luar negeri, otaknya kembali mengingat sosok Cherly yang sepertinya tahu tentang Zahra.
"Kira-kira apa saja yang diceritakan Zahra pada Cherly? Apa dia membongkar keburukanku pada gadis itu?" Menatap langit-langit kamar. Seandainya itu benar adanya, ia pun tidak mempermasalahkannya.
Di manapan kau berada, semoga tetap dalam perlindungan Allah.
Tok tok tok
Pintu diketuk dari luar membuat Aidin membuka matanya yang beberapa saat terpejam. Ia segera membukanya.
"Siapa yang memesan?" Aidin tetap menerimanya.
"Nyonya Lilian."
Ternyata mama.
Melirik kamar Pak Herman yang tertutup rapat.
"Terima kasih."
Aidin menutup pintunya lagi. Meletakkan makanannya di meja. Tak langsung melahap nya malah keluar.
Mengelilingi area hotel, mencari pemandangan yang bisa menyejukkan. Setidak nya membuatnya sejenak lupa dengan masalah yang membelit.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Seorang pelayan hotel menghampiri Aidin yang duduk di taman.
"Tidak, terima kasih." Mencoba menghindari pandangan setiap wanita yang dekat dengannya.
Nampak dari jauh dua orang wanita berhijab berjalan beriringan. Meskipun hanya terlihat punggungnya, wanita itu mengingatkan pada Zahra yang juga sering memakai gamis warna hitam. Samar-samar salah satu dari mereka seperti memegang perutnya.
"Aku akan merasa bangga jika bisa mempertahankan kamu, dan pasti kamu malu memiliki suami sepertiku. Tapi aku tidak sanggup jika kita harus berpisah seperti ini."
Hati kecil Aidin menangis setiap teringat dengan masa lalu nya. Kebodohan yang pernah dilakukan seolah senjata yang bisa membuatnya menciut untuk bersanding dengan Zahra.
Aidin beranjak, sudah cukup renungannya malam ini dan ingin kembali ke kamar, namun langkahnya harus berhenti saat ada seseorang menabraknya dari arah berlawanan.
"Maaf, Tuan. Saya buru-buru." Pria itu berjongkok mengambil ponsel Aidin yang terjatuh. Melihat layar ponsel yang masih hidup, kemudian mendongak menatap Aidin yang terpaku.
Kak Aidin.
Wajahnya mendadak panik dengan alis berkerut. Ia tak salah lihat, pria yang baru saja ditabrak itu benar-benar Aidin. Takut akan sesuatu, ia menyerahkan ponsel itu dan berlari.
"Tuan tunggu!" Seorang resepsionis berteriak memanggil pria tadi yang sudah melajukan mobilnya.
Aidin mematung di tempat. Memutar tubuhnya melihat resepsionis yang tak berhasil mengejar pria tadi.
Wanita itu justru menghampiri Aidin yang masih terdiam. "Apa Tuan mengenal orang tadi?" tanya pelayan itu pada Aidin.
Aidin menggeleng tanpa suara. Menatap sebuah dompet yang ada di tangan wanita itu.
"Memangnya ada apa?" tanya Aidin antusias.
Tadi saat membersihkan kamar saudaranya, kami menemukan ini." Menyodorkan dompet di tangannya. Tak asing di mata Aidin, tapi ia lupa milik siapa.
"Saya lihat dulu, siapa tahu saya mengenalnya." Aidin mengambil alih dompet itu lalu membukanya dengan pelan.
Betapa terkejutnya saat melihat foto yang terpampang jelas di bagian depan. Seakan tak percaya namun itu nyata, kedua tangannya bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya kelu dan tak sanggup mengucap.
Zahra, ini dompet Zahra.
__ADS_1
Hanya mengucap dalam hati.
Menutupnya lagi. Kini ia sudah mulai teringat semuanya. Benda yang ada di tangannya adalah yang sering ia lihat di nakas kamarnya. Dompet yang seharusnya setiap hari diisi dengan uang, namun dibiarkan kosong begitu saja.